Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Kecurigaan Shazia


__ADS_3

Shazia tersenyum mendengar cerita Leah dan Eva. Tidak di sangka ketika Leah dan Eva bertemu, mereka berdua sangat cocok sekali. Bahkan terlihat kompak walau sebelumnya tidak pernah bertemu.


Namun, saat suasana ruangan itu terasa sangat asyik. Tiba-tiba saja David muncul. Pria itu memandang wajah Shazia dan berjalan mendekat. Leah dan Eva terlihat bingung karena mereka tidak mau mengganggu sepasang suami istri tersebut.


"Bos, saya harus pergi karena ada urusan yang harus saya selesaikan." Leah melirik jam di tangannya sebelum memandang wajah Shazia lagi. "Saya akan kembali nanti."


"Urusan apa?" ketus Shazia. Ia tahu kalau alasan itu hanya alasan yang di buat-buat saja oleh Leah. Belum sempat Leah menjawab, tiba-tiba Eva juga ingin pergi dari ruangan tersebut.


"Nona, saya harus pulang ke rumah untuk mengambil makan malam."


"Makan malam? Apa tidak ada yang bisa mengantarkannya ke sini?" protes Shazia lagi.


"Nona, anda sedang sakit. Saya ingin memastikan langsung kalau masakan yang di masak koki kita sehat dan cukup gizinya untuk anda," jawab Eva dengan senyuman.


Shazia hanya bisa menghela napas kasar. "Pergilah? Kalian berdua benar-benar tidak berguna!" umpat Shazia kesal.


David yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum kecil. Ia berjalan ke arah tempat tidur Shazia karena memang ingin melihat wajah Shazia dari jarak yang dekat.


"Saya permisi, Tuan," ucap Eva sebelum melangkah pergi bersama Leah. Dua wanita itu pergi dari sana dan membiarkan Shazia berduaan dengan David saja.


Setelah Eva dan Leah menghilang di balik pintu, David duduk di sisi ranjang Shazia. Ia memegang tangan Shazia dan mengusapnya lembut.


"Aku akan menyiapkan dokter terbaik untuk menghilangkan luka di wajahmu," ucap David dengan nada yang lembut.


Shazia menarik tangannya dengan kasar. "Tidak perlu. Apa kau malu memiliki istri jelek sepertiku. Hingga akhirnya memikirkan hal seperti itu?" ketus Shazia masih dengan wajah jutek.


David menggeleng. "Tidak sama sekali. Aku hanya tidak mau kau sedih. Bukankah wanita itu aset utamanya ada di wajah?"


"Berbeda denganku. Aku tidak terlalu pusing memikirkan wajahku," jawab Shazia asal saja. Toh dia lebih sering memakai topeng jika ingin melakukan aksinya.


David merasa kalah jika berdebat dengan Shazia. Hingga akhirnya ia memutuskan diam dan memandang ke arah lain. Sebenarnya saat ini pikiran David belum bisa tenang. Ia terus saja memikirkan cara membebaskan Albert dan lolos dari perangkap yang akan di buat Devid.


Shazia melirik wajah David secara diam-diam. "Kenapa dia diam saja? Jika seperti ini, aku yang bingung harus berbicara apa," gumam Shazia di dalam hati.

__ADS_1


Suasana di ruangan itu menjadi sunyi ketika David tidak lagi berbicara. Shazia sendiri masih gengsi untuk bertanya-tanya dan mengajak David mengobrol. Hingga tidak lama kemudian, ponsel David berdering. Shazia dan David yang sama-sama melamun harus kaget karena sering ponsel tersebut.


David yang merasa bersalah karena sudah membuat Shazia kaget hanya bisa mengatakan maaf. Pria itu segera mengangkat panggilan teleponnya.


"Ya, ada apa?"


"Tuan ... Tuan Devid sudah tiba di rumah. Ia meminta semua orang memanggilnya dengan nama Anda."


"APA?!"


Teriakan David membuat Shazia penasaran. "Apa yang terjadi? Kenapa ekspresi wajahnya berubah seperti itu?" gumam Shazia di dalam hati.


"Bukan hanya itu saja, Tuan. Tuan Devid datang bersama orang-orangnya dan membunuh orang yang setia kepada Anda," sambung pria itu lagi.


David diam sejenak. Ia tidak tahu harus apa saat ini. David benar-benar bingung. "Pergilah. Selamatkan dirimu!"


"Baik, Tuan. Anda juga harus hati-hati!"


"Eva, kembalilah ke rumah sakit!"


"Tapi, Tuan ...."


"Kembali jika kau tidak ingin celaka!" ancam David.


"Ba ... baik, Tuan."


Setelah mendengar Eva akan kembali, David bisa sedikit tenang. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku sebelum mengusap wajahnya dengan kasar. Shazia masih diam membisu dengan wajah penasaran.


"Bagaimana ini? Apa aku harus bertanya?" gumam Shazia di dalam hati.


Tiba-tiba saja David beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke sofa. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa dan berbaring di sana. Terlihat jelas kalau kini ada banyak masalah yang membebaninya.


"Kenapa dia menjauh?" umpat Shazia kesal. Bahkan Shazia lebih kesal lagi ketika melihat David memejamkan mata tanpa mau menceritakan apapun kepadanya. Hingga akhirnya Shazia memutuskan untuk mengambil gelas dan memecahkannya di lantai.

__ADS_1


PRANKKK


David terlihat khawatir dan segera berlari mendekati Shazia lagi. "Apa yang terjadi? Apa semua baik-baik saja?"


Shazia diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan David. "Aku ingin ke kamar mandi tapi kakiku sakit!" lirih Shazia dengan suara memelas.


David memandang ke arah kamar mandi sebelum memandang wajah Shazia lagi. "Mau aku bantu?"


"Tidak mau! Aku bisa jalan sendiri!" ketus Shazia.


Namun, tiba-tiba saja David mengangkat tubuh Shazia. Pria itu melangkah menuju ke kamar mandi dengan langkah yang pelan. Wajah Shazia langsung memerah. Tadi rencananya hanya ingin mendapat perhatian David agar tidak di tinggal tidur. Tapi kini ia justru harus ada di dalam gendongan David.


"Aku ingin pulang," lirih Shazia pelan.


David menahan langkah kakinya. Ia mengeryitkan dahinya dan memandang Shazia dengan wajah sedih. Shazia mengangkat kepalanya dan membalas tatapan David.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Shazia lagi.


"Kau belum sembuh. Setelah sembuh kita akan pulang."


"Aku ingin pulang hari ini juga!" bantah Shazia tanpa mau di tolak.


David diam dan melamun. Hal itu membuat Shazia semakin ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi.


"Ada apa?"


"Tidak ada. Aku hanya berpikir, tubuhmu ini sangat ringan. Bagaimana bisa kau menggendongku waktu itu?"


Shazia melebarkan kedua matanya. Tiba-tiba ia berontak hingga terjatuh dari gendongan David. "Aku serius! Aku tidak sedang bercanda!" protes Shazia kesal. "Apa yang terjadi di rumah hingga kau meminta Eva untuk kembali?" teriak Shazia dengan suara keras.


David menghela napas kasar. Walau Shazia sudah tidak ada di gendongannya, tapi David berusaha menahan tubuh Shazia agar tidak terjatuh. David menyentuh pipi Shazia dan mengusapnya dengan lembut. "Devid ada di rumah. Dia membunuh semua orang yang kini berada di pihakku!"


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2