
"Beri aku waktu, David." Shazia memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa berlama-lama memandang wajah pria yang sudah membuat hatinya bimbang itu.
"Baiklah. Malam ini kau harus memberiku jawaban. Shazia, aku akan berusaha menerima keputusan yang kau katakan. Tapi, kau harus tahu kalau aku sangat berharap kau bisa memberi jawaban yang membuatku tersenyum. Bukan merasa kehilangan."
Shazia tersenyum kecil. "Aku harus memikirkan semuanya. Kau pasti tahu hidupku itu bebas. Aku tidak suka terikat oleh apapun dan menetap di satu tempat."
"Aku tahu ini sangat berat bagimu, Shazia. Aku sudah bertahun-tahun merasakan kesepian. Bukan karena tidak memiliki keluarga. Aku juga tidak memiliki teman. Setelah bertemu denganmu, aku tidak lagi merasa sendiri. Aku mulai sadar kalau hidupku tidak sendirian lagi."
Saat itu tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca dari arah dapur. Shazia dan David yang sama-sama mendengar jelas pecahan kaca tersebut terlihat panik.
"Apa yang terjadi?" tanya Shazia kepada David.
"Aku juga tidak tahu," jawab David.
"Ayo kita periksa," ajak Shazia sembari berlari menuju ke dapur. David juga mengikuti Shazia dari belakang.
Setibanya di dapur, Shazia dan David melihat Eva yang sedang memunguti pecahan kaca. Wanita itu menunduk hingga tidak sadar kalau David dan Shazia ada di sana.
"Eva, apa yang terjadi?" tanya Shazia sebelum berjongkok di depan Eva.
"Nona, apa yang anda lakukan? Ini berbahaya. Biar saya yang membereskannya," pinta Eva.
Shazia memegang tangan Eva dan mengajak wanita itu berdiri. "Ada apa! Apa kau sakit?"
Eva menggeleng pelan. Namun, wajahnya yang pucat sama sekali tidak bisa menipu Shazia. "Saya baik-baik saja Nona."
__ADS_1
"Eva pasti kelelahan. Selama kau tidak sadarkan diri, Eva selalu menjagamu. Apa lagi saat aku atau Leah tidak ada di rumah sakit," sambung David cepat.
"Benarkah seperti itu, Eva? Kenapa kau tidak istirahat saja. Air minum ini untuk siapa?" Shazia melihat gelas yang pecah di lantai. Ada genangan air warna cokelat yang menurut Shazia itu adalah air teh.
"Untuk anda, Nona."
Shazia tersenyum. "Sekarang kembalilah ke kamarmu. Aku akan meminta pelayan lain untuk membersihkannya."
"Tapi, Nona-"
"Eva, aku akan menghukummu jika kau tidak menurut!" ancam Shazia hingga membuat Eva tidak memiliki pilihan lain. Mau tidak mau wanita itu menuruti perintah Shazia.
"Baiklah, Nona. Saya permisi dulu, Nona." Eva berjalan pergi menuju kamar tidurnya. David dan Shazia masih ada di dapur dengan tingkah laku yang aneh. Mereka terlihat canggung dan tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Kenapa dia diam saja," gumam Shazia di dalam hati.
David seolah mengerti wajah bingung Shazia. Ia tersenyum dan berjalan mendekat. "Shazia, istirahatlah di kamar. Aku harus pergi. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Aku akan segera kembali setelah masalahnya selesai."
"Baiklah. Hati-hati," ucap Shazia pelan. Ia berjalan melewati David dengan kepala menunduk.
David yang melihat tingkah laku Shazia hanya bisa menggeleng pelan. "Bagaimana bisa wanita sepolos itu adalah seorang big Boss mafia?" gumam David di dalam hati.
***
Waktu terus berlalu. Shazia baru saja selesai mandi. Ketika ingin ke lemari, Shazia menahan langkahnya melihat ada kotak di atas meja. Hatinya tertarik untuk melihat isi di dalam kotak tersebut sebelum nanti membalut tubuhnya dengan pakaian.
__ADS_1
"Kotak apa ini?" Kotak berwarna hitam dengan pita warna merah itu benar-benar menarik perhatiannya. Shazia memeriksa sekeliling untuk memastikan tidak ada yang memiliki kotak tersebut.
"Tadi sebelum mandi aku tidak melihatnya. Apa aku yang salah lihat ya?" gumam Shazia masih dengan wajah ragu. Ia takut jika nantinya membuka kotak yang tidak seharusnya menjadi miliknya. Sebuah kertas terjatuh di atas pangkuannya. Shazia membuka surat tersebut dan membaca isinya.
_Shazia, aku akan mengajakmu untuk makan malam. Aku ingin memberi sebuah kejutan untukmu. Setelah itu, kau boleh memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan kita. Aku harap kau suka debgan pilihanku_ David
Shazia tersenyum. Ia semakin senang ketika tahu isi kotak tersebut untuk dirinya. Sesegera mungkin Shazia menarik pita merahnya dan membuka tutup kotaknya.
Di dalamnya Shazia melihat sebuah gaun berwarna hitam. Shazia mengambil gaun tersebut untuk melihatnya dengan jelas.
David memilih gaun panjang semata kaki dengan taburan mutiara hitam di bagian dadanya. Belum di pakai saja gaun itu sudah terlihat indah dan cocok di tubuh Shazia.
"Aku jadi tidak sabar untuk mencobanya," gumam Shazia di dalam hati. Ia segera membawa gaun tersebut dan memakainya.
Setelah gaun itu melekat di tubuhnya, Shazia sedikit kesulitan memasang resleting yang ada di belakang gaun. Segala usaha sudah ia coba namun tetap saja tidak bisa. Di tambah lagi harus ada tali kecil yang memang harus di ikat untuk memperindah gaun yang ia kenakan.
"Bagaimana ini?" gumam Shazia bingung. Ia kembali ingat dengan Eva. Shazia mengambil ponselnya dan memutuskan untuk meminta Eva datang ke kamarnya.
"Semoga saja Eva tidak sedang tidur." Shazia menekan nomor Eva sebelum melekatkannya di telinga.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?"
Shazia tersenyum. "Eva, apa kau bisa datang ke kamarku? Aku butuh bantuanmu."
"Baik, Nona. Saya akan segera ke sana."
__ADS_1
Shazia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Ia memandang dirinya sendiri di depan cermin dengan wajah bahagia.
"Bagaimana bisa ukuran gaun ini sangat pas di tubuhku? Ini pertama kalinya ada pria yang memberiku hadiah. Apa memang David adalah jodohku? Apa aku harus memilihnya dan meninggalkan kebebasan yang selama ini aku miliki?"