
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Hingga tidak terasa pagi kembali tiba. Tadi malam David tidak ada menyentuh Shazia. Pria itu memilih untuk membiarkan istrinya istirahat dengan tenang. Setelah selesai makan malam, David menggendong Shazia menuju ke kamar tidur mereka. Memeluk wanita itu dan menciumnya sebelum memejamkan mata.
Pagi ini David bangun lebih dulu. Bahkan sudah hampir 15 menit yang lalu dia bangun namun David tidak mau bergerak sama sekali. Ia sangat suka memandang wajah Shazia yang kini tertidur dengan pulas. Tubuhnya miring dan bertumpuh pada siku. Saat Shazia mulai bergerak pelan David semakin bahagia. Ia sangat tidak sabar melihat Shazia membuka mata dan melihat tatapan indah wanita itu.
Shazia mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Biasanya ia adalah wanita yang mudah terjaga. Kini setelah ia menjadi istri David, Shazia tidak pernah lagi memikirkan keselamatan dirinya. Ia pasrah dan percaya kepada David kalau pria itu pasti bisa menjaga dirinya dari bahaya.
"Selamat pagi, Sayang ...," sapa David sebelum mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepala Shazia. "Bagaimana tidurnya? Apa kau masih mengantuk?"
Shazia menggeleng. Ia memiringkan kepalanya untuk melihat ke jendela. Pemandangan laut biru dan angin yang begitu kencang menyambut Shazia pagi itu. "Pemandangannya sangat indah."
David mengikuti arah pandang Shazia dan tersenyum. "Ini pertama kalinya aku tidur di kamar ini. Saat membangun rumah ini, aku tidak pernah kepikiran kalau akan tinggal di rumah ini bersama dengan istriku. Bagiku itu hal yang mustahil. Mana ada wanita yang mau menerima pria cacat sepertiku," ucap David pelan.
Shazia memandang wajah David dan mengeryitkan dahi. "Kau pria yang suka berpikiran negatif, David."
"Ya, itulah diriku." David memandang wajah Shazia dan mengusap pipi wanita itu dengan lembut. "Apa kau sudah lapar? Aku akan meminta pelayan mengantar sarapan kita ke kamar."
Shazia menggeleng pelan. "Aku belum lapar."
David menelusuri jemarinya di wajah Shazia hingga turun ke leher wanita itu. Pria itu menyentuhnya dengan penuh godaan. "Apa tidurmu nyenyak Shazia?"
__ADS_1
Shazia membisu. Bukan menjawab, wanita itu justru memejamkan kedua matanya. Napasnya tertahan hingga membuat David menundukkan kepalanya agar bisa melihat jelas wajah istrinya.
"Sayang, apa kau butuh napas buatan? Hemm?" goda David sembari menurunkan tali gaun tidur Shazia.
"Ya, aku kehilangan oksigen," jawab Shazia masih dengan mata terpejam.
David tersenyum miring sebelum mendaratkan bibirnya di sana. Pria itu mengecup dan memiliki bibir istrinya dengan penuh perasaan. Shazia juga tidak menolak. Wanita itu membalas ciuman David dengan hati-hati.
"Aku mencintaimu, Shazia," bisik David mesra sebelum mengecup leher jenjang istrinya.
Shazia mengukir senyuman. Tidak tahu kenapa, hingga detik ini masih berat lidahnya untuk mengatakan kalau dia juga cinta kepada David. Shazia hanya tidak mau terlalu terburu-buru dan menyesal di akhir.
"Shazia, kau harus tahu satu hal. Setiap kali dekat denganmu. Aku selalu menginginkanmu. Tadi malam aku kesulitan tidur karena aku ingin menyerangmu. Tapi, aku tahu kau sangat lelah hingga aku lupakan semau keinginan itu. Namun, pagi ini aku tidak bisa menahannya lagi. Aku sangat membutuhkanmu. Istriku!" ucap David dengan tatapan penuh harap.
"Aku istrimu. Kau bebas melakukan apa saja yang kau inginkan. Kapanpun kau inginkan. Aku tidak akan menolak, David. Asalkan ... kau melakukannya tidak dalam keadaan mabuk," jawab Shazia dengan senyuman manis.
"Terima kasih, sayang. Aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu."
***
__ADS_1
Di pesisir pantai, Albert berjalan-jalan pagi untuk menyegarkan pikirannya. Pria itu tidak sendirian, ada Eva yang berjalan di sampingnya. Mereka berjalan dengan bibir membisu. Eva sendiri tidak lagi berani bersikap terlalu lancang kepada Albert. Sedangkan Albert memang tipe pria yang tidak banyak bicara.
Tiba-tiba saja Eva tersandung sebuah batu. Wanita itu jatuh hingga tengkurap di permukaan pasir. Albert yang melihat kejadian itu hanya diam menonton. Ia sama sekali tidak tergerak untuk menolong Eva agar kembali berdiri.
"Aku, sakit!" lirih Eva saat ia sudah berhasil duduk di atas pasir. Ternyata kukunya tersandung hingga berdarah. Wanita itu meringis karena rasa perih yang ia rasakan.
"Kenapa kau tidak melihat batu sebesar itu?" protes Albert kesal.
"Tuan, jika saya melihatnya saya tidak akan mungkin terjatuh!" protes Eva gantian.
Albert menghela napas kasar. "Cepat berdiri. Kita akan kembali ke rumah untuk mengobati lukamu!"
Eva memandang wajah Albert sejenak sebelum berusaha berdiri. Ia memijat-mijat lututnya yang juga membiru. "Sakit sekali ...," lirih Eva sebelum berjalan tertatih-tatih.
Albert masih diam di posisinya sambil melihat langkah Eva yang begitu menyedihkan. Karena tidak sabar, Albert berjalan mendekati Eva dan mengangkat tubuh mungil Eva.
"Tuan, apa yang anda lakukan?"
"Membawa karung menuju rumah," ketus Albert saat tubuh Eva telah ada di pundaknya. Pria itu berjalan cepat menuju ke rumah agar segera sampai.
__ADS_1
Sedangkan Eva hanya bisa pasrah dengan posisinya saat ini. Walau kepalanya mulai pusing karena dalam posisi terbalik, tapi ia juga tidak mau mencari masalah dengan Albert.
"Dasar pria aneh!" umpat Eva sebelum memejamkan mata.