
David dan Albert saling memandang. Walau situasi terlihat terjepit, tapi mereka berdua tetap memasang wajah tenang. Mereka ingin mempertahankan Devid dan membawa pria itu ke rumah dengan selamat. Ujung senjata yang begitu dingin tidak bisa membuat mereka mundur.
"Logan. Senang bertemu denganmu lagi. Apa yang kau lakukan di sini? Oh ya, sisa gajimu masih aku pegang. Kenapa kau tidak mau mengambilnya? Bukankah kau sudah tidak bekerja denganku lagi? Atau jangan-jangan ... kau sekarang sudah kaya jadi tidak perlu sisa gaji itu lagi," ledek David dengan tenang.
Logan terlihat kesal. Namun ia tidak mau gegabah. Pria itu melangkah maju dan meminta bawahannya menurunkan senjata api mereka. Jika di lihat-lihat David hanya berdua dengan Albert. Tidak mungkin juga mereka menang melawan dirinya.
"Sisa gaji?" ujar Logan sambil terus berjalan mendekat. "Sebaiknya berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkan. Aku tidak butuh lagi. Karena mulai sekarang, posisi kita sama!" Logan menatap wajah David penuh kesombongan.
"Ya ya. Aku sempat dengar kabar baik itu. Orang kepercayaan dari Devid kini telah menguras habis harta sang majikan ketika majikannya tidak berdaya. Keren, Logan! Kau benar-benar pria yang keren dan cerdas!" sambung David lagi.
Logan yang semakin emosi segera mengangkat tangannya. Ia ingin memukul wajah David terutama di bagian mulutnya agar pria itu tidak bisa berbicara lagi.
__ADS_1
Tapi dengan sigap David berhasil menahan tangan Logan. Dengan tatapan penuh kebencian, David menghempaskan tangan pria itu hingga membuatnya terdorong ke belakang.
"Apa kau lupa darimana kau berasal Logan? Kau hanya preman jalanan yang kebetulan beruntung dan di angkat Devid menjadi orang kepercayaannya. Awalnya aku pikir kau pria baik. Hanya karena pengaruh Devid yang membuatmu berubah menjadi pria jahat! Tidak aku sangka. Ternyata kau yang sudah membuat Devid berubah jahat. Kau terus saja menghasutnya menjadi pria jahat! Hingga akhirnya ia terjerumus ke jalan yang salah!" ujar David penuh emosi.
Logan tertawa kencang seolah perkataan David hanya sebuah lelucon yang membuatnya geli. "Aku tidak pernah menghasutnya! Dia sebagai seorang pria tidak memiliki pendirian. Mudah sekali untuk di dorong ke jalan yang salah! Sifat iri di dalam hatinya yang semula sedikit bisa aku pupuk hingga semakin lama semakin banyak. Bukankah aku hebat? Aku bisa memecah persaudaraan kalian? Padahal aku hanya pria gembel!"
"Tapi kau belum menang, Logan. Simpan tawamu karena tidak lama lagi kau akan mendekam di dalam penjara!" ancam David gantian.
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara sirine polisi. Logan dan pasukan miliknya terlihat kaget dan panik. Mereka tidak mau tertangkap dan mendekam di dalam penjara.
Albert dan David kali ini gantian tersenyum. Semua sudah direncanakan secara matang. Karena harus meminta bantuan polisi, David tidak mau membawa Shazia bersama dengannya. Ia tidak mau nantinya Shazia juga terseret ke jalur hukum.
__ADS_1
Dengan tangan terkepal, Logan menatap tajam wajah David. "Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang. Aku pasti akan membalas perbuatan kalian!" ancam Logan sebelum pergi.
David dan Albert kembali bernapas lega ketika mereka sudah aman. David memandang wajah Devid yang pucat dan sangat lemah. "Ayo. Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit."
Albert mengangguk dan kembali melangkah. Bersamaan dengan itu, polisi yang tadinya mereka sebutkan juga tiba. Sebenarnya polisi itu hanya polisi bayaran. David tahu kalau nyali Logan tidak akan sebesar itu. Dia tidak akan berani melawan polisi karena takut di penjara.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya seorang pria berseragam polisi.
"Ya. Terima kasih atas bantuannya. Anda datang di waktu yang tepat. Apa sekarang saya bisa minta tolong? Tolong bantu saya membawa saudara saya ke rumah sakit. Dengan pengawalan mobil polisi, kami bisa segera tiba di rumah sakit," pinta David.
"Baik, Tuan. Silahkan!"
__ADS_1
Mereka segera berangkat meninggalkan rumah kumuh tersebut. Sedangkan Logan masih berlari kencang untuk kabur karena tidak mau tertangkap.