Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Gedung Tua


__ADS_3

Fernandez sampai di sebuah gedung, ia segera turun dari mobilnya dan masuk ke gedung itu. Julian dan yang lain ikut turun dari mobil, saat Queen hendak mengikuti mereka Queen di minta untuk diam di mobil saja oleh Drian.


"Tapi aku gak mau, aku harus ikut masuk," kekeh Queen.


"Queen yang suamimu katakan benar, kau diam saja di mobil," pinta Julian.


"Gak mau Kak."


"Queen, kakak bilang diam di mobil," bentak Julian.


"Ba-baiklah," balas Queen sembari memasang wajah cemberutnya, wanita itu kembali masuk ke mobil.


Drian dan Julian langsung saja masuk ke gedung, di luar tidak ada penjagaan jadi mereka bebas masuk begitu saja ke gedung itu, mereka terus mengikuti ayahnya yang pergi ke pantai dua dan masuk ke sebuah kamar.


Di luar kamar ada dua orang penjaga yang mempersilahkan Fernandez masuk, Julian dan Drian mengintip di balik pilar.


"Kita gimana sekarang?" tanya Drian menunggu keputusan Julian.


"Kita buat mereka berdua pingsan secara diam-diam, walaupun gue anaknya mereka bakal tetep nahan gue biar gak masuk dan ganggu urusan Papa," balas Julian.


"Baik."


Mereka berdua secara diam-diam mendekat pada kedua orang yang menjaga pintu kamar, lalu dari arah belakang dengan bersamaan mereka memukul kepala kedua orang itu sampai pingsan.


Setelah keduanya pingsan Drian mencari kunci di saku pria tadi, setelah mendapatkan kunci kamar Drian tidak langsung masuk melainkan mengintip dari celah pintu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam.


Fernandez tengah duduk di hadapan Nick yang sedang terikat, Nick menatap Fernandez dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


"Aku membawamu ke sini untuk minta maaf dan menceritakan semua yang terjadi padamu, maaf karena terlalu kasar saat membawamu ke sini. Andai kau tidak melawan mungkin kau tidak akan seperti ini," jelas Fernandez yang ingin bicara baik-baik pada Nick.


"Dasar pria pengecut, kau telah lari dari hukumanmu. Kau sudah menghancurkan keluargaku sialan," bentak Nick sembari mulut bergetar sangking marahnya.


Fernandez mengeluarkan sebuah berkas dari tasnya, "Ini adalah bukti perjanjian ayahmu dengan saya, kita sudah berjanji untuk membagi dua perusahaan yang kita bangun. Kau pasti mengenal tanda tangan ayahmu bukan?"


"Masalahnya bukan itu sialan," Nick masih saja memaki Fernandez.


"Akan ku jelaskan dari awal, kau ingin tau mengapa perusahaan ayahmu bangkrut kan?"


"Perusahaan ayahku bangkrut karena kau sialan."


"Kau salah paham Nick, perusahaan ayahmu bangkrut karena ayahmu tidak mampu membayar hutang. Kau lihat rekaman ini," Fernandez membuka laptopnya lalu memperlihatkan sebuah rekaman yang ia ambil dari kemera CCTV Kantornya.


Rekaman itu menunjukkan bahwa ayahnya Nick tengah marah-marah di kantor Fernandez karena Fernandez tidak mau membantu ayahnya melunasi hutang perusahaan.


Fernandez menghela nafasnya, "Saya tidak pernah punya niatan sedikitpun untuk membunuh mereka, saya minta maaf."


"Jadi benar kau yang telah membunuh mereka?"


"Anak saya yang telah melakukan itu, kecelakaan itu benar-benar tidak di sengaja. Wilona sedang mabuk kala itu, jadi karena sekarang kau sudah tau semuanya kau harus mati," Fernandez mengeluarkan pistol dari saku bajunya dan ia arahkan langsung ke kepala Nick.


Julian dan Drian datang, Julian menepis pistol itu hingga pistol itu terlempar ke tanah. Fernandez yang melihat itu langsung marah pada anaknya, "Apa-apaan kalian ini?" bentak Fernandez.


"Pa jangan lakuin itu," pinta Julian yang kini ada di hadapan Fernandez.


"Tapi dia memang berhak untuk mati, dia sudah berani-beraninya menganggu keluarga kita," balas Fernandez.

__ADS_1


"Dia hanya ingin meminta hak atas apa yang terjadi pada keluarganya," tegas Julian.


Nick berhasil melepaskan ikatan di tangannya, setelah ia merasa semua orang kini tidak memperhatikannya ia langsung lari dengan sekuat tenaga ke arah pistol yang tergeletak di lantai, Nick mengambil pistol itu lalu ia tembakan ke arah Julian karena menurutnya dengan kematian Julian, Fernandez juga akan merasakan apa yang ia rasakan, sebuah rasa sakit akibat kehilangan.


Queen yang datang dan melihat Nick akan menembak kakaknya langsung berlari tanpa pikir panjang, Queen berdiri di belakang Julian untuk melindungi Julian dari tembakan Nick.


Perut Queen tertembak, Drian langsung melemparkan kursi ke arah Nick sampai Nick terjatuh dan pistol itu kembali terlempar, Drian marah karena Nick menembak Queen, ia langsung menghampiri Nick dan menghajar Nick.


Queen terjatuh ke pangkuan Julian sembari memegang perutnya, darah segar mulai bercucuran dari perut Queen. Fernandez dan Julian sangat panik sekarang, "Sayang bertahanlah!" pinta Fernandez.


"Mengapa kau malah datang ke sini? Bukannya Kakak bilang diam di mobil," Julian malah marah-marah.


"Aku awalnya hanya ingin memastikan Papa tidak berbuat nekat pada Nick, karena aku sudah berjanji pada adiknya kalau aku harus membawa dia dalam keadaan selamat," jelas Queen dengan nada yang sudah sangat melemah.


Drian masih memukuli Nick, padahal Nick sudah tidak kuat untuk melawan sedikitpun, "Kau memang benar-benar harus mati, kau tau?" Drian berhenti menghajar Nick hanya untuk memberitahunya bahwa kedatangan Queen ke sini untuk membawa Nick pulang dengan selamat.


"Wanita itu datang ke sini untuk menyelamatkan mu karena sudah berjanji pada adikmu, tapi kau malah menembaknya? Sialan kau, jika nyawanya sampai tidak selamat, kau akan menyesali ini hingga akhirat sekalipun. Aku akan membunuh adikmu juga, kau tau itu?"


Nick menggenggam celana Drian sambil menangis, "Ini salahku jadi lampiaskan saja semuanya padaku, jangan pada adikku," mohon Nick yang masih sadar.


Drian menendang Nick, "Wanita itu dan kakaknya juga tidak salah apapun, mengapa kau malah ingin menembak Julian?" bentak Nick.


Saat Nick ingin kembali bicara Drian yang emosi langsung menendang kepala Nick sampai Nick tidak sadarkan diri, Julian langsung menarik Drian agar pergi dari sana karena Queen mulai tidak sadarkan diri juga, mereka harus cepat-cepat ke rumah sakit.


Fernandez membawa Queen masuk ke mobil sambil berlari, ia menangis karena tidak mau kehilangan anaknya untuk kedua kalinya, ia terus memohon pada Tuhan untuk menyelamatkan Queen.


Selama perjalanan mereka terus panik dan berdoa, Fernandez meminta anak buahnya yang lain untuk mengurus Nick. Jika Nick masih hidup Fernandez memintanya untuk membawa Nick ke rumah sakit juga.

__ADS_1


__ADS_2