
Eva baru saja tiba di rumah sakit. Wajahnya terlihat sangat panik ketika berlari masuk ke dalam. Masih di depan sana Eva sudah bertemu dengan Leah. Wanita itu segera menghampiri Leah yang sedang duduk sendirian di sebuah kursi.
"Leah, bagaimana dengan keadaan Nona Shazia? Apa yang terjadi? Kenapa Nona Shazia sampai terluka?" tanya Eva cepat tanpa peduli kalau saat itu suasana hati Leah sedang buruk.
"Semua ini terjadi karena Tuan David!" ujar Leah tidak bersemangat.
"Tuan David? Apa yang sudah dilakukan oleh Tuan David?" tanya Eva lagi ingin tahu.
Leah beranjak dari kursi dan menatap wajah Eva. "Logan ingin menculikmu. Untuk apa pria itu ingin menculikmu?" tanya Leah gantian.
Mendengar pertanyaan Leah, jelas saja membuat Eva bingung. Eva sendiri merasa tidak pernah memiliki masalah apapun terhadap Logan. Ia tidak pernah mengusik hidup pria itu selama ini. Justru Logan yang lebih sering mencari masalah kepada dirinya.
"Saya tidak tahu," jawab Eva apa adanya.
Leah melipat kedua tangannya. "Apa dia tahu kalau kau dan si Devid itu sudah menikah?"
Eva terdiam sejenak. "Jika Devid tidak pernah menceritakannya seharusnya dia tidak tahu. Saya merahasiakan semua ini dari semua orang selama ini."
"Tidak. Aku yakin dia tahu maka dari itu dia ingin menculikmu. Pasti ada rencana licik gang sudah ia rencanakan!" ketus Leah sembari memalingkan wajahnya. "Tapi sekarang kita perlu membahas tentang pria itu lagi karena dia sudah tidak ada di muka bumi ini. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah muncul di hadapan kita lagi." Ada rasa puas di wajah Leah ketika ia mengingat kini Logan telah tewas. Bahkan pria itu tewas di tangannya.
__ADS_1
"Apa maksud Anda?"
Leah memegang tangan Eva. "Kau bodoh atau pura-pura bodoh. Maksudku, dia sudah mati!" Leah berjalan menuju lift dan membawa Eva secara paksa. "Bukankah kau ke sini ingin melihat keadaan Bos Shazia. Ayo aku akan antarkan kau ke ruangan tempat Bos Shazia di rawat. Tadi dokter belum mengizinkan siapapun untuk masuk. Tidak tahu sekarang."
***
Di dalam ruangan yang begitu hening, David memandang wajah Shazia dengan penuh penyesalan. Andai waktu bisa diputar kembali mungkin David tidak akan mencegah apapun yang ingin dilakukan oleh Shazia. Ia akan memilih diam di tempatnya berada sambil menyaksikan penyiksaan sadis yang dilakukan oleh Shazia. Namun, semua sudah terlambat Nasi sudah menjadi bubur. Kini yang bisa dilakukan David hanya berdoa agar sang istri segera membuka mata.
"Aku suami yang tidak berguna, Shazia. Maafkan aku." Untuk kesekian kalinya kalimat yang sama terucap kembali. Rasanya tidak ada rasa bosan bagi David untuk mengatakan rasa penyesalannya di depan Shazia. Ia butuh maaf sanga istri. Ia ingin istrinya kembali membuka mata dan tersenyum manis memandangnya.
Pintu terbuka. Eva dan Leah muncul di sana. Masih dengan tatapan yang sama. Leah menatap David layaknya seorang musuh. Ia tidak akan memaafkan pria itu sebelum Shazia kembali membuka mata.
Leah memutar tubuhnya dan memutuskan untuk pergi dari sana. Sebenarnya ia sendiri ingin menangis melihat Shazia yang tidak kunjung sadar. Namun, selama ini Leah di didik untuk menjadi wanita tangguh yang tidak cengeng. Ia tidak mau meneteskan air matanya dan memperlihatkan sisi lemahnya. Walaupun saat ini ia sangat ingin melakukannya.
"Bagaimana bisa kau sampai sini? Kau meninggalkan Devid sendirian di rumah?" tanya David kepada Eva.
"Maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa meninggalkan Devid di rumah karena saya sangat mengkhawatirkan keadaan Nona Shazia," jawab Eva sebelum meletakkan tangan Shazia kembali ke tempat tidur.
"Apa Devid masih sama? Apa dia belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun?"
__ADS_1
Eva menggeleng pelan. "Dia seperti orang tidur. Wajahnya terlihat tenang dan tidak tahu kapan akan bangun. Mungkin memang ini karma yang harus ia terima atas perbuatannya di masa lalu, Tuan."
"Dia pria yang baik. Namun, karena sejak kecil ia selalu merasa kalah dan tersaingi, jadi dia berubah menjadi pria yang jahat. Eva, aku berharap besar kepadamu agar kau bisa merubah sifat Devid menjadi pria baik seperti dulu lagi." David memandang wajah Shazia. "Terkadang aku berpikir. Apa yang akan dilakukan Devid ketika ia kembali sadar. Apa mungkin dia akan menjadi dendam kepada Shazia. Atau dia sudah berubah dan menyadari kesalahannya selama ini."
"Tuan, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya katakan sejak kemarin kepada Anda dan Nona Shazia. Namun saya tidak menemukan waktu yang tepat. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat walaupun Nona Shazia tidak bisa merespon apa yang saya katakan," ucap Eva dengan ekspresi wajah yang bersungguh-sungguh.
"Apa yang ingin kau katakan Eva?" tanya David mulai serius dan penasaran.
"Tuan. Kalau boleh saya meminta. Saya ingin pergi dari rumah anda bersama dengan Devid. Saya ingin kembali ke kampung halaman saya. Tempat yang menjadi tempat kami pertama kali bertemu dulu. Saya akan mengurus Devid dengan sebaik mungkin sampai dia sadar. Saya tahu kalau selama ini Nona Shazia sangat keberatan atas adanya Devid di rumah. Saya juga tahu kalau setiap kali melihat Devid pasti Nona Shazia ingat akan penderitaan Nora. Untuk itu saya berkeinginan untuk pergi dari rumah itu bersama Devid, Tuan."
"Kau yakin?" tanya David lagi.
"Saya yakin, Tuan. Sebenarnya semalam saya sedikit ragu karena masih ada Logan yang berkeliaran dan pasti akan mengusik ketenangan kami. Tapi, setelah tadi saya dengar kabar dari Leah kalau Logan sudah tewas. Saya semakin yakin dengan keputusan saya ini."
"Eva aku tidak harus berbuat apa saat ini. Tapi, jika kau lebih nyaman tinggal di tempat itu. Aku akan mengurus semuanya. Eva, berjanjilah padaku. Jika suatu saat nanti Devid kembali membuka mata, katakan padanya kalau aku selalu menganggapnya sebagai saudara. Aku tidak pernah berniat melukainya apa lagi membuatnya menderita."
Eva mengangguk cepat. "Saya pasti akan selalu mengingat pesan yang anda katakan, Tuan." Eva kembali memandang wajah Shazia. "Saya harap secepatnya Nona Shazia bangun dan bisa berkumpul di rumah itu lagi. Tuan, saya permisi dulu. Terima kasih atas izin yang anda berikan."
David mengangguk sebelum kembali memandang Shazia. Pria itu tidak mau berlama-lama memalingkan pandangannya ke arah lain. Hanya wajah Shazia yang boleh ada di penglihatannya.
__ADS_1
"Sayang, bangunlah. Maafkan aku. Jika kau ingin marah aku siap mendengar amarah itu. Tapi, bangunlah. Aku sangat takut."