
Sejak kejadian itu, Devid dan Eva menghilang. Berulang kali Shazia berusaha menghubungi Eva namun wanita itu tidak mau mengangkat telepon dari Shazia. Kini Shazia dan David sudah ada di rumah. Sudah satu bulan sejak kejadian tewasnya Scarlett. Shazia merasa sangat khawatir dengan keadaan Eva. Walaupun ia tahu kini Eva sudah bersama dengan pria yang pasti bisa melindunginya.
"Sayang, apa kau kembali menghubungi Eva?" bisik David yang tiba-tiba saja muncul dan memeluk Shazia dari belakang.
"Aku sangat mengkhawatirkannya. Setidaknya ia memberiku kabar. Sudah satu bulan dia menghilang," jawab Shazia. Ia meletakkan ponselnya dengan wajah kecewa.
"Ayo ikut aku ke bawah. Ada yang ingin bertemu denganmu," ajak David dengan senyuman. Tidak lupa pria itu mendaratkan ciuman di pipi kanan Shazia.
"Siapa?" tanya Shazia penasaran. "Apa itu Eva? Apa Eva datang ke rumah ini?"
David mengeryitkan dahi. "Lihat saja sendiri," jawab David.
"Ayo kita turun. Aku sangat penasaran dengan tamuku hari ini. Semoga saja tamuku benar-benar Eva," ucap Shazia penuh harap. Ia menggandeng tangan suaminya dan membawanya meninggalkan kamar.
Di lantai bawah, Eva menggenggam tangan Devid dengan debaran jantung tidak karuan. Sebenarnya ada rasa bersalah di dalam hatinya karena sudah menghilang selama satu bulan dan tidak memberi kabar apapun kepada Shazia.
Tapi, mau bagaimana lagi. Semua ini permintaan Devid. Pria itu membawa Eva pergi ke suatu tempat untuk merenungkan diri. Sejak ia sadar dari koma, Devid belum pernah memiliki niat untuk benar-benar bertobat. Bahkan masih ada rasa dendam di dalam hatinya. Namun hari ini ia datang dengan hati yang lapang. Sudah tidak ada dendam atau rasa iri di dalam hatinya berkat bujukan dan ketulusan Eva. Bersama sang istri, Devid ingin menjalani hubungan yang baik dengan David dan Shazia.
"Sayang, aku tidak mau kau buat masalah nanti. Kau benar-benar ingin minta maaf kepada Tuan David dan Nona Shazia kan?" tanya Eva untuk kembali memastikan kesungguhan suaminya.
"Ya, Honey. Itu juga kalau mereka mau memaafkanku. Bukankah kesalahanku sangat fatal. Aku pria yang buruk," jawab Devid dengan wajah bersalah.
"Masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Asalkan kau mau mengakui kesalahanmu dan tidak mengulanginya lagi," ujar Eva dengan senyuman.
Devid membalas senyuman Eva. Ia mengusap pipi Eva dengan lembut dan mesra. "Terima kasih, Honey. Kau adalah alasanku untuk berubah menjadi lebih baik. Tanpamu mungkin aku akan kembali menjadi pria jahat yang dipenuhi dengan dendam."
Tidak lama menunggu, Shazia dan David sudah muncul di sana. Dengan senyum mengembang indah Shazia berlari karena tidak sabar ingin memeluk Eva.
"Eva!"
__ADS_1
Teriakan Shazia membuat Eva mengalihkan pandangannya. Ia segera beranjak dari sofa dan menatap wajah Shazia dengan senyuman.
"Nona, apa kabar?" tanya Eva dengan lembut.
Dua wanita itu saling berpelukan. Eva memang sudah seperti saudara bagi Shazia. Sejak perginya Nora, kehadiran Eva membuat Shazia merasa seperti masih memiliki saudara perempuan.
"Eva, ke mana saja kau selama ini? Kenapa kau menghilang? Apa kau menghindari ku? Kesalahan apa yang aku lakukan hingga kau memilih menghindar dariku?" protes Shazia kesal.
"Maafkan saya, Nona."
Untuk beberapa saat Shazia memutuskan untuk tidak membahas hilangnya Eva selama ini. Shazia ingin melepas rindu dengan memeluk Eva seperti itu.
David memandang Devid dan tersenyum ramah. Walau pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal, tetap saja tidak ada dendam di hati David. Justru pria itu sangat senang ketika melihat Devid masih hidup dan sehat.
"Maafkan aku," ujar Devid tiba-tiba. Ungkapan maaf pria itu membuat pelukan Shazia terlepas. Wanita itu menatap wajah Devid dengan tatapan tidak percaya.
"Maaf?" tanya David tidak percaya. Seumur hidupnya ini pertama kalinya Devid mengucapkan maaf kepada dirinya. Bahkan dari mata Devid, ia bisa mengetahui kalau pria itu tulus menyesali kesalahannya.
"Tidak. Jangan seperti itu. Sebaiknya kita lupakan saja yang sudah terjadi. Biarlah yang berlalu menjadi pelajaran," jawab David dengan wajah bahagia.
Devid memandang Shazia. "Shazia, maafkan aku. Aku sudah membuatmu kehilangan dua orang yang kau sayang. Jika aku ada di posisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Balas dendam untuk melampiaskan rasa sakit yang dirasakan orang-orang yang aku sayang."
"Aku tidak bisa memaafkanmu karena kesalahanmu sudah sangat fatal. Tapi ... aku bisa menerimamu sebagai saudara suamiku. Setidaknya dengan begitu, aku tidak akan mengenalmu sebagai Devid si pembunuh. Tetapi Devid sebagai saudara iparku," jawab Shazia dengan senyuman.
"Kau tidak marah lagi padaku?" tanya Devid untuk kembali memastikan.
"Tadinya aku mau menghabisi nyawanya. Hanya saja aku pernah merasakan kehilangan. Hal itu sangat menyakitkan hingga membuat semangat hidupku hilang." Shazia memandang wajah Eva. "Aku tidak mau Eva merasakan hal seperti itu. Eva sudah seperti saudara bagiku. Aku tidak mau melihatnya bersedih," sambung Shazia lagi.
"Nona, anda benar-benar wanita yang baik. Terima kasih karena anda sudah mau memaafkan suami saya, Nona," ujar Eva sembari memegang kedua tangan Shazia.
__ADS_1
"Bukankah kita keluarga? Aku senang memiliki saudara sepertimu Eva," jawab Shazia. Mereka kembali berpelukan.
David berjalan mendekati Devid. Pria itu mengangkat tangannya dan merangkul Devid layaknya saudara. Devid sendiri membalas rangkulan David. Dua pria itu terlihat sangat akrab layaknya saudara kembar pada umumnya.
"Pemandangan yang indah bukan? Papa dan mama pasti senang melihat kita seperti ini," ucap David dengan wajah berseri.
"Ya. Sudah saatnya kita membuat mereka bangga. Selama ini aku sudah membuat mereka kecewa. Jika mereka masih hidup, mungkin aku sudah di usir dari rumah," jawab Devid.
Shazia dan Eva tersenyum bahagia. Pemandangan di depan mereka sangat indah hingga Eva tidak mau melupakan momen manis itu seumur hidupnya.
Walau kesalahan pahaman itu telah berhasil mendapatkan solusinya, tapi tetap saja hidup mereka sebagai mantan kriminal bisa selalu tenang. Masih banyak di luar sana yang ingin membalas perbuatan mereka di masa lalu. Terutama musuh bagi Shazia atau Devid. Namun, Kini mereka telah menjadi keluarga. Bersatu menghadapi musuh sangatlah mudah bagi mereka.
Shazia
David/Devid
Eva
Albert
Leah
__ADS_1
...~Tamat~...