Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Bahagia David


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


David terlihat gelisah. Kedua matanya tidak lagi bisa tidur karena pikirannya kini dipenuhi dengan adegan yang baru saja ia lewati bersama Shazia. Begitu juga dengan Shazia. Sambil memeluk selimut yang menutupi tubuh polosnya, wanita itu terus saja memandang ke arah lain tanpa mau memejamkan mata. Ia memiringkan tubuhnya membelakangi David. Tidak ada satu katapun yang terucap setelah mereka selesai melakukannya.


David duduk di atas tempat tidur dan memandang punggung Shazia yang tertutup selimut. "Shazia, aku tahu kau belum tidur." David menahan kalimatnya. Ia terlihat bingung saat itu. "Shazia, bukankah kita sudah menikah?"


"Ehm … maksudku … bukankah hubungan yang seperti tadi wajar dilakukan oleh sepasang suami istri? Apa kau marah padaku?" tanya David penuh selidik.


"Tidak!" jawab Shazia cepat. Sebenarnya sangat memalukan bagi Shazia membahas masalah tadi. Tapi, mau bagaimana lagi. David akan terus menerornya jika ia tidak mau menjawab.


"Kau tidak marah?" Ada perasaan lega di dalam hati David karena Shazia tidak marah atau dendam kepadanya. "Lalu, kenapa kau miring ke sana? Kau tidak mau tidur miring ke sini? menatap wajahku?"


Shazia tidak mengatakan apapun hingga beberapa detik. Namun, tidak lama kemudian ia menggerakkan tubuhnya dan mengatur posisi tubuhnya agar terlentang. Ia menatap wajah David dengan wajah memerah. Bibirnya yang basah sesekali ia gigit untuk menghilangkan rasa groginya.


David membisu melihat wajah Shazia. Tatapannya turun ke bibir Shazia yang lagi-lagi menggoda imannya. Pria itu menghela napas kasar.


"Jika kau lebih nyaman ke arah sana. Miring saja ke arah sana. Aku ingin turun ke bawah mengambil minum." David memalingkan pandangannya. Ia ingin berlari saja ke lemari agar Shazia tidak melihat tubuh polosnya setelah keluar dari selimut.


Sedangkan Shazia, ia kembali memiringkan tubuhnya. Kedua matanya terpejam. "Kenapa keadaanya jadi canggung seperti ini? Kami seperti baru saja melakukan sebuah dosa besar yang tidak lama lagi akan mendapatkan hukuman," gumam Shazia di dalam hati.

__ADS_1


David segera berlari ketika Shazia kembali miring. Ia segera mencari pakaiannya dan memakainya secepat kilat.


"Shazia, apa kau mau aku ambilkan minum juga!" tawar David.


"Ya," jawab Shazia tanpa memandang.


"Baiklah, kalau begitu."


***


Setibanya di lantai bawah, David tidak bisa menghilangkan wajah bahagianya begitu saja. Bahkan saat meneguk air minum saja ia merasa kenikmatan air minum itu sungguh luar biasa. Shazia nya kini benar-benar telah menjadi miliknya. Dia adalah pria pertama yang bisa memilikinya.


Tiba-tiba saja Albert muncul. Pria itu memandang David dan merasa bingung. Di sana atasannya sendirian namun bersikap aneh seperti orang gila.


"Bos, apa yang anda lakukan di sini?"


"Minum," jawab David sambil menunjuk gelas kosong di tangannya.


"Tapi … bukankah di kamar anda ada air minum? Bahkan di lantai atas ada kulkas?"

__ADS_1


David terdiam sejenak. Semua yang dikatakan Albert benar. Namun, tidak tahu kenapa karena terlalu bahagia ia lupa akan semua itu dan lebih memilih turun ke bawah dengan tangga sambil membayangkan wajah manis istrinya.


"Ya, kau benar. Tapi air di atas tidak seenak air di bawah," jawab David asal saja. Tidak lupa ia membawa air minum untuk Shazia dan berjalan pergi. Langkahnya terhenti ketika sudah ada di dekat tubuh Albert.


"Apa kau pernah merasakannya?"


Albert mengeryitkan dahi. "Merasakan apa bos?"


"Tidak! Aku tidak bisa memberi tahu Albert apa yang baru saja aku lakukan bersama Shazia. Memang selama ini tidak ada yang aku rahasiakan darinya. Tapi, untuk masalah ini pengecualian," gumam David di dalam hati.


"Bos, apa yang anda pikirkan?"


"Tidak ada. Bantu aku untuk membuat Shazia bahagia besok pagi. Ada kejutan mewah yang ingin aku berikan kepadanya," ujar David sebelum berlalu pergi.


"Baik, Bos!"


Kali ini Albert tidak bisa banyak protes lagi jika hal itu menyangkut soal Shazia. Berbeda dengan sikapnya beberapa waktu yang lalu. Saat itu terlihat jelas kalau Albert tidak suka dan tidak setuju jika Shazia ada di dekat David. Namun sekarang, semakin ke sini ia bisa melihat David bahagia bersama Shazia.


"Tugasku telah bertambah. Bukan hanya melindungi Bos David saja. Aku harus menjaga Nona Shazia juga. Karena aku tahu, kebahagiaan Bos David kini ada pada Nona Shazia."

__ADS_1


__ADS_2