Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Jadi Dia Orangnya


__ADS_3

Drian kemudian memberikan berita yang ia cari dari Google menggunakan laptopnya, dimana berita itu mengenai kejadian dua tahun lalu korban dari kecelakaan itu adalah orang tua dari pria yang fotonya di kirim oleh Julian.


"Lalu mengapa pria itu balas dendam pada keluarga ku?" Tanya Queen menatap Drian.


Mereka duduk berdekatan, "Dari rumor yang beredar, ayahmu lah yang menabrak mereka. Karena saat kecelakaan yang menabrak mobil mereka kabur, sebenarnya ayahmu juga dekat dengan mereka sebelumnya. Itulah mengapa ayahmu juga berada dalam foto itu," jelas Drian.


"Kok kamu tau sih? Bahkan aku anaknya aja gak tau kalau papa kenal mereka?"


"Papa ku yang bilang, dia kan teman ayahmu juga."


"Ah begitu rupanya," Queen mengangguk mengerti.


"Papaku pernah bilang kalau ayahmu dengan keluarga di foto itu dulunya sempat dekat sekali, tapi entah apa yang terjadi beberapa tahun lalu sebelum mereka kecelakaan mereka ada konflik, ayahmu tidak menjelaskan konflik apa yang terjadi."


"Kedua anaknya selamat?"


"Iya, tapi anak perempuannya sekarang gila, dia tinggal di rumah sakit jiwa Dhamar sakti yang ada di jakarta pusat."


"Dia gila kenapa?"


"Dia terpuruk setelah di tinggal kedua orang tuanya, di tambah kantor keluarganya juga di lilit hutang jadi bangkrut."


"Jadi anak pria di foto ini adalah orang yang mau balas dendam itu."


"Mungkin saja, tapi kita tidak tau. Siapa tau yang teror kita hanya menjadikan mereka sebagai kambing hitam."


"Ah kau benar, tapi kapan-kapan aku ingin melihat perempuan itu, entah kenapa aku merasa sangat kasihan. Jika benar Papa yang telah menabrak mereka aku akan marah besar, setidaknya Papa harus tanggung jawab, tidak boleh lari seperti seorang pengecut."


"Ya sudah lebih baik kau istirahat sekarang, besok kita harus kerja," Drian mengusap kepala Queen seraya tersenyum manis.

__ADS_1


Queen ikut tersenyum, "Siap bocah nyebelin," ledek nya.


"Hey tidak sopan kau yah," Drian mencubit pipi Queen perlahan.


"Bodoamat," Queen melempar bantal ke wajah Drian lalu ia berlari ke kamar.


Drian bangkit dari duduknya dan mengejar Queen, setelah mendapatkan Queen ia langsung memeluk Queen lalu menggelitiknya, "Ini hukuman untukmu karena tidak sopan."


Queen tertawa, "Udah cukup! Cukup! Ampun iya deh iya gak bakalan gitu lagi."


Drian melepaskan Queen, setelah itu tiba-tiba Queen langsung naik tangga, "Tapi boong," Queen tertawa dan dengan sekuat tenaga ia berlari lagi.


Drian berkacak pinggang, "Baiklah Queen sekarang kau akan dapat hukuman yang jauh lebih serius," Drian kembali mengejar Queen sampai ke kamar, setelah di kamar Drian mengangkat Queen lalu menjatuhkannya ke sofa.


Queen malah tengah ketawa-ketawa.


Sementara itu di tempat lain seorang pria berjaket hitam tengah menemui Widia di kantor polisi, "Hanya itu yang kau tau?" tanya pria itu dengan tampang serius.


"Baiklah, akan aku keluarkan kau dari sini secepatnya."


"Bagus, aku sudah malas berada di penjara ini. Benar-benar menyebalkan, aku akan menghancurkan Drian juga, karena dia sudah berani mengkhianati ku," Widia terlihat sangat marah.


"Oke, aku juga akan berikan kau apartemen untuk tinggal setelah keluar dari sini. Di apartemen itu juga nanti kita susun semua rencananya."


"Oke Nick."


Nick adalah anak pria yang ada di foto tadi, ia benar-benar ingin keluarga Fernandez merasakan apa yang ia rasakan dulu. Semua ini ia lakukan demi membalaskan kematian orangtuanya.


Nick telah bekerja sama dengan Widia beberapa bulan terakhir ini, awalnya ia mencari tahu Widia karena sudah tau mengenai perjodohan antara Queen dan kekasih Widia, ia rasa Widia akan dapat ikut bersamanya untuk membalaskan dendam ini. Benar saja Widia bersedia ikut dengan Nick, Widia juga membocorkan mengenai masalah Wilona yang di tutup-tutupi selama ini.

__ADS_1


Selesai mengobrol dengan Widia, Nick langsung menemui adik perempuannya yang ada di rumah sakit jiwa, dari jendela pintu kamar rawat adiknya ia melihat adiknya tengah memeluk dua boneka yang adiknya anggap adalah orang tuanya.


Nick merasa sakit melihat itu, dadanya begitu tertusuk. Dalam pikirannya Tuhan benar-benar tidak adil, karena orang yang telah berbuat seenaknya pada keluarganya malah tengah bahagia sekarang, tanpa peduli sedikitpun padanya.


"Kau sabar yah sayang, mereka pasti akan dapat imbalan yang sepadan, aku tidak akan pernah lagi membiarkan mereka berbuat seenaknya. Aku sudah menahan balas dendam ini selama dua tahun, kini mereka benar-benar akan merasakan amarahku," gumam Nick dengan amarah yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.


Nick di hampiri seorang perawat yang selama ini menjaga dan mengobati adiknya, "Sebaiknya kau temui adikmu," ucap perawat itu.


Nick menatap perawat di sampingnya, "Tidak sekarang, aku akan menemuinya setelah aku berhasil membalaskan semuanya."


Perawat itu memberi Nick senyuman, "Apa kau benar-benar ingin balas dendam? Jika kau kenapa-napa nanti, bagaimana dengan adikmu? Setiap saat dia selalu menanyakan kamu."


"Aku akan tetap balas dendam, aku tidak peduli apapun yang terjadi padaku nanti. Setidaknya mereka harus merasakan apa yang ku rasakan dua tahun yang lalu."


Perawat itu menghela nafasnya lalu menatap adiknya Nick dengan tatapan yang begitu dalam, "Yang kau hadapi bukan orang biasa, tapi aku harap kau berhasil. Setelahnya temui adikmu."


"Baik, ya sudah aku pamit," Nick pergi dari sana, ia sudah tidak kuat melihat adiknya.


Ia benar-benar merasa gagal sebagai seorang kakak, ia gagal melindungi semua orang yang ia cintai.


____________


Nick sampai di rumahnya, rumah yang tidak terlalu megah dan mewah. Sebenarnya masih ada orang di balik Nick yang membantu Nick membalaskan dendam itu, orang itu jugalah yang mendanai semua kebutuhan Nick untuk balas dendam.


Saat di ruang tengah Nick memandangi sebuah foto besar keluarganya, "Inilah saatnya, aku sudah benar-benar siap melakukan ini. Ada pria baik yang membantuku, dia adalah pria yang merawat dan mendidik ku juga selama dua tahun ini, aku yakin semuanya akan berjalan dengan lancar," gumamnya dalam hati.


Sementara itu di rumah Fernandez tengah melamun di ruang kerja sembari menikmati kopi dan sebatang rokok, Julian datang menghampiri ayahnya.


"Pa jika Papa membolehkan aku akan membantu Papa untuk mencari siapa pelakunya," jelas Julian.

__ADS_1


"Tidak usah, jangan ikut campur dengan urusan ku. Kau fokus saja dengan kerjaan mu, yang perlu kau lakukan hanya jaga diri saja," bentak Fernandez.


"Papa akan selesaikan masalah ini secepatnya," lanjut Fernandez yang enggan membalas tatapan Julian.


__ADS_2