Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Malam Pertama


__ADS_3

Shazia dan David telah tiba di rumah. Saat itu Shazia merasa ada yang beda karena tidak menemukan satu pelayan berlalu lalang. Padahal belum juga terlalu malam. Hanya ada beberapa pengawal yang bertugas berjaga malam. Namun, Shazia tidak mau terlalu memikirkannya. Kedua matanya sudah ngantuk dan ia sangat lelah. Shazia ingin segera mengganti gaun malamnya dengan baju tidur sebelum berbaring di atas ranjang.


Sejak keluar dari mobil hingga detik ini, tangan Shazia masih ada di genggaman David. Pria itu tidak mau melepas tangan Shazia apa lagi membiarkannya menjauh 1 meter saja. Mereka masuk ke dalam lift agar bisa lebih cepat tiba di lantai atas.


David memandang wajah Shazia dan tersenyum bahagia. Semua masih mimpi. Kini istrinya itu akan selalu ada di sisinya. David bertekad akan menjaga Shazia dan membuat wanita itu selalu bahagia menjalani hari-harinya.


"Apa kau lelah?" tanya David lembut.


Shazia tersenyum dan mengangguk. Ia memegang tangan David yang menyentuh wajahnya dan mengusapnya pelan. Shazia sudah malas banyak bicara. Ia ingin menjawab pertanyaan suaminya dengan ekspresi saja.


David membuka pintu kamar dengan sedikit ragu. Walau ini bukan malam pertama mereka tidur di satu ranjang yang sama. Tapi tetap saja ada rasa grogi. Begitu juga dengan Shazia.


Saat David menutup pintu dan menguncinya, Shazia berjalan cepat menuju ruang ganti. Ia ingin segera membersihkan tubuhnya.


David berjalan ke arah sofa ketika Shazia menghilang di balik pintu. Ia masih memberi privasi kepada Shazia karena tidak mau terlalu memaksanya. Baru saja David duduk, tiba-tiba Shazia berteriak dari dalam walk in closet.


"David, apa kau bisa membantuku?" teriaknya sekali saja. Namun, secepat kilat David sudah berada di sisi Shazia. Ia takut Shazia kenapa-kenapa.


"Ada apa Shazia?" tanya David sambil memeriksa keadaan di sana.


Dari cermin Shazia tersenyum. "Bukakan tali dan resletingnya," pinta Shazia sambil menunjuk bagian mana yang harus di buka David.


David menghela napas lega karena tidak ada bahaya. Pria itu segera mendekat dan membuka satu persatu tali yang ada.

__ADS_1


Shazia tersenyum lagi. David melirik melalui cermin untuk melihat senyum Shazia. Hatinya terasa sangat nyaman. "Kau sangat cantik, Shazia," puji David lembut.


Shazia mengeryitkan dahi. Ia berbalik dan memandang wajah David ketika resleting dan talinya telah terbuka sempurna.


"Benarkah?" tanya Shazia dengan mata sengaja disipitkan.


Kali ini tatapan Shazia benar-benar menggoda. David tidak lagi bisa menahan dirinya. Secara perlahan ia mengangkat tangannya dan memegang dagu Shazia. David ingin mencium bibir manis itu dan menikmatinya untuk beberapa saat.


Shazia hanya diam dan menurut saja. Ia sudah pasrah dan merelakan seluruh tubuhnya untuk sang suami. Kedua matanya terpejam menanti bibir David tiba di bibirnya.


Hal yang pertama kali dirasakan Shazia adalah dingin. Bibir David memang terasa sangat dingin. Shazia tahu, suaminya itu lagi-lagi grogi. Untuk membuat David lebih tenang, Shazia mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang David. Ia mulai membalas ciuman manis suaminya.


Ciuman David memang sangat luar biasa. Pria itu tidak lagi segan-segan melakukan apa yang ia inginkan ketika sang istri membalasnya. David memangut bibir Shazia dan menikmati kemanisan yang ada di sana.


"Aku membutuhkanmu, Shazia!"


Shazia bisa tahu kalau memang kini suaminya itu sangat bergairah. Ia tidak tega untuk menolaknya walau sebenarnya Shazia sendiri deg deg an dan tidak tahu harus bagaimana. Ini akan menjadi hal terintim pertama yang pernah ia lakukan dengan seorang pria. Tapi, semua telah diputuskan. Shazia ingin menjadi istri yang baik dan milik David seutuhnya. Menolak di saat seperti ini hanya akan membuat David kecewa.


Saat Shazia hanya diam tanpa jawaban, David justru kembali mengucapkan satu kalimat. "Aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap."


Shazia semakin tersentuh dengan kesopanan suaminya. Hingga akhirnya ia menggeleng dan menyentuh pipi David dengan lembut. Kali ini Shazia yang mendekat dan mendaratkan ciuman manis di bibir David. Hal itu membuat David bahagia luar biasa hingga ia tidak tahu harus berkata apa lagi. David kembali membalas ciuman itu dan mulai menuruni gaun hitam sang istri hingga terhenti di pinggang.


Shazia sendiri hanya memejamkan mata karena wajahnya kini mulai memerah karena malu. David yang melihat hal itu segera memeluk Shazia dan melepas seluruh gaunnya. Ia membawa Shazia menuju ke ranjang tanpa mau melepas ciumannya yang semakin panas.

__ADS_1


.


.


.


Kalian berharap adegannya gimana? Author gak bisa mikir. Ydalah pokoknya mereka gitu ya.😩


.


.


.


Mereka berbaring dalam diam ketika milik David telah masuk sepenuhnya. Ia tertegun melihat air mata yang menetes di sudut mata Shazia. Ia menghapusnya dengan lembut. David tahu penyatuan pertama mereka pasti memberikan efek rasa sakit. Tapi, David tidak bisa berhenti tadi. Ia harus melakukannya untuk memiliki istrinya sepenuhnya.


"Maafkan aku, Shazia," ucap David pelan.


Shazia menggeleng. "Tidak, David. Kau hal terindah yang aku miliki saat ini. Aku menangis karena terlalu bahagia. Berikan aku anak yang menggemaskan David. Aku ingin hidup kita sempurna karena ada bayi mungil yang lahir dari rahimku," pinta Shazia lembut.


David tersenyum tenang. Ia kembali mengecup bibir Shazia dan menggerakkan tubuhnya. Malam itu mereka lalui dengan kelembutan walau rasa cinta dari Shazia masih belum jelas. Walau begitu David merasa sangat yakin kalau suatu saat nanti ia bisa membuat Shazia bisa jatuh cinta padanya.


Yeeee... malam pertama. 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2