Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Mulai Hari Baru


__ADS_3

Hari ini Queen dan Drian memutuskan untuk menemui Ayahnya untuk mengatakan semua keputusan yang telah mereka sepakati mengenai hubungan rumah tangga mereka, mereka telah berkumpul di ruang tengah rumah tersebut.


"Jadi bagaimana?" tanya Fernandez dengan tampang serius.


"Pa aku sama Drian memutuskan untuk melanjutkan pernikahan kini, semua kontrak dan kesepakatan pra nikah ku dengan Drian juga akan ku hilangkan," jelas Queen.


"Baiklah, Papa senang jika itu menjadi keputusan kalian. Karena jika sampai kalian bercerai dan di ketahui media, itu akan berakibat semakin memburuk. Mana masalah di kantor semakin banyak lagi," Fernandez senang dengan keputusan mereka berdua.


Drian menggenggam tangan Queen sambil tersenyum ke arah Queen, Queen membalas senyuman Drian.


Setelah dari sana mereka memutuskan untuk jalan-jalan sembari membawa Daniel di stroller, mereka duduk di kursi taman sembari memandangi Daniel yang kini sudah bisa membuka matanya dan tersenyum.


"Tumbuh jadi anak hebat yah," ucap Queen.


Drian meraih tangan Queen, "Mulai hari ini kita mulai semuanya dari awal lagi yah, aku ingin hidup denganmu untuk selamanya."


Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka, pria itu menggunakan kaca mata hitam beserta topi dan masker untuk menutupi wajahnya.


"Lihat saja, kalian pasti akan hancur. Ini akan jadi balasan atas semua yang pernah kalian lakukan padaku dan keluargaku dulu, kalian harus merasakannya juga. Kini aku sudah dapat beberapa rahasia besar tentang keluargamu Queen, kau akan hancur di tanganku sekarang," gumam Pria itu, ia juga terdengar terkekeh pelan.


"Keluarga Fernandez harus menerima semua perbuatan mereka di masa lalu," lanjutnya.


Sementara itu di rumah Fernandez tiba-tiba di kirim sebuah kotak, Julian datang membawa kotak itu ke ruang kerja ayahnya.


"Pa tadi pelayan ada yang kasih ini, katanya ini paket Papa, jadi aku anterin deh ke sini," Julian menyimpan kotak itu di meja yang ada di depan Fernandez duduk sekarang.


Fernandez yang tengah sibuk menatap layar ponselnya menyempatkan beralih ke kotak itu, "Paket? Perasaan Papa enggak pesan apapun. Dari siapa emangnya?"


Julian menaikkan pundaknya, "Enggak tau, enggak ada nama pengirimnya juga."


Fernandez meraih kotak itu lalu membukanya, matanya melotot kaget saat melihat isi kotak itu, "Siapa yang telah melakukan ini?" marahnya.


Julian yang penasaran langsung ikut melihat isi kotak tersebut, ternyata di dalamnya ada sebuah foto dan di balik foto tersebut terdapat sebuah tulisan yang menggunakan darah, namun sepertinya darah itu adalah darah hewan.


Tulisan di foto itu adalah, "Fernandez mulai hari ini aku akan menghancurkan mu, kau harus merasakan apa yang aku dan keluargaku rasakan dulu," Kira-kira seperti itulah tulisannya.

__ADS_1


"Pa, apa yang pernah Papa lakukan dulu memangnya?" Julian penasaran.


"Buang itu secepatnya," Fernandez melempar kotak itu ke hadapan Julian.


Julian mengambil kotak itu dan menatap foto di dalamnya, di sana terlihat ada ayahnya yang tengah berfoto dengan satu keluarga. Sepasang suami istri itu memiliki 2 orang anak, satu perempuan dan satu lagi laki-laki.


"Pa mereka siapa? Bagaimana bisa mereka berfoto dengan Papa?" Julian masih penasaran.


"Cepat buang itu sekarang! Mereka sudah meninggal. Ini pasti hanya akal-akalan dari pesaing bisnis Papa saja, mereka sengaja melakukan ini untuk membuat Papa takut."


"Kenapa Papa takut? Apa jangan-jangan kematian mereka ada hubungannya lagi sama Papa."


"Gak usah asal bicara kau ini Julian, cepat buang saja kotak itu," Bentak Fernandez yang mulai meninggikan nada suaranya.


"Baiklah," Julian keluar dari ruangan tersebut, bukannya membuang kotak itu ia malah pergi ke kamarnya setelah di kamar Julian langsung mengamati foto tersebut, jujur saja ia sangat penasaran mengapa ayahnya dapat semarah itu saat melihat foto ini.


Kembali pada Queen dan Drian, selesai dari taman mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Sikap mereka berdua sudah tidak saling gengsi lagi, bahkan Queen sudah akan pindah ke kamar Drian. Mereka berdua memutuskan untuk tidur di satu kamar yang sama mulai saat ini.


"Bel tolong tidurin Daniel di kamarnya yah," ucap Queen pada Bella.


"Baik non."


Queen duduk di kursi yang ada di dekat kompor, ia memandangi Drian yang tengah fokus masak. Queen tersenyum, "Setelah ku pandang-pandang kau ternyata lumayan yah," gumam Queen.


Drian segera berbalik ke arah Queen lalu memeluk Queen, "Emang aku ganteng dari dulu, kamu nya aja terlalu gengsi untuk mengungkapkan," ledek Drian.


"Bisa aja deh kalau ngomong," Queen mengusap wajah Drian dengan telapak tangannya.


"Udah tuh lagi goreng ayam juga, nanti gosong," Queen mendorong Drian agar melepaskan pelukannya.


"Oh iya lupa," Drian bergegas meniriskan ayam gorengnya.


"Terpanah yah sama kecantikan ku," goda Queen.


"Iya sayangku cintaku."

__ADS_1


"Dih alay deh gak usah kayak anak kecil gitu manggilnya, aneh tau kata-kata kayak gitu keluar dari mulut kamu," Queen tertawa kecil.


"Nanti juga terbiasa."


Tiba-tiba ponsel Queen berbunyi, ia langsung menatap layar ponselnya untuk melihat nama penelpon. Drian menatap Queen saat mendengar ponsel Queen bunyi, "Siapa?" tanya Drian.


"Kak Julian," balas Queen, ia langsung mengangkat sabungan telpon dari Julian.


"Ada apa kak? Tumben telpon jam segini?" tanya Queen.


Julian langsung menjelaskan apa yang barusan terjadi di rumahnya, Julian juga yakin bahwa pengirim kotak ini adalah orang yang sama dengan orang yang telah menyabotase mobil asisten ayahnya.


"Aku kirim fotonya, siapa tau kamu nanti kenal sama orang itu."


"Oke kak aku tunggu."


Drian yang mendengar percakapan itu langsung ingin melihat foto yang di kirim Julian, "Kamu kenal mereka siapa?" tanya Queen menatap Drian.


Pria itu tampak berpikir sejenak, "Aku kayak pernah liat mereka tapi lupa dimana yah, ntar deh aku ingat-ingat lagi," Drian setelah itu kembali masak.


Beberapa saat kemudian masakan Drian telah selesai, kini keduanya langsung makan bersama. Queen tampaknya kegirangan sangking enaknya masakan Drian, "Kamu kalau jadi koki pasti restorannya rame loh," ujar Queen.


"Enggak, masakan aku cuman untukmu," balas Drian.


Queen terkekeh kecil, "Bisa aja kamu kalau ngomong."


"Bentar!" Drian tiba-tiba mengingat sesuatu.


"Apa?"


"Aku ingat siapa orang di foto itu."


"Serius?" Queen kaget.


"Iya aku ingat, aku tau dia siapa tapi aku memang tidak mengenalnya."

__ADS_1


"Iya siapa kalau gitu mereka ini?"


Bukannya langsung menjawab Drian malah berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel, "Tunggu! Ku ambil ponselku dulu."


__ADS_2