
Queen melamun memandangi Drian, ia sempat hendak bahagia tapi ia sadar bahwa Drian tidak lain hanyalah musuhnya jadi bisa saja Drian tengah mengerjai dirinya. Queen melanjutkan langkahnya setelah menghela nafas dalam-dalam, "Mau lu apa sih? Ngapain juga kayak gini? Mau merayakan perpisahan kita?" tanya Queen tersenyum miring.
"Enggak," Drian tersenyum sedikit.
Pelayan yang tadi menemani Queen di dapur langsung merebut mangkuk mie instan yang di bawa Queen.
"Kok di bawa Mba?" Queen semakin kebingungan.
Drian meraih tangan Queen dengan lembut, ia kemudian menarik Queen ke tengah, Drian menekukkan lutut kanannya, ia menyodorkan bunga yang ia genggam sedari tadi.
"Queen apapun keputusanmu nanti, aku hanya ingin bilang padamu kalau aku sangat mencintai kamu. Entahlah cinta ini munculnya darimana aku juga tidak tau, tapi aku benar-benar ingin mempertahankan pernikahan ini bukan hanya karena Daniel, melainkan karena aku ingin bersamamu," jelas Drian lembut.
Queen masih bingung, "Udah deh jangan bercanda, gak lucu Drian."
"Aku gak bercanda Queen, kita mulai kembali pernikahan kita mulai hari ini. Tapi bedanya pernikahan kita kali ini tidak di dasari paksaan," Sorot mata Drian berbinar.
"Tapi itu ada di tanganmu, jika kau ingin tetap mengakhiri pernikahan ini itu tidak masalah. Itu keputusan mu, tapi satu hal yang perlu kau tau aku kini sudah mencintaimu," lanjut Drian.
Queen menarik Drian untuk berdiri, setelah Drian berdiri tiba-tiba Queen memeluk Drian sambil menangis bahagia. Ia tadi sempat takut kehilangan Drian, tapi sekarang ia sudah punya jawaban kalau Drian tidak akan meninggalkan dirinya.
Drian membalas pelukan Queen, "I love You musuhku."
"I love you to," balas Queen penuh haru.
"Jadi mari kita rawat Daniel sampai besar, apa kau mau memberi Daniel adik?" tanya Drian jail.
Queen melepaskan pelukan Drian, kini ia menatap Drian dengan tangan yang masih merangkul pundak Drian, Queen tersenyum kecil.
"Jadi sekarang udah boleh?" tanya Queen menatap mulut Drian.
"Ah sudah lama aku menahannya," Drian langsung mengecup bibir tipis milik Queen, mereka berciuman cukup lama.
Drian menggendong Queen menuju kamarnya, "Gue gak nyangka pada akhirnya kita bakal saling suka juga," ujar Queen di pangkuan Drian.
"Sama, mungkin ini sudah takdir dari Tuhan makannya kita dipersatukan dengan terpaksa awalnya," balas Drian sembari senyum-senyum sendiri.
Drian membawa Queen ke kamarnya, ia menidurkan Queen di kasur lalu mematikan lampu utama di kamarnya menyisakan lampu tidur.
__ADS_1
"Kau tau aku sudah lama menahannya, jadi jangan berontak apapun malam ini," tegas Drian.
"Pelan-pelan, bagaimana pun ini kali pertama aku melakukannya."
"Aku tau itu," Drian langsung duduk di atas Queen, ia mencium kening Queen kemudian turun menuju bibirnya Queen.
Bibir Queen di cium cukup lama oleh Drian, Tangan Drian bergerak membuka kancing di pakaian Queen beserta pakaiannya. Setelah mereka berdua tidak menggunakan pakaian, Drian langsung kembali mencium Queen.
Mereka mulai larut beserta heningnya malam, aura dingin dari AC dari kamar itu tidak dapat mengalahkan aura panas dari tubuh mereka yang mereka keluarkan. Queen mulai berkeringat, dekapan dan sentuhan tangan Drian begitu menggebu aura panas.
Drian menutupi tubuhnya dan Queen menggunakan Selimut, Queen menutup dadanya karena malu, "Jangan di liatin dong malu tau," Queen berseri-seri.
Pipi Queen memerah karena malu ia juga berusaha mengalihkan pandangannya, "Jangan terus menatapku," Queen terus saja bicara.
"Diam lah aku sedang mengagumi tubuhmu," balas Drian merentangkan tangan Queen yang menutup dada Queen.
Drian kembali mencium Queen, mereka benar-benar hanyut di keheningan malam ini.
Suara teriakan dari keduanya mulai terdengar saat menyentuh puncaknya, Queen meremas seprai dengan kuat. Keringat dari tubuhnya mulai bercucuran, sama hal nya dengan Drian ia juga mulai berkeringat.
Setelah keduanya puas mereka langsung memilih untuk tiduran sangking lelahnya, mereka tidur masih tanpa busana. Sebelum melakukan ini tadi Drian ****** minum alkohol terlebih dahulu, karena ia tidak mau malu.
__________
Saat keesokan paginya Queen yang bangun duluan, sangking lelahnya semalam mereka berdua hari ini malah kesiangan. Queen langsung membangunkan Drian yang masih tidur di sampingnya, "Drian bangun udah jam 9 pagi ini," Queen menepuk-nepuk tangan Drian.
Drian bukannya bangun malah menarik kembali Queen ke pelukannya, "Biarkanlah aku masih ingin bersamamu."
"Gak usah lebay, lagian kita gak bakalan pisah juga kan," Queen berusaha melepaskan pelukan dari Drian.
Drian akhirnya terpaksa bangun, matanya yang masih sulit di buka ia paksa buka.
"Udah ayok mandi," Queen menarik Drian ke kamar mandi.
"Gimana kalau kita mandi bareng?" usul Drian.
"Mesum."
__ADS_1
"Udah sah ini apa salahnya."
"Ya udah ayok," Queen cengengesan.
Beberapa saat kemudian selesai mandi mereka langsung keluar dari kamar untuk sarapan, saat sedang bercanda tiba-tiba mereka kaget melihat ada Julian di ruang tengah yang ada di lantai satu.
Julian tersenyum miring melihat kedekatan Queen dan Drian, Queen langsung pura-pura cuek pada Drian dan berjalan sok anggun menghampiri Julian.
"Ngapain sepagi ini ke sini?" tanya Queen.
"Harusnya aku yang nanya, ngapain jam segini baru keluar kamar? Oh udah satu kamar berdua yah sekarang," ledek Julian sembari cengengesan.
"Apaan sih kak," Queen malu.
"Kedatangan kakak ke sini untuk melihat Daniel, eh kamu malah baru bangun jam segini, kalian gak ke kantor memangnya?" Julian menatap Queen dan Drian bergantian.
"Udah gak usah bahas itu, mending kita sarapan bareng aja yuk," Queen menarik Julian ke arah ruang makan.
"Sarapan apa jam 9, ini tuh udah mau masuk jam makan siang," ledek Julian kembali.
"Yah terserah akulah, udah ah mau ikutan enggak sarapannya?"
"Iyalah ikut, lapar juga aku nungguin kamu dari pagi keluar. Ngomong-ngomong kakak udah tau loh kejadian semalam, jadi kalian berdua akhirnya memutuskan untuk mulai dari awal nih ceritanya," Julian terus saja menggoda adiknya.
Queen melotot pada Julian, "Tau darimana?"
"Pelayan di rumah ini kan sama aja sama pelayan di rumah aku."
"Sialan."
"Udah gak usah di pikirin kakak ikut senang kok."
Mereka langsung sarapan bersama, kedatangan Julian ke sini juga tidak lain untuk meminta Queen dan Drian hati-hati karena ada saingan bisnis ayah nya yang terlihat bermain curang.
"Jadi kemarin asisten pribadi papah kecelakaan, menurut pemeriksaan polisi. Mobil yang di kendarai sengaja di sabotase oleh seseorang, sekarang papah sedang berusaha mencari bukti dan mencari tau siapa pelakunya," jelas Julian, raut wajahnya mulai serius.
"Keadaan dia gimana?" tanya Queen khawatir.
__ADS_1
"Masih kritis di rumah sakit, dia belum sadarkan diri. Kakak minta kalian untuk berhati-hati karena takutnya mereka juga mengincar kalian, di tambah kakak takut rahasia Wilona terbongkar, kakak bukan kasihan pada nama baik papah jika itu terbongkar tapi media akan mencaci Daniel juga nanti, kasihan Wilona di sana harusnya sudah tenang."
"Iya kakak benar, kita pokoknya harus lebih hati-hati lagi. Orang-orang emang agak gila cuman buat kekuasaan di dunia fana ini."