
Sesekali David memejamkan mata karena mengantuk. Sejak kejadian kemarin dia belum ada tidur. Tubuhnya terasa begitu lelah bahkan matanya berat karena mengantuk. Albert berulang kali memperingati David agar menjaga kesehatannya. Namun perkataan Albert hanya angin lalu bagi David. David tetap duduk di kursinya sambil memegang tangan Shazia hingga berjam-jam lamanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Bibir David mulai pucat karena kelelahan. Namun, pengorbanan David seakan tidak sia-sia. Pagi itu, Shazia mulai menggerakkan jemarinya dan membuka kedua matanya.
"Shazia?" lirih David tidak percaya. Seperti sebuah mimpi. Namun, David tidak mau hal itu hanya mimpi belaka. "Sayang, kau sudah bangun?"
Shazia memperhatikan keadaan sekitar. Tidak ada lagi yang bisa ia temui di ruangan serba putih itu. Hanya ada David yang kini menemaninya dengan setia.
"Sayang ...," tanya David lagi.
"Di mana Logan?" tanya Shazia dengan wajah serius.
"Logan?" tanya David tidak percaya.
"Ya. Aku ingin menghabisinya!" ujar Shazia penuh dendam. Tidak peduli walau kini kondisinya masih lemah.
"Pria itu sudah tewas," jawab David sekaligus menenangkan sang istri.
"Kau yakin?" tanya Shazia masih tidak percaya.
Saat Logan menusukkan pisau itu ke dalam perutnya, Shazia merasakan sakit yang luar biasa. Pikirannya campur aduk hingga ia tidak lagi memandang Logan dan mengetahui keadaan pria itu. Walau memang saat memejamkan mata Shazia mendengar suara tembakan. Tapi tetap saja saat pria itu tewas Shazia tidak bisa melihatnya secara langsung.
"Ya, sayang," jawab David sembari mengecup punggung tangan Shazia. "Albert yang mengurus Logan bahkan dia juga yang menguburkan Logan di hutan. Pria seperti dia tidak pantas untuk di kebumikan di tempat terhormat!" ujar David penuh dendam.
Shazia tersenyum. "Lalu, kenapa sekarang kau menangis? Apa kau tidak rela kalau Logan telah tiada?"
__ADS_1
David menggeleng cepat. "Bukan. Aku sama sekali tidak memikirkan Logan lagi. Aku memikirkanmu, Shazia. Aku sangat khawatir dan sangat takut ketika melihatmu tidak mau membuka mata. Apa lukanya sakit? Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu dengan baik," lirih David penuh rasa bersalah.
Shazia kembali mengingat kejadian semalam. Ia tersenyum dan menggeleng pelan. "Kau tidak salah, David. Aku yang ceroboh. Saat ada di dekat musuh, kita tidak boleh mengalihkan pandangan kita ke arah lain. Jadi, jangan menyalahkan dirimu seperti ini," ucap Shazia agar David tidak bersedih lagi.
"Kau tidak marah padaku?"
"Tidak. Oh ya, bagaimana dengan Eva? Apa dia baik-baik saja?" tanya Shazia khawatir.
"Eva baik-baik saja. Tapi sekarang dia tidak ada di rumah kita lagi. Eva meminta izin untuk kembali ke kampung halamannya bersama dengan Devid. Mungkin dia jauh lebih nyaman tinggal di sana," jelas David apa adanya.
"Kenapa harus seperti itu? Apa dia tidak nyaman ada di rumah kita?" Shazia terlihat sedih karena kini dia sudah jauh dari Eva.
"Sayang, Eva dan Devid sudah menikah. Setelah menikah mereka berpisah. Mungkin ini saatnya Eva mendekatkan diri dengan Devid lagi. Aku bisa membawamu menemui Eva jika kau ingin," jawab David dengan sungguh-sungguh.
***
Eva membuka pintu rumahnya secara hati-hati. Pertama kali tiba di sana ia dibuat kaget karena keadaan rumahnya sangat jauh dari apa yang ia pikirkan. Ternyata sebelum tiba, David sudah menyuruh orang untuk membereskan rumah itu hingga kini rumah sederhana itu sudah layak untuk di huni.
Jika saja David tidak mengambil inisiatif seperti itu, mungkin kini Eva akan sangat lelah membersihkan debu yang menempel dan membuang prabot yang sudah tua.
"Tuan David benar-benar atasan yang baik," gumam Eva di dalam hati.
Eva mendorong kursi roda Devid dengan wajah yang bahagia. Ia tidak menyangka bisa tiba di rumah yang pernah ia tempati saat masih kecil. Ada banyak kenangan di sana. Termasuk masa-masa manis dirinya dengan Devid dulu.
"Akhirnya kita bisa berada di rumah ini lagi. Memang tidak terlalu besar, tapi setidaknya di rumah ini kau mengenalkan ku dengan kata cinta dan sayang," ucap Eva kepada Devid. Ia terus saja mengoceh walau lawan bicaranya saat ini menutup mata seperti orang yang sedang tidur.
__ADS_1
Eva percaya walau Devid tidak melihat secara langsung dengan kedua mata terbuka. Tapi pria itu bisa mendengar apa yang ia katakan dan merasakan sesuatu yang terjadi di dekatnya.
Eva melihat beberapa pria yang mengantarnya tiba di rumah itu. Sejak tadi Eva terus saja meminta agar mereka segera kembali ke rumah David. Tidak di sangka kalau ternyata David telah menyuruh mereka untuk menjaga Eva dan menjamin keselamatan mereka berdua selama berada di rumah itu.
"Padahal aku tidak butuh pengawal seperti ini. Tapi, Tuan David benar-benar baik. Aku yakin dia sangat mengkhawatirkan keselamatan saudara kembarnya."
Eva mendorong kursi roda itu ke sofa. Ia duduk dan menghadap ke arah Devid. Menatap wajah pria itu dalam-dalam sebelum tersenyum.
"Devid, cepat bangun. Buka matamu dan lihat aku. Aku sangat merindukanmu. Kau berhutang penjelasan kepadaku." Eva memegang tangan Devid dan meletakkannya di pipi kanan. "Aku yakin kau pria yang baik. Pasti kau punya alasan sendiri kenapa berubah menjadi pria jahat."
Eva memejamkan matanya. Tiba-tiba saja ia merasakan tangan Devid bergerak. Wanita itu segera membuka matanya. "Devid, kau bisa merespon apa yang aku katakan?" tanya Eva kegirangan.
Secara perlahan Devid membuka kedua matanya. Walau tatapannya masih belum fokus, tapi Eva sudah kegirangan melihat Devid membuka mata lagi.
"Devid, kau ...." Eva menahan kalimatnya. Ia segera beranjak dari sofa yang ia duduki untuk memanggil orang-orang yang kini ada di depan rumahnya.
"Siapapun di sana. Tolong panggilkan dokter. Tolong saya!" teriak Eva hingga membuat semua orang panik.
"Apa terjadi sesuatu terhadap Tuan Devid?" tanya salah satu pengawal.
"Ya. Dia sudah membuka matanya. Cepat panggilkan dokter!" pinta Eva lagi sebelum kembali masuk ke dalam. Pengawal itu segera menghubungi dokter. Keberadaan mereka di sana memang untuk membantu Eva ketika wanita itu berada dalam kesusahan.
Eva kembali ke sofa dan memandang wajah Devid. Ia terlihat bahagia melihat Devid sudah bisa membuka kedua matanya dan menatap wajahnya seperti itu.
"Devid, kau masih ingat denganku? Kau sudah bangun sayang. Kau sudah sadar?" lirih Eva sebelum memeluk Devid dengan erat. Tangis wanita itupun pecah. Ia tidak bisa membendung air mata yang sudah penuh di pelupuk matanya. "Jangan pejamkan matamu lagi, Sayang. Tatap aku. Lihat aku," ujar Eva sebelum mempererat pelukannya karena ia tidak mau jauh dari suaminya lagi.
__ADS_1