
Di sebuah ruangan sederhana, Logan duduk sambil memandang wajah Devid yang masih memejamkan mata. Ia terlihat bahagia dan sedang menceritakan sesuatu kepada pria yang koma tersebut.
"Apa Anda tidak lelah tidur saja, Bos?" tanya Logan pelan. Ia melirik berkas yang ada di tangannya dan beranjak. Logan berjalan mendekati posisi Devid.
"Tapi sepertinya anda sudah terlalu lelah menjelajahi dunia ini. Sekarang giliran saya yang menikmati hasil kerja keras kita selama ini. Anda sebaiknya tidur saja seperti ini dan jangan bangun lagi," ujar Logan sebelum tawanya pecah. Pria itu menarik tangan Devid dan meletakkan stempel jari Devid di berkas yang ia bawa. Setelah stempel jari Devid ia dapatkan, Logan mencampakkan tangan Devid begitu saja.
"Terima kasih, Bos. Saya akan kembali sambil memamerkan harta kekayaan yang akan segera menjadi milik saya. Anda sudah terlalu serakah sehingga kini takdir membuat anda cacat seperti ini. Tapi ... tidak jadi masalah juga. Menurut saya ini kabar baik. Jika anda seperti ini, itu berarti saya bisa bebas melakukan apa yang saya suka," ledek Logan dengan tawa yang tiada henti.
Logan melangkah pergi meninggalkan Devid di dalam sendirian. Ia tidak pernah tahu, kalau selama koma Devid hanya tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan berbicara. Namun, pria itu bisa mendengar dengan jelas suara yang ada di dekatnya.
***
David bangun lebih awal karena ingin menyiapkan kejutan untuk Shazia. Bahkan ia harus turun dari tempat tidur dengan hati-hati agar Shazia tidak terbangun. Setelah berpakaian rapi David segera keluar kamar untuk menemui Albert. Ia ingin memastikan kalau Albert sudah melakukan tugasnya dengan benar.
Di lantai bawah, Albert berdiri memandori beberapa pelayan yang sedang menyebar kelopak bunga mawar merah di lantai. Kelopak itu di buat menjadi sebuah jalan menuju ke kolam renang. Memang pagi ini kejutan yang dibuat David akan diadakan di dekat kolam renang.
__ADS_1
David yang baru tiba di lantai bawah merasa bahagia melihat semua orang sibuk membantunya membuat kejutan untuk Shazia. Ia berjalan mendekati Albert untuk memastikan semua sudah selesai sebelum Shazia bangun.
"Apa semua sudah selesai?" tanya David penuh antusias.
"Sedikit lagi, Bos," jawab Albert sambil memandang wajah David. Ia tersenyum melihat wajah ceria David yang seperti itu. "Sebenarnya kejutan apa yang sudah anda persiapkan, Bos?" tanya Albert penasaran. David hanya memberinya tugas untuk menghias rumah. Namun, benda apa yang akan diberikan David kepada Shazia, Ia sama sekali tidak tahu.
"Aku ingin mengajaknya bulan madu dan memberikan ini kepadanya." David memamerkan sebuah kunci mobil di hadapan Albert.
"Mobil?" celetuk Albert dengan suara pelan.
"Sekarang, di mana Nona Shazia, Bos? Apa Nona Shazia belum bangun?" tanya Albert sambil mencari.
"Ya. Sepertinya dia kelelahan karena olahraga tadi malam," jawab David tanpa sadar.
Albert menaikan satu alisnya. "Olahraga Bos? Olahraga apa yang anda lakukan di malam hari?" tanya Albert dengan wajah polosnya.
__ADS_1
David tersadar. Pria itu melirik Albert dengan wajah malu-malu. "Olahraga? Olahraga apa?" tanya David balik.
"Bukankah tadi anda sendiri yang bilang kalau tadi malam anda dan Nona Shazia habis-"
"Sepertinya aku harus memeriksa mobilnya. Aku harus memastikan kalau mobil itu sesuai dengan mobil yang diinginkan Shazia," potong David sembari menjauh dari Albert.
Sedangkan Albert berdiri di tempatnya dengan wajah bingung. "Kenapa aku merasa ada yang disembunyikan oleh Bos David?"
Di kamar, Shazia baru saja bangun tidur. Ia menggerakkan tubuhnya agar rasa pegal di tubuhnya hilang. Shazia memandang ke sisi kanan untuk melihat keberadaan David. Wajahnya kecewa ketika melihat David tidak ada di sisinya.
"Di mana dia? Dia pergi meninggalkanku saat aku masih tidur?" protes Shazia.
Shazia segera turun dari tempat tidur. Sebelum melangkah ia kembali ingat dengan percintaannya tadi malam. Shazia meraba lehernya dengan bibir tersenyum manis. Ia sangat bahagia bisa melewati malam indah nan manis itu bersama David.
"Seperti mimpi. Aku tidak menyangka bisa melakukannya." Shazia melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar mandi. Ia ingin segera membersihkan diri dan turun ke bawah untuk sarapan. Shazia juga sudah tidak sabar untuk memarahi David karena meninggalkannya begitu saja saat dirinya belum bangun.
__ADS_1