
Beberapa hari kemudian.
Shazia memang tidak langsung bertindak setelah ia mendapat kabar buruk itu. Ia membiarkan Devid bersenang-senang di rumah David selama beberapa hari. Leah juga melarang Shazia untuk melakukan aksinya karena kondisi Shazia yang belum sembuh total. Sayangnya rumah sakit dan para tim dokter sudah ada di bawah aturan Lohan. Maka dari itu, tidak satu orangpun memberi tahu keadaan Shazia yang sebenarnya.
Siang ini David dan Shazia sedang bersiap-siap meninggalkan rumah sakit. Luka di wajah Shazia yang masih terlihat kemerahan terkadang berhasil membuat David sedih. Namun, mau bagaimana lagi. Shazia tidak mau fokus mengurus wajahnya kali ini. Ia jauh lebih tertarik untuk menghadapi Devid dan mengalahkan saudara kembar suaminya tersebut.
"Shazia, apa tidak sebaiknya kita pulang saja ke apartemenku yang ada di luar kota. Aku juga punya pulau yang mungkin bisa aman untuk kita tinggalin. Hanya rumah seperti itu, aku tidak keberatan sama sekali jika Devid menginginkannya," bujuk David sambil menatap wajah Shazia.
Sejak Shazia mengajaknya untuk berkunjung ke rumah itu, di saat itulah hati David tidak lagi tenang. Ia tidak tahu harus bagaimana karena memang hingga detik ini saja ia tidak tahu bagaimana kabar Albert dan cara menyelamatkan pria itu.
"Tidak, aku mau pulang ke rumah itu. Rumah lama kita," jawab Shazia santai. Ia masih fokus dengan ponselnya karena harus memberi perintah kepada The Felix dan Leah.
"Shazia, tapi ...."
Shazia menurunkan ponselnya dan memandang wajah David. "Kau takut?"
David menggeleng pelan. "Aku tidak pernah takut kepada Devid. Aku hanya tidak ingin bermusuhan dengannya."
"Tapi dia yang lebih dulu mengajakmu bermusuhan. Bagaimana bisa saudara kembar memiliki niat untuk menyingkirkan kembarannya? Membiarkan kembarannya berada di belakang layar!" protes Shazia dengan wajah tidak setuju.
"Dia seperti itu karena sejak kecil aku yang selalu unggul. Dia iri padaku, Shazia. Padahal memang sejak dulu aku tidak pernah memiliki niat untuk menjadi lebih unggul darinya," jelas David sambil mengenang masa kecilnya dulu.
"Oke, apapun alasannya. Perbuatan pria itu tidak bisa di biarkan. Kita harus menemuinya dan memberi pelajaran!" ujar Shazia mantap.
David hanya bisa menghela napas. Ia dan Shazia berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Walau langkah David terasa berat, tapi ia berusaha tetap tenang di depan Shazia. David tidak mau memandang dirinya sebagai pria tidak berguna dan lemah.
__ADS_1
"Shazia, andai kau tahu kalau aku tidak mau kehilangan dirimu. Aku rela kehilangan berapapun harta yang kini aku miliki. Tapi tidak dengan dirimu. Bagaimana kalau ini memang jebakan yang sengaja dilakukan Devid agar ia bisa memilikimu?" gumam David di dalam hati. Bahkan hingga detik ini David tidak pernah tahu sebenarnya siapa Shazia. Shazia sendiri juga tidak mau menceritakan kebenarannya. Di mata David, Shazia adalah wanita jalanan yang menguasai ilmu bela diri karena keadaan.
Sedangkan Shazia, dengan hati penuh dendam kini sudah bisa membayangkan bagaimana perihnya luka yang akan ia berikan kepada Devid nanti. Sudah lama ia menunggu momen seperti ini tiba bahkan harus rela menjadi istri David demi mendapatkan petunjuk dari musuh bebuyutannya.
"Ini benar-benar aneh. Aku menikah dengan pria yang menjadi saudara kembar musuhku. Aku tahu kalau David tidak akan mengizinkanku membunuh Devid. Dari tatapan matanya, dia pria yang pengasih. Tapi ... maaf David. Aku melakukan semua ini bukan semata-mata demi dirimu. Tapi untuk diriku sendiri.
Aku harus membalas kematian dua orang yang aku sayangi. Mereka tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. Setelah dendam ini terbalas, aku serahkan semuanya kepada takdir. Apa kita masih bisa bersama atau harus berpisah. Tujuan hidup kita terlihat berbeda.
Kau pria yang baik dan pengasih. Sedangkan aku? Aku lebih suka cara kasar dan menyakiti jika ingin mendapatkan sesuatu," gumam Shazia di dalam hati sambil sesekali memandang wajah David. Ia sangat yakin kalau hari ini penyerangan yang ia lakukan bersama The Felix pasti akan membuahkan hasil.
***
PLAKKKK
"Kenapa? Sakit?" Logan menarik rambut Albert dengan kasar. Ini bukan pertama kalinya Logan menyiksa Albert.
Beberapa hari yang lalu pria itu juga sudah menghajar Albert yang dalam kondisi tubuh terikat. Ada banyak sekali luka di sekujur tubuh dan wajah Albert saat ini. Bahkan beberapa darah telah kering sendiri. Tidak di beri makan dan hanya sesekali di beri air. Devid dan Logan benar-benar menyiksa Albert kali ini.
"Kenapa kau diam saja? Bukankah selama ini kau yang paling banyak berbicara? Kau memintaku untuk diam dan duduk manis mendengarkan apa yang kau jelaskan? Bagaimana rasanya? Apa enak?" ledek Logan lagi. Logan menarik tangannya tinggi-tinggi lalu setelahnya mengepalnya dnegan kuat. Ia sudah tidak sabar memberi pukulan berikutnya kepada Albert.
"Hentikan, Logan. Dia bisa mati!" cegah Devid sebelum pukulan Logan mendarat sempurna di wajah Albert.
Logan memandang wajah Devid dan merapikan penampilannya. "Maafkan saya, Bos. Saya hampir lupa kalau anda ada di sini juga."
Devid tersenyum kecil. "Di mana Frank?"
__ADS_1
"Frank? Bukankah dia pergi untuk memeriksa rumah sakit?" jawab Logan.
Devid diam sejenak. Berbicara soal rumah sakit ia kembali ingat dengan Shazia. Selama beberapa hari ini memang Devid sudah mengirim mata-mata untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan Shazia.
"Bos, apa yang anda pikirkan?"
"Soal Shazia. Bukankah seharusnya hari ini dia pulang dari rumah sakit. Sepertinya akan sangat seru jika aku datang untuk menjemputnya." Devid memandang wajah Logan meminta pendapat. Logan yang masih kesal dengan Shazia hanya bisa mengumpat di dalam hati.
"Bos, pria lemah itu ada di sisinya. Nona Shazia tidak akan mau ikut dengan Anda!"
"David maksudmu?" Tawa Devid pecah seketika. Ia kembali meneguk minumannya dan memandang ke arah Albert. "Bahkan benteng pertahanannya ada di sini. Bagaimana bisa dia mencegahku membawa Shazia pergi."
"Bos, anda tidak bisa lupakan profesi Nona Shazia?" tekan Logan lagi agar Devid tidak terus menyepelekan Shazia. Logan sendiri sempat syok ketika tahu Shazia adalah Big Boss The Felix. Namun, di dalam hati Logan ia sangat yakin kalau mereka pasti bisa mengalahkan The Felix termasuk Shazia. Sudah bertahun-tahun ini Logan memperkuat pasukan milik Devid.
"The Felix maksudmu?" sambung Devid serius.
"Benar, Bos."
"Kau tenang saja. Aku sudah tahu bagaimana cara menghadapi mereka. Tanpa susah-susah aku akan membuat Shazia datang sendiri ke pangkuanku."
Logan mengeryitkan dahinya. Ia tahu bagaimana kerasnya Shazia. Tidak mungkin wanita itu akan menyerahkan dirinya sendiri kepada Devid nanti.
"Bos, bagaimana caranya?"
Devid memandang wajah Albert dengan tatapan kebencian. "Kau bisa lihat sendiri nanti!"
__ADS_1