
Waktu terus berlalu. Kehidupan rumah tangga Shazia dan David mengalami banyak kemajuan sejak Shazia membalas perasaan David. Walau memang hingga detik ini mereka belum di beri kepercayaan untuk memiliki keturunan. Tapi, kebahagiaan yang kini mereka rasakan sudah lebih dari cukup.
Setiap selesai sarapan Shazia akan mengantar David ke depan untuk pergi bekerja. Pria itu menjadi pembisnis yang sukses setelah melewati berbagai kesulitan. Namanya di kenal di mana-mana. Tidak jarang Shazia ikut menemani David untuk menghadiri sebuah pertemuan penting dengan para konglomerat yang berdomisili di negara luar.
Siang ini David memutuskan untuk membawa mobil sendiri. Albert justru duduk di bangku penumpang yang ada di samping David. Awalnya Albert menolak. Namun, David merasa kemampuan menyetirnya sudah berkurang. Ia tidak mau terus-terusan membawa Albert ketika pergi bersama Shazia. Ia juga ingin berduaan di mobil bersama istri tercinta setiap kali ingin bepergian.
"Bagaimana dengan rapat kita siang ini? Apa clien kita yang dari Amerika sudah tiba?" tanya David yang saat itu masih fokus dengan laju mobilnya.
"Belum, Bos. Sepertinya pertemuan kita siang ini batal. Mereka memberi kabar kalau akan tiba sore nanti," jawab Albert sembari memeriksa jadwal padat David yang ada iPad-nya.
"Malam ini aku janji untuk membawa Shazia makan malam. Atur pertemuan itu agar segera terlaksana karena aku tidak mau gagal makan malam bersama Shazia," protes David serius.
"Baik, Bos."
Saat jalanan lurus dan sunyi, tiba-tiba saja David dan Albert mendengar suara sirine polisi dari arah berlawanan. Mereka menurunkan kecepatan mobil dan memberi jalan kepada polisi yang sedang bertugas, begitu juga para pengendara lain.
"Akhir-akhir ini polisi-polisi itu terlihat sangat sibuk. Sebenarnya siapa yang mereka kejar?" celetuk David.
Tiba-tiba saja sebuah mobil sport lewat. Mobil itu tidak sendirian, ada beberapa mobil dibelakangnya yang sedang mengiringi. Tidak jauh dari rombongan mobil itu mobil polisi berbaris untuk mengejar mereka.
Albert dan David saling memandang dengan wajah tidak percaya. Mereka bahkan menghentikan laju mobil mereka.
"Albert, bukankah itu mobil Shazia? Itu mobil yang aku belikan untuknya," ucap David dengan begitu panik.
"Ya, Bos. Itu mobil Nona Shazia. Saya berani jamin kalau hanya ada satu mobil seperti itu di kota ini," jawab Albert juga dengan ekspresi yang serius.
David memandang ke belakang. Tanpa pikir panjang ia segera memutar arah mobilnya. David ingin mengejar Shazia dan memastikan wanita itu baik-baik saja. Sambil melajukan mobilnya, David mengambil ponselnya dan ingin menghubungi sang istri.
"Bos, biar saya yang membawa mobilnya," pinta Albert karena dia tidak mau celaka. David terlihat tidak berkonsentrasi lagi melajukan mobil mereka siang itu.
"Aku bisa mengendalikannya!" tolak David sebelum menambah laju mobil yang ia tumpangi.
Di sisi lain, Shazia tertawa puas melihat polisi - polisi yang mengejarnya sudah sangat jauh. Bahkan The Felix juga sudah berhasil membuat konsentrasi polisi itu pecah ketika mereka memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda-beda.
__ADS_1
"Tidak semudah itu menangkapku. Aku hanya meminjam jalan ini untuk balapan sebentar, kenapa mereka repot sekali!" gerutu Shazia.
Saat ponsel Shazia berdering, wanita itu terlihat kaget. Ia melirik nama David ada di sana. "David, kenapa dia menelepon di saat seperti ini."
Shazia segera menurunkan kecepatannya. Mobil polisi yang mengejarnya juga sudah tidak terlihat. Dengan cepat ia melekatkan ponselnya di telinga.
"Shazia, kau di mana? Apa kau baik-baik saja?" teriak David lebih dulu sebelum Shazia mengatakan satu katapun.
Shazia melirik ke spion. Satu mobil polisi kembali muncul. Wanita itu kembali menambah laju mobilnya.
"Aku ... aku di rumah," dusta Shazia. Ia tidak menyangka kalau ternyata David sudah tahu apa yang kini sedang ia lakukan.
"Sayang, aku baru saja melihatmu. Kenapa polisi itu mengejarmu?" tanya David lagi.
"Bagaimana bisa David tahu? Bukankah jam segini dia seharusnya ada di kantor?" gumam Shazia di dalam hati.
"Shazia. Apa kau masih bisa mendengarku?" tanya David lagi.
"Hemm, ya. Aku hanya jalan-jalan saja. Tiba-tiba polisi itu mengejarku!" jawab Shazia cepat.
"Berhenti? Tidak David. Aku tidak mau berhenti. Mobilku jauh lebih cepat daripada mobil polisi itu. Aku akan membuat para polisi itu lelah karena sudah berani mengganggu kesenanganku siang ini," tangkas Shazia sebelum mematikan ponselnya. Ia kesulitan untuk kosentrasi ketika menerima telepon David. Setelah panggilan telepon itu berakhir, Shazia kembali fokus dengan laju mobilnya untuk menghindari kejaran para polisi.
David benar-benar frustasi mendengar jawaban Shazia. Ia meletakkan ponselnya dan menambah laju mobilnya lebih cepat lagi. Walau tidak tahu ke mana arah Shazia pergi, tapi ia berharap akan segera menemukan keberadaan sang istri dan bisa melihat wanita itu baik-baik saja.
Albert sendiri berpegangan kuat dengan jantung mau copot. Ini pertama kalinya ia duduk sebagai penumpang di mobil yang melaju sangat kencang. Di tambah lagi orang yang mengemudi adalah David. Sosok pria yang selama ini belum pernah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Bos, Nona Shazia pasti baik-baik saja. Sebaiknya anda tidak sepanik ini," bujuk Albert agar David mau menurunkan laju mobilnya.
"Aku tidak mau dia celaka!"
Albert kembali menghela napas. "Ternyata seperti ini rasanya menikah dengan bos mafia. Sepertinya Bos David belum terbiasa dengan tingkah laku Nona Shazia," gumam Albert di dalam hati.
Baru beberapa kilometer melaju, tiba-tiba David dan Albert melihat mobil milik Shazia berhenti di pinggir jalan.
__ADS_1
"Albert, bukankah itu mobil Shazia?" tanya David kurang yakin.
"Ya, Bos. Itu mobil Nona Shazia."
David segera menghentikan laju mobilnya. Setelah mobil itu berhenti sempurna, David turun dari mobil dan berlari untuk memeriksa mobil Shazia. Wajahnya semakin panik ketika melihat Shazia tidak ada di dalam.
"Di mana Shazia? Apa polisi berhasil menangkapnya?" ujar David khawatir. "Albert, cepat hubungi pihak kepolisian. Pastikan Shazia baik-baik saja!"
"Baik, Bos!"
Saat David dan Albert terlihat begitu panik, tiba-tiba mereka berdua mendengar suara ketawa. David berjalan ke pinggiran jalan untuk mencari sumber tawa tersebut. Setelah berada di pinggir jalan, David melihat Shazia dan Leah tertawa sambil meminum minuman kaleng yang ada di genggaman mereka. Dua wanita itu duduk di rerumputan dengan posisi membelakangi jalan.
"Shazia," bisik David.
Albert mengikuti David. Ia membatalkan panggilan nya setelah melihat Shazia baik-baik saja.
"SHAZIA!" teriak David agar Shazia memandangnya.
Shazia dan Leah sama-sama memutar tubuh mereka. Saat melihat David, Shazia segera berlari untuk mendekati David. Wanita itu tersenyum bahagia seolah tidak ada masalah sama sekali.
"David, bagaimana bisa kau menemukanku?" tanya Shazia. Ia segera berhambur ke dalam pelukan David dan bersikap manja. "Aku merindukanmu," bujuk Shazia agar David tidak marah.
David memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Ia memeluk erat tubuh istrinya dengan perasaan yang begitu lega. "Lain kali, jika ingin bermain-main, kau bisa mengajakku."
"Bukankah kau kerja?" protes Shazia pelan.
"Sayang, kau membuatku khawatir," ujar David lagi.
"Maaf. Tapi tadi itu sangat menyenangkan."
David mendaratkan kecupan di pucuk kepala Shazia sebelum memeluknya lagi dengan erat. "Aku sangat mencintaimu Shazia. Aku tidak mau kau celaka lagi."
"Maaf," celetuk Shazia pelan.
__ADS_1
Leah dan Albert hanya bisa saling memandang. Mereka sendiri tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat sepasang suami istri itu bermesraan di depan mereka.