
Malam ini David terlihat berbeda. Pria itu lebih pendiam dan sepertinya takut memandang wajah Shazia. Shazia sendiri sempat bingung. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun hingga detik ini. David hanya menyapanya dan memujinya saja dengan beberapa kata manis tadi. Setelah itu dia diam tanpa kata.
Saat David tidak memulai pembicaraan, Shazia juga memilih diam sambil melihat para pelayan menyajikan makan malam mereka. Di mulai dari sajian pembuka, sajian utama hingga sajian penutup.
"Apa dia benar-benar David? Atau jangan-jangan saat David pergi tadi, ia bertemu dengan Devid dan ...." Sebuah pikiran jelek memenuhi isi kepalanya. Shazia menggeleng pelan untuk menyangkal semua itu. "Tidak. Tidak. Ada Albert yang pasti melindungi David. Lagian kata Leah Devid sekarat. Pria itu lumpuh dan tidak bisa apa-apa saat ini. Bagaimana mungkin aku berpikiran kalau pria di depanku adalah Devid," gumam Shazia di dalam hati.
"Bagaimana ini? Kenapa aku begitu gugup hingga tidak tahu harus bagaimana. Bahkan kata-kata yang tadi di ajarkan Albert tidak lagi ingat. Sekarang apa yang harus aku katakan? Jika diam terus seperti ini aku akan gagal mempertahankan Shazia," gumam David di dalam hati.
Dari kejauhan, Leah dan Albert berdiri untuk menyaksikan kesuksesan acara David malam ini. Namun, sudah beberapa menit mereka menunggu mereka mulai merasa bosan. Tidak ada hal-hal romantis yang seharusnya dilakukan oleh David. Bahkan Shazia yang biasa banyak bicara kini jadi lebih pendiam.
"Jika terus seperti ini, setelah makanannya habis. Mereka akan pulang tanpa hasil," protes Leah kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Seharusnya Tuan David mengatakan kalimat yang tadi kita ajarkan bukan? Tapi, kenapa ini dia terlihat pendiam?" protes Albert.
"Kita harus melakukan sesuatu!" Leah tidak bisa diam saja. Ia ingin melakukan sebuah tindakan agar acara yang sudah dipersiapkan David malam ini berjalan lancar.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Albert bingung.
Leah berjalan ke arah pria yang duduk di dekat piano. Ia meminta pria itu memainkan sebuah musik romantis agar suasana semakin hangat. Tidak lupa ia meminta beberapa pelayan untuk membawakan bunga mawar yang sudah mereka persiapkan agar diberikan kepada Shazia.
Di meja makan, Shazia sudah menyelesaikan makan malamnya. Ia sangat menikmati makan malamnya karena menu yang dipilih David adalah menu-menu yang ia suka. Saat melihat Shazia selesai makan, David juga segera menyudahi makan malamnya.
"Hmm, Shazia. Apa kau mau sesuatu?" tanya David masih dengan wajah grogi. Bahkan wajahnya sampai berkeringat hanya bertanya seperti itu saja.
__ADS_1
"Sesuatu?" tanya Shazia balik. Bersamaan dengan itu, musik telah dihidupkan. Beberapa pelayan muncul dan memberikan bunga mawar kepada Shazia. Shazia terlihat bingung. Ia memandang wajah David untuk meminta penjelasan.
"Apa ini?"
"Bunga," jawab David cepat. Jawaban yang dikatakan David membuat Leah dan Albert memukul kepala mereka. Kali ini mereka tidak tahu harus bagaimana lagi membantu David mempertahankan Shazia.
"Ya, aku tahu ini bunga. Tapi, untuk apa bunga sebanyak ini kau berikan kepadaku?"
"Karena sebanyak itu rasa cintaku kepadamu, Shazia," jawab David yang ikut beranjak dari kursinya.
Shazia terdiam dan menerima bunga itu. Saat tangannya telah penuh, Shazia meletakkan bunga itu di atas meja.
"David, kau tahu kalau bunga ini masih bisa aku hitung. Apa jumlah cintamu sama dengan jumlah bunga ini?" ujar Shazia yang justru terlihat kerepotan.
Shazia diam sambil berpikir. "Sebenarnya kejutan seperti apa yang dia persiapkan. Aku tidak melihat ada tanda-tanda kejutan di sini," gumam Shazia di dalam hati.
"Shazia, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu." David berjalan mendekat. Ia mengulurkan tangannya untuk membawa Shazia pergi ke ujung ruangan.
"David, sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan. Kenapa aku merasa justru keadaannya terlihat aneh!" umpat Shazia di dala hati.
David membawa Shazia ke jendela kaca yang besar. Ia memperlihatkan sebuah taman yang di hias dengan lampu warna-warni berbentuk love. Ada tulisan I Love You, Shazia. Di bawah sana. Tapi reaksi yang diberikan Shazia tidak sama dengan reaksi wanita pada umumnya. Wanita itu terlihat biasa saja bahkan tidak kagum sama sekali.
David memejamkan matanya dengan perasaan kecewa. "Sepertinya rencanaku gagal. Aku tidak tahu harus berbicara apa dan aku tidak tahu cara membuatnya kagum!" gumam David di dalam hati.
__ADS_1
"Ini yang ingin kau tunjukkan David?" tanya Shazia untuk kembali memastikan.
"Ya."
"Sangat indah. Terima kasih, David." Shazia berdiri di hadapan David. Ia memandang wajah David untuk mengatakan keputusannya malam ini. David yang kembali deg degan mulai panik. Ia menatap wajah Shazia dengan keputusasaan.
"Aku tahu kau pasti akan memilih untuk meninggalkanku Shazia," ucap David lebih dulu. "Aku memang benar-benar tidak berguna. Seharusnya aku tidak perlu repot-repot membawamu ke sini. Bukankan semua ini hanya membuang-buang waktumu saja?"
Shazia mengerti dahi. "David, apa yang kau katakan. Sebenarnya kau kenapa?" Shazia meletakkan tangannya di pipi kiri David. Hal itu membuat David memejamkan matanya. Hal yang sangat tidak di duga, David meneteskan air matanya. Pria itu menangis.
"David, kenapa kau menangis?" Shazia mulai bingung.
"Aku tidak memiliki cara untuk mempertahankanmu Shazia. Aku pria tidak berguna. Aku hanya mengandalkan status kita." David mengangkat jemarinya dan memamerkan cincin di tangannya. "Cincin pernikahan kita. Apa kau tahu kalau aku selalu menyimpannya walau aku tidak pernah terlihat mengenakannya? Aku tidak mau sampai cincin ini hilang. Sama seperti perasaanku saat ini yang tidak mau kau menghilang Shazia."
"Cincin? Bahkan aku tidak ingat meletakkannya dimana saat itu," gumam Shazia di dalam hati.
"Shazia, aku memang pria bodoh! Sepertinya apa yang dikatakan Devid benar. Aku ini pria yang lemah."
"Kau tidak bisa melupakanku? Tapi kenapa?"
"Tidak Shazia. Bahkan hanya membayangkan saja ketika nanti kau tidak ada di sisiku, aku tidak sanggup. Bagaimana bisa kau berpikir kalau aku akan melupakanmu?"
"Tapi sejak awal pernikahan ini hanya lelucon, David," ujar Shazia dengan wajah serius. Ungkapan itu membuat David syok bukan main.
__ADS_1