
Dua hari kemudian.
Shazia dan David ada di dalam kamar untuk memilih beberapa barang penting yang akan mereka bawa bulan madu nanti. Sambil sesekali melihat ponselnya, Shazia terus saja memandang wajah David yang terlihat sangat sibuk.
"Kenapa ekspresi wajahnya terlihat aneh? Sebenarnya apa yang dia pikirkan?" gumam Shazia sebelum kembali memilih barang yang mau dia bawa.
Mereka tidak hanya berdua. Ada banyak pelayan wanita yang akan membantu mereka merapikan barang-barang penting tersebut. Salah satunya Eva. Wanita itu duduk di dekat Shazia sambil memeriksa barang yang dibutuhkan Shazia selama perjalanan.
"Nona, semua sudah selesai," ucap Eva dengan senyuman. Momen bulan madu ini bukan hanya menjadi momen membahagiakan bagi Shazia dan David saja. Seluruh isi rumah sangat bahagia mendengarnya bahkan semua orang mendoakan agar ketika nanti Shazia kembali ia sudah membawa David junior di rahimnya.
"Terima kasih, Eva. Bisakah kau tinggalkan kami berdua. Ada yang ingin aku bicarakan dnegan David," bisik Shazia agar David tidak dengar.
Eva mengangguk pelan. Ia membawa semua pelayan yang ada di kamar itu untuk keluar. Bahkan saat kamar itu kembali sunyi saja David tidak lagi sadar. Pria itu terlalu sibuk dengan layar laptop di depannya hingga tidak memperhatikan keadaan sekitar.
Shazia menghela napas dan berjalan mendekati David. Wanita itu melirik layar laptop David sebelum duduk di atas pangkuannya tanpa permisi.
"Sibuk sekali sampai aku tidak dipeduliin," rengek Shazia manja.
David mengusap punggung Shazia. Ia segera menutup laptopnya dan memberikan seluruh perhatiannya kepada Shazia.
__ADS_1
"Maafkan aku." David memandang ke tempat pelayan-pelayan itu berkumpul. Alisnya saling bertaut ketika ia menyadari kalau kamarnya sudah sunyi. "Ke mana mereka?"
"Maksudmu pelayan yang membantuku tadi?"
"Ya."
Shazia menghela napas. "Mereka sudah selesai melaksanakan tugasnya. Jadi sekarang sudah pergi."
David memejamkan mata sejenak. Ia sadar kalau sudah mengabaikan Shazia cukup lama karena terlalu fokus dengan layar laptopnya
"Maafkan aku. Ini soal Logan," ucap David jujur.
"Sebenarnya apa yang dia perbuat sama sekali tidak merugikan kita. Aku merasa dia sudah berkhianat terhadap Devid," jawab David pelan. Terlihat jelas kalau pria itu kini sangat mengkhawatirkan saudara kembarnya walaupun memang Devid terkenal dengan sifatnya yang serakah.
"Bukankah itu bagus?" jawab Shazia asal saja. Shazia menjatuhkan kepalanya di dada bidang David sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dia telah mengkhianatimu dan sekarang orang kepercayaannya telah berkhianat padanya. Itu namanya hukum karma!"
"Ya, seharusnya aku senang mendengarnya. Tapi, tidak tahu kenapa aku merasa kasihan. Aku tidak tega melihat dia diperlakukan seperti ini di saat keadaannya tidak berdaya," ucap David sebelum mendaratkan kecupan manis di pucuk kepala Shazia.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan? Aku akan mendukung setiap keputusan yang kau ambil, David," ucap Shazia pasrah. Ia tidak mau suaminya memiliki beban di dalam pikirannya hingga seperti itu.
__ADS_1
"Aku ingin membawa Devid ke rumah ini. Aku ingin merawatnya hingga sembuh!"
Shazia segera menjauhkan wajahnya. Ia menatap wajah David dengan tatapan tidak percaya. David yang paham akan tatapan Shazia hanya bisa menghela napas.
"Itu juga kalau kau setuju. Kau istriku. Nyonya di rumah ini. Semua aturan rumah sudah aku serahkan kepadamu. Aku tidak mau mengambil keputusan sepihak. Tanpa persetujuan darimu semua tidak akan terjadi," ucap David lagi.
"Soal itu, aku harus memikirkannya dulu." Shazia memalingkan wajahnya. "Bahkan terkadang melihat wajahmu saja aku masih ingat dengan kejahatan Devid. Dia telah membunuh Nora dan Mya. Dua wanita yang sangat aku sayangi. Sepertinya akan sangat berat jika aku harus menatap wajahnya setiap hari bahkan setiap saatnya."
David menarik tubuh Shazia ke dalam pelukan. "Sayang, aku tidak akan memaksamu untuk menerima Devid di rumah ini. Mungkin aku akan membuatkan tempat tinggal di tempat yang jauh dari sini. Memberikan penjagaan yang ketat agar ia tidak bertemu Logan lagi," ucap David dengan hati-hati.
Shazia menggeleng. "Jika kau ingin melindungi Devid, pria itu harus tinggal bersama kita. Sejauh apapun dan seketat apapun penjagaan yang kau berikan, Logan tetap akan bisa menemui Devid. Dia pria licik yang cukup cerdas!"
David kembali diam. Sebenarnya apa yang dikatakan Shazia sudah ia pikirkan sebelumnya. "Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apa aku biarkan saja hidupnya menderita seperti sekarang?"
Shazia kembali membisu. Kali ini keputusan yang harus ia ambil sangatlah berat. Ia harus memaafkan dan menerima musuhnya walau jelas-jelas musuhnya saja belum pernah mau meminta maaf kepadanya.
Tapi, Shazia juga memikirkan perasaan David. Ia tahu ikatan batin saudara kembar sangatlah kuat. Di saat seperti ini pasti David tidak tega dan merasa kasihan kepada Devid.
"Aku butuh waktu," ucap Shazia pelan.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaksa. Sekarang ayo kita mandi. Tidak lama lagi kita akan berangkat ke bandara," ajak David dengan mesra. Mereka berdua berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sejenak mereka akan melupakan semua tentang Devid dan lebih fokus dengan kebahagiaan mereka sendiri saat ini.