
Pagi yang mendung akan terasa cerah dan indah jika saat membuka mata, kita melihat wajah orang yang kita cintai. Dia terlelap dalam tidurnya karena sedang bermimpi indah. Terpejam dengan bibir tersenyum dan wajah yang tenang.
Seperti itu yang kini dirasakan David. Selelah apapun tubuhnya dia akan selalu merasa bersemangat setiap paginya. Membayangkan percintaannya dengan Shazia tadi malam membuatnya selalu ingin ada di dekat sang istri.
David melihat ke arah jendela. Ternyata di luar sedang turun hujan. Tidak deras namun bisa membuat siapa saja yang berlama-lama di luar sana basah kuyup. Udara terasa sangat dingin hingga membuat David ingin kembali masuk ke dalam selimut dan memeluk sang istri.
Namun, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Shazia juga harus sarapan sebelum meminum obat dari dokter. David tidak mau karena hal sepele Shazia kembali jatuh sakit.
Sambil mengusap pipi Shazia yang kenyal seperti pipi bayi, David berusaha membangunkan istrinya dengan hati-hati.
"Sayang ... bangun," bisik David mesra.
Shazia bisa mendengar dengan jelas bisikan David. Namun, hatinya enggan untuk membuka mata. Di tambah lagi tubuhnya terasa lelah karena olahraga tadi malam berulang-ulang mereka lakukan. Shazia ingin tetap tidur di bawah selimut dan menikmati rasa nyaman yang kini ia rasakan.
"Sayang ....," bisik David lagi. "Ayo kita sarapan. Setelah kau meminum obat, kau boleh tidur lagi," bujuk David agar Shazia mau bangun.
Shazia membuka kedua matanya dengan berat hati. "Apa sudah siang?" tanya Shazia dengan suara malas.
David mengangguk pelan. "Bagaimana dengan tidurmu? Apa kau bisa tidur dengan nyenyak?" tanya David sambil mengusap lembut rambut Shazia. Ia ingin memastikan kalau tidur Shazia tetap nyaman walaupun ia hanya memberikan wanita itu waktu tidur beberapa jam saja.
"Hemm. Tidurku sangat nyenyak."
Tidak lupa David mendaratkan kecupan cintanya di pucuk kepala Shazia sebelum kecupan itu berakhir di bibir.
Shazia tersenyum dan sangat menikmati kecupan sang suami. Kedua matanya terpejam dengan tangan yang sudah berada di leher David.
David melepas kecupannya dan memandang wajah Shazia dengan begitu bahagia. "Shazia, I love you," bisik David dengan mesra.
Shazia membisu untuk beberapa saat. David sendiri tidak mau berharap banyak karena ia masih memiliki banyak waktu untuk membuat Shazia bisa membalas rasa cintanya.
__ADS_1
"I love you to," jawab Shazia dengan suara serak.
David tertegun. Baginya jawaban Shazia itu seperti mimpi. Ia masih tidak percaya sebelum Shazia mengulangnya dan mengatakannya dengan suara lebih keras lagi.
"Katakan sekali lagi, Shazia," pinta David dengan tatapan memohon.
Shazia mengangkat kepalanya sejenak agar bisa menyentuh bibir David dan mendaratkan kecupan singkat di sana sebelum mengulang jawabannya yang tadi.
"I love you to David."
Kedua mata David berkaca-kaca. Ia benar-benar bahagia mendengar kalimat cinta itu. Kini sang istri sudah membalas rasa cintanya. Ibarat sepasang kekasih, mereka telah resmi berpacaran.
"I love you Shazia. Terima kasih karena kau sudah mau mencintaiku. Menerima aku yang banyak kekurangannya ini sebagai suamimu!" ujar David penuh bahagia.
Shazia juga merasa bahagia. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa memiliki keberanian seperti itu. Sebenarnya sejak di rumah sakit Shazia sudah ingin mengatakannya. Namun saat itu waktunya tidak tepat karena David dan Leah sedang bertengkar.
David juga mulai beranjak dari tempat tidur. Pria itu dengan cepat berlari ke tepian ranjang dan mengukir senyuman penuh arti menatap tubuh Shazia yang seksi. Bagaimana tidak, wanita itu hanya memakai lingerie seksi hingga memamerkan tubuhnya yang indah.
"Ada apa?" tanya Shazia penuh selidik.
David menggeleng pelan. "Aku akan menggendongmu ke kamar mandi." Tanpa persetujuan Shazia, David segera mengangkat tubuh istrinya. Bayangan ketika lingerie yang dikenakan Shazia basah sudah terngiang di dalam pikirannya.
"David, apa yang kau pikirkan? Senyummu begitu mencurigakan," ujar Shazia penuh selidik.
"Sayang, kita harus rajin-rajin olahraga agar segera mendapatkan David junior. Bukankah kau ini wanita jagoan, pasti kau tidak lelah kan saat ini? Kau pasti masih bersemangat untuk mengulang adegan kita tadi malam," ujar David tanpa beban.
"David, kau benar-benar pria mesum!" ucap Shazia sembari mencubit perut David. Kebetulan sekali pria itu tidak memakai baju jadi Shazia bisa dengan bebas memilih bagian perut yang ingin ia cubit.
***
__ADS_1
Di lantai bawah, Leah duduk di depan jendela untuk menikmati hujan pagi hari. Ada banyak hal yang harus ia lakukan. Semua itu masalah yang akan dihadapi oleh The Felix. Tapi Leah tidak bisa menyelesaikan semuanya tanpa Shazia. Untuk memberi tahu Shazia soal masalah yang kini di hadapin oleh The Felix juga tidak mungkin. Leah tahu kalau kondisi Shazia belum benar-benar pulih. David sendiri pasti tidak akan mengizinkan Shazia kembali mengurus The Felix dalam waktu dekat ini.
"Apa yang kau pikirkan?"
Tiba-tiba saja secangkir teh hangat ada di depan Leah. Albert berdiri di samping wanita itu sembari memberikan Leah secangkir teh hangat.
"Tidak ada," jawab Leah sebelum menerima teh yang diberikan Albert.
"Jangan berbohong. Aku dengar The Felix sedang dalam masalah. Bukankah kini kalian berada dalam incaran polisi?" ucap Albert sebelum duduk di kursi yang ada di dekat Leah.
"Ya. Musuh kami memang sangat pintar memanfaatkan keadaan. Mereka tahu kalau Bos Shazia baru saja sakit jadi mereka melakukan sebuah pembunuhan dengan melibatkan The Felix. Aku bisa saja membalas perbuatan mereka tanpa bantuan Bos Shazia. Tapi, bagaimana dengan polisi yang kini mengincar kami sebagai buronan?" jawab Leah dengan wajah tidak bersemangat. "Aku yakin ada jebakan di sana."
"Hanya itu masalahnya?" ujar Albert serius.
Leah mengangguk cepat. "Apa kau punya solusi?"
"Tentu saja itu masalah yang mudah. Katakan padaku, polisi mana yang akan mengurus masalah ini? Aku akan membereskannya," ucap Albert dengan penuh percaya diri.
"Kau yakin?" tanya Leah tidak percaya.
"Hei, masalah yang besar seperti Tuan Devid saja berhasil kami selesaikan. Apa lagi hanya masalah sepele seperti itu," jawab Albert sebelum meneguk teh yang ada di tangannya. "Serahkan semua padaku. Aku akan membantumu."
Leah tersenyum lega. Walaupun kini Shazia sudah tidak bisa bersama dengan The Felix lagi, tapi setidaknya masih ada Albert yang mau membantu masalah mereka.
"Terima kasih, Albert," ucap Leah penuh rasa bahagia.
"Ehmmm, Ya. Cepat habiskan teh nya."
Leah kembali meneguk minuman hangat di tangannya sambil memandang jendela yang berembun. "Ternyata Albert pria yang baik. Selama ini aku memandangnya sebagai pria yang begitu menyebalkan. Sejak bos Shazia menikah, semua terasa banyak berubah," gumam Leah di dalam hati.
__ADS_1