
Eva yang menyaksikan perdebatan antara David dan Shazia hanya bisa diam membisu di sana. Kepalanya menunduk karena ia tidak mau ikut campur.
"Apa maksudmu?" tanya Shazia dengan ekspresi wajah yang serius.
"Shazia, maafkan aku karena sudah membohongimu. Tapi, bukan ini maksudku. Aku tidak pernah menyangka kalau kau juga memiliki masalah dengan Devid. Sejak awal aku sudah curiga kalau saudara kembarku dinyatakan tewas. Hidupku sangat buruk saat itu. Aku hanya sebuah bayangan yang boleh ada di bawahnya."
"Aku tidak suka di bohongi! Apa buktinya kalau kalian kembar?" tanya Shazia masih dengan ekspresi wajah tidak percaya.
David mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan foto keluarga yang saat itu ada dirinya dan juga Devid. Shazia memandang foto itu untuk beberapa saat sebelum mengembalikan ponsel David lagi.
"Sekarang apa kau percaya padaku?" tanya David dengan ekspresi wajah penuh harap.
"Tidak! Pria pembohong sepertimu tidak bisa dipercaya," ketus Shazia masih dengan wajah kesal.
David menghela napas. "Baiklah. Aku juga tidak akan memaksamu untuk percaya padaku." David memandang Eva. "Eva, tolong jaga Shazia. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan."
"Baik, Tuan." Eva mengangguk dan menunduk.
David kembali memandang Shazia sebelum pergi. "Aku akan kembali. Sebaiknya kau istirahat saja dulu. Kondisimu masih sangat buruk. Jadi, jangan memaksakan diri untuk kabur dari rumah sakit."
__ADS_1
Shazia memalingkan wajahnya. Ia tidak mau menjawab pertanyaan David karena masih kesal dengan David yang sudah membohonginya.
Melihat Shazia memalingkan wajah, membuat David tidak mau mengatakan apa-apa lagi. Pria itu melangkah pergi meninggalkan ruangan Shazia.
Ketika pintu di tutup, Eva segera mendekati Shazia. Wanita itu ingin membantu David membujuk Shazia. Ia tidak mau Shazia dan David bermusuhan. Bagi Eva, Shazia dan David adalah pasangan yang serasi.
"Nona, bagaimana keadaan anda?" Eva memijat kaki Shazia dengan lembut. Ia juga sangat hati-hati agar tidak menyentuh bagian yang terluka.
"Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, Eva."
"Aneh, Nona?" Eva mengeryitkan dahinya. "Aneh seperti apa, Nona?"
Eva tersenyum kecil. "Nona, mungkin tubuh anda sudah terlalu lelah. Jadi, sekarang tubuh Anda ingin anda sering-sering istirahat. Ehm, kalau boleh saya tahu sebenarnya apa yang menyebabkan Nona sering tidak tidur? Apa Nona bekerja di malam hari sebelum menikah dengan Tuan David?"
Pertanyaan Eva membuat Shazia diam membisu. Namun, dalam sekejap Shazia kembali tersenyum agar Eva tidak curiga dengannya.
"Ya, bisa di bilang seperti itu."
Eva mengangguk pelan. "Anda wanita yang hebat. Bahkan anda memiliki kemampuan bela diri. Apa anda mempelajari ilmu bela diri agar bisa melindungi diri Anda sendiri, Nona?"
__ADS_1
"Bela diri? Apa maksudmu Eva? Bela diri seperti apa?" Shazia sangat yakin kalau Eva belum pernah melihat dirinya sedang bertarung.
"Buktinya saja semalam anda bisa dengan mudah mendorong Tuan Logan hingga terjatuh di tangga. Kalau saya yang mendorong pasti saya yang jatuh duluan, Nona," Eva tertawa kecil. "Walau badan anda kecil, anda memiliki tenaga yang kuat. Saya saja pernah melihat Anda menggendong Tuan David."
Kedua mata Shazia melebar. Ia benar-benar malu ketika Eva membahas hal tentang dirinya yang pernah menggendong David layaknya anak kecil.
"Nona, sebaiknya anda maafin saja kesalahan Tuan David. Bukankah Tuan David sudah menjelaskan alasannya membohongi Anda? Semua ini karena ia ingin mencari bukti kalau saudara kembarnya masih hidup," bujuk Eva dengan nada yang lembut.
"Eva, aku tidak marah padanya. Aku hanya bingung saja. Jika apa yang dia katakan itu benar, maka sekarang dia berada dalam bahaya. Pria bernama Devid itu bukan pria sembarangan."
Eva tersenyum mendengar jawaban Shazia. "Nona, jadi anda sudah memaafkan Tuan David?"
"Aku hanya ingin mengerjainya saja. Aku ingin tahu sampai di mana usaha dia membujukku agar tidak marah lagi," jawab Shazia dengan senyuman.
Eva mengangkat jarinya dan menunjuk wajah Shazia. "Nona, anda memang paling bisa. Saya yakin, Tuan David pasti akan berjuang keras untuk mendapatkan maaf Nona."
Di balik pintu, David tersenyum mendengar perbincangan antara Shazia dan Eva. Pria itu menjauh dari pintu dengan hati yang jauh lebih tenang.
"Shazia, aku akan kembali. Aku harap ketika nanti aku kembali kau sudah tidak marah lagi padaku. Saat ini aku harus menemui Devid. Aku harus memperjelas semuanya. Aku tidak mau hidup menjadi bayangan Devid seperti dulu."
__ADS_1