
Sudah berhari-hari Shazia tertidur. Awalnya dokter yang memeriksa Shazia mengira Shazia hanya tertidur saja. Memang kondisinya saat pemeriksaan sama seperti orang tidur. Namun, ketika Shazia tidak sadarkan diri selama beberapa hari semua orang menjadi semakin panik.
Bahkan dokter yang tadinya mengatakan Shazia hanya tertidur kini terlihat ragu dengan hasil pemeriksaannya sendiri. Walau sudah mendapatkan obat penawarnya, tapi mereka tidak boleh memberi obat itu saat Shazia tidak sadarkan diri. Jadi, mau tidak mau mereka harus menunggu Shazia bangun lebih dulu.
"Shazia, dokter dan tim lab tidak berhasil mendeteksi racun di tubuhmu. Segala pemeriksaan sudah dilakukan namun tidak ada yang bilang kalau di dalam tubuhmu ada racun. Seharusnya semua tidak jadi masalah. Karena aku sudah memiliki obat penawarnya.
Tapi, obat penawar ini hanya boleh di konsumsi ketika kau sudah bangun. Shazia, bangunlah. Apa kau tidak lelah tidur selama beberapa hari seperti ini? Aku sudah bilang untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Kau pasti kelelahan hingga tertidur pulas seperti ini. Shazia, jika kau bangun aku akan mengabulkan keinginanmu. Apapun itu!" protes David sambil memandang wajah Shazia. Ia mengusap punggung tangan Shazia dan sesekali mengecupnya dengan lembut.
Tiba-tiba saja Shazia mulai menggerakkan jemarinya. David tertegun sebelum tersenyum. Kedua mata Shazia juga mulai bergerak dan terbuka lebar.
"Shazia, kau sudah bangun?" Namun David kembali terdiam. "Apa Shazia mendengar apa yang baru saja aku katakan?" gumam David di dalam hati.
Shazia memeriksa sekeliling kamar sebelum memandang David. Ia tersenyum kecil. "David, apa yang terjadi? Kenapa tubuhku terasa kaku semua?"
David menghela napas kasar. "Apa kau sudah bangun? Shazia, kau membuatku khawatir. Bisa-bisanya kau tidur hingga berhari-hari. Apa kau tidak lapar?"
Shazia mengeryitkan dahi. Bagi Shazia ia hanya tertidur sekitar satu jam saja. Tidak di sangka kalau sudah berhari-hari dia seperti itu.
"Berhari-hari?" tanya Shazia tidak percaya.
David mengangguk. "Duduklah. Kau harus minum."
__ADS_1
Shazia berusaha duduk di bantu oleh David. Wanita itu kembali mengingat kejadian sebelum ia tertidur. "Bagaimana dengan pria itu?"
"Jangan pikirkan dia. Sekarang, minum ini." David segera memberi obat penawar racunnya tanpa mau menunggu nanti-nanti. Ia takut Shazia tertidur lagi dan gagal memberikan obat penawar tersebut.
"Apa ini?"
"Obat agar kau tidak mudah tidur," jawab David asal saja.
Shazia tersenyum sebelum meneguk obat penawarnya. Sambil meneguk obat tersebut Shazia memandang wajah David dengan senyuman. "Apa dia menjagaku selama beberapa hari ini? Wajahnya terlihat sangat khawatir. Apa dia mengkhawatirkanku selama aku tidak sadarkan diri. Jika memang iya. Betapa senangnya hatiku," gumam Shazia di dalam hati.
***
Di sisi lain, Logan berada di ruangan dokter untuk membahas kondisi Devid saat ini. Dokter tersebut menunjukkan hasil pemeriksaan kepada Logan dengan begitu teliti. Walau memang masih selamat, tapi keadaan Devid sangat memprihatinkan. Seluruh tulangnya remuk hingga tidak bisa berfungsi dengan normal lagi.
"Ya, Tuan. Kakinya akan membusuk jika kami tidak melakukan tindakan. Bukan hanya itu saja, Tuan Devid juga akan mengalami koma dan tidak tahu kapan akan bangun," jelas dokter itu apa adanya.
Logan menghela napas. "Kira-kira harapannya untuk bangun berapa lama dok?"
"Kami tidak bisa memastikan. Tapi, paling cepat sekitar tiga bulan. Ada juga pasien yang bangun setelah beberapa tahun koma. Selain itu, ketika bangun nanti Tuan Devid tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya. Dia akan lumpuh total. Bahkan untuk menopang lehernya berdiri saja dia membutuhkan alat khusus."
"Separah itu?" celetuk Logan tidak percaya.
__ADS_1
"Benar, Tuan."
Logan diam sejenak. Sebuah rencana kini memenuhi pikirannya. Pria itu tersenyum kecil sebelum memandang dokter di depannya lagi.
"Dok, anda harus melakukan satu hal untuk saya."
"Apa yang bisa saya lakukan, Tuan?"
"Pastikan Tuan Devid tidak akan pernah bangun
Biarkan dia tetap hidup dalam keadaan koma seperti ini. Jika kondisinya menunjukkan tanda-tanda akan sadar, anda harus beri tahu saya dan kita harus segera mengambil tindakan agar dia tetap tertidur," ucap Logan dengan wajah serius.
"Tapi, Tuan ...."
Tatapan Logan berubah tajam. "Anda tidak berniat untuk menolak permintaan saya kan?"
Di tempat lain, Leah dan Albert saling memandang dengan wajah bingung. Tanpa di sadari Logan, di bawah meja tempat mereka mengobrol sudah di pasang alat penyadap suara. Dengan begitu Leah dan Albert bisa mendengar apapun yang dibicarakan Logan dan dokter tersebut di dalam sana.
"Logan benar-benar pria licik! Bahkan dia berkhianat kepada tuannya," ucap Albert masih dengan wajah tidak percaya.
"Aku yakin, sejak awal Logan memang memiliki tujuan sendiri berada di sisi Devid. Hanya saja kita tidak tahu sebenarnya apa tujuan utamanya," jawab Leah.
__ADS_1
"Kita harus memberi tahu rekaman ini kepada Tuan David. Dia harus tahu soal ini. Bagaimanapun juga ...Tuan Devid saudara kembar Tuan David."
Leah mengangguk setuju. "Kita harus segera pergi sebelum Logan menyadari keberadaan kita."