
Sudah beberapa minggu Devid ada di rumah tersebut. Keadaan pria itu kini sudah jauh lebih baik sejak Eva merawatnya dengan sabar. Walau sudah cukup lama ada di rumah tersebut, Shazia belum pernah satu kali pun bertemu dengan Devid. Ia belum sanggup dan tidak ingin mengingat apa yang sudah pernah dilakukan Devid terhadap dirinya.
Malam ini, semua orang tidur dengan lelap. Eva tidur di ranjang yang sama dengan Devid. Pria itu sudah tidak memakai alat medis lagi jadi Eva memiliki banyak waktu untuk istirahat. Shazia dan David juga sudah tidur di kamar mereka. Semua orang sedang beristirahat, selain beberapa pengawal yang memang bertugas untuk berjaga-jaga.
Secara diam-diam, seorang pria berhasil menerobos masuk dan mengalahkan pertahanan yang sudah di buat David. Setelah pria bertopeng itu berhasil masuk, beberapa pria lainnya ikut menyusul dan ikut masuk.
Salah satu dari pria itu adalah Logan. Pria itu terlihat bahagia bisa berhasil menerobos masuk di rumah David. Ia segera mengincar kamar tempat Devid di rawat untuk menculik Eva. Kali ini memang hanya Eva targetnya.
Pasukan yang di bawa Logan berhasil membuat pengawal yang berjaga tidak sadarkan diri. Hal itu tentu saja memudahkan Logan untuk masuk ke kamar Devid.
Setibanya di dalam kamar, Logan melihat Devid dan tersenyum licik. Pria itu mengalihkan pandangannya kepada Eva yang juga tertidur di sana.
"Ternyata dia benar-benar Angel. Bahkan dia rela menemani pria cacat ini dengan setia," gumam Logan sebelum berjalan mendekat. Ia mengeluarkan kain kecil yang sudah di beri cairan bius.
Logan berjalan sangat pelan mendekati posisi Eva berbaring. Namun, belum sempat ia membius Eva, tiba-tiba Eva sudah terbangun dan ingin berteriak. Logan segera membungkam mulut wanita itu agar tidak berisik. Tujuan utama Logan bukan untuk mencari keributan dengan Shazia dan David
Hanya Eva yang ia butuhkan.
Eva berusaha berontak. Tapi obat bius itu jauh lebih cepat membuatnya tidak sadarkan diri. Dalam hitungan detik saja Eva sudah memejamkan mata dan tidak lagi melakukan perlawanan. Logan dengan sigap mengangkat tubuh Eva. Ia ingin segera pergi dari rumah itu sebelum ada yang menyadari kehadirannya.
Setibanya di ruang tamu, tiba-tiba lampu hidup dan ruangan yang tadinya gelap berubah menjadi terang. Logan kaget bukan main melihat Shazia dan David muncul di depannya. Bukan hanya itu saja yang membuat Logan syok. Semua bawahan yang di bawa Logan telah tewas dan tergeletak di lantai.
Leah dan Albert melipat kedua tangan mereka di depan dada dengan senyuman licik. Ternyata Leah dan Albert selalu berjaga malam hingga mereka selalu tahu jika ada penyusup di rumah itu.
"Apa yang kau lakukan di rumah ini, Logan?" tanya David dengan santai. Walau kini Logan memakai topeng, tapi tetap saja semua orang tahu kalau pria itu adalah Logan.
Karena sudah ketahuan, Logan tidak mau memakai topeng lagi. Pria itu membuang topengnya dan melekatkan pistol di kepala Eva untuk mengancam semua orang.
"Mundur! Atau aku akan membunuh wanita ini!" ancam Logan dengan wajah serius.
Shazia sangat khawatir dengan keadaan Eva. Logan adalah pria yang nekad dan tega melakukan apa saja asal dirinya selamat. Malam ini Shazia tidak mau bertindak ceroboh hingga membuat Eva terluka.
__ADS_1
"Eva tidak bersalah. Untuk apa kau menculik Eva seperti ini?" tanya David.
Logan tersenyum kecil. "Bukankah wanita ini bagian dari keluarga ini? Untuk itu, aku bisa menggunakannya sebagai jaminan untuk bisa pergi dari rumah ini dengan selamat," ucap Logan sambil memikirkan jalan keluar dari kepungan Shazia dan yang lainnya.
"Kau bisa melukai Eva sesuka hatimu, Logan. Tapi ingat, aku akan membalas perbuatanmu dengan luka yang begitu perih dan menyakitkan. Pikirkan hal itu sebelum kau ingin menyentuh dan melukai Eva!" ancam Shazia.
Logan tertawa meledek. Ia sama sekali tidak takut dengan ancaman yang dikatakan oleh Shazia. Walaupun memang sudah jelas-jelas kini posisinya tidak aman.
"Nona Shazia, anda pikir saya takut dengan ancaman anda? Selama wanita ini masih bersama saya, anda tidak akan bisa melakukan apapun," ucap Logan dengan penuh percaya diri.
Tiba-tiba saja Leah mengeluarkan senjata apinya secara diam-diam. Ia melirik Shazia dan meminta izin dari wanita itu. Namun, sudah beberapa detik menunggu Shazia belum memberi perintah apapun. Wanita itu masih ragu untuk menjalankan rencana yang biasa mereka gunakan.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita berdamai? Lepaskan Eva dan aku akan berikan apa yang kau inginkan," ujar David memberi solusi.
Logan menggeleng tidak setuju. "Aku hanya ingin wanita ini ikut bersamaku. Aku akan merasa aman jika wanita ini terus berada di dekatku!" jawab Logan tanpa mau di tawar lagi.
"Sekarang!" ujar Shazia tiba-tiba.
Satu tembakan di lepas Leah ke arah tangan Logan. Walau cukup beresiko tapi rencana mereka berhasil. Logan merasa kesakitan hingga membuat senjata api yang ada di tangannya terlepas.
Albert segera berlari untuk menarik Eva. Kebetulan memang posisi Albert yang paling dekat dengan Logan.
Saat Eva berhasil ada di tangan Albert, Logan kembali berusaha mengambil pistolnya yang terjatuh dan melayangkan tembakan ke arah David.
Shazia mendorong David hingga membuat pria itu terjatuh. Saat itu memang Shazia tidak memegang senjata apapun hingga dia tidak bisa menembak Logan.
Namun, memang Logan pria yang pantang menyerah. Pria itu kembali melayangkan tembakan ke arah David. Kali ini tembakannya berhasil mengenai lengan kanan David. Shazia yang melihat hal itu merasa sangat marah.
"Beraninya kau!" umpat Shazia penuh emosi. Shazia berjalan ke arah meja makan dan mengambil pisau buah di sana. Ia berjalan dengan penuh emosi mendekati Logan berada. Leah juga berusaha menyerang Logan dan merebut senjata api di tangan pria itu. Leah sendiri hampir saja terkena tembakan Logan. Namun, trik yang dilakukan Leah berhasil membuat dirinya selamat.
"Kau tidak akan menang Logan! Pria licik sepertimu harus dimusnahkan!" ujar Leah saat kini Logan sudah ada di genggaman tangannya. Albert meletakkan Eva di sofa. Pria itu ingin membantu Leah memegang tubuh Logan agar tidak bisa lolos lagi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Shazia berjalan mendekati Logan dengan pisau buah di tangannya.
__ADS_1
"Apa yang mau dilakukan oleh Nona Shazia?" gumam Albert penasaran. Albert kaget melihat tangan David yang berdarah, pria itu berlari untuk menolong David.
Shazia semakin dekat dengan Logan. Leah sendiri sudah tidak sabar melihat sang bos beraksi. Leah ingin menunjukkan kepada semua orang, kalau Shazia adalah wanita kejam yang pernah ia temui.
"Aku sudah bilang, sedikit saja kau lukai orang yang aku sayangi. Maka kau akan merasakan perih yang begitu luar biasa!" ucap Shazia sebelum mengangkat pisau di tangannya melayang di udara.
Shazia menusuk perut Logan dengan begitu elegan. Bahkan sempat-sempatnya ia tersenyum manis ketika benda tajam itu merobek perut lawannya.
"Bagaimana? Apa rasanya sakit?" ledek Shazia sebelum menarik pisau itu dan menusukkannya lagi. Tepat di luka tusukan sebelumnya.
Leah tersenyum puas melihat darah berkucur deras di perut Logan. Ia menyerahkan Logan kepada Shazia. Wanita itu segera menjambak rambut Logan dan meletakkan pisau yang ada di tangannya di leher Logan. Kali ini Shazia ingin menebas leher Logan untuk memastikan kalau pria itu tidak bisa selamat malam ini.
"Jangan Shazia, jangan lakukan itu!" pinta David secara tiba-tiba.
Shazia memandang ke arah David dengan tatapan tidak setuju. Di detik yang begitu cepat, Logan berhasil merebut pisau di tangan Shazia dan menusuk perut Shazia.
Shazia diam mematung saat merasakan rasa perih di perutnya. Leah yang melihat hal itu segera mengangkat senjata apinya dan menembak kepala Logan tanpa ampun. Ia benar-benar menyesal sudah memberikan kesempatan kepada Logan untuk menikmati penyiksaan tersebut.
"Shazia," ucap David tidak percaya.
Shazia dan Logan sama-sama terjatuh di lantai. Leah dengan cepat mengangkat kepala Shazia dan membangunkan wanita itu.
"Bos, bangun. Maafkan saya!" ujar Leah penuh rasa bersalah.
David di bantu oleh Albert juga berlari mendekati Shazia. Semua orang terlihat sedih dan kaget melihat darah yang begitu deras keluar dari perut Shazia.
"Shazia, bangun Shazia. Maafkan aku!" teriak David frustasi.
"Kita harus membawa Nona Shazia ke rumah sakit," pinta Leah sembari mengangkat tubuh Shazia.
Mereka semua segera berlari cepat menuju ke mobil. Membiarkan jasad Logan yang sudah tidak bernyawa tergeletak begitu saja di lantai.
__ADS_1