Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Akhir Rencana


__ADS_3

"Tidak Shazia. Tidak bagiku. Pernikahan ini resmi dan harus dipertahankan hingga akhir hayat," jawab David dengan tegas.


"David ...."


"Shazia, aku mencintaimu dan kau tahu itu. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan cincin ini walau nanti kau tetap pergi meninggalkanku. Tidak ada wanita lain yang bisa menyingkirkanmu di hatiku!"


Shazia tersenyum bahagia. "David, aku hanya mau bilang. Walau tanpa makan malam seperti ini. Keputusanku tetap sama. Aku akan ...."


David berlutut di hadapan Shazia. Ia memegang kedua tangan Shazia dengan mata berkaca-kaca. Tidak mengizinkan Shazia menyelesaikan kalimatnya karena ia takut sakit hati.


"Jangan pergi Shazia. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon." David menutup wajahnya dengan kedua tangan Shazia yang kini ia genggam. Hal itu membuat hati Shazia tersentuh hingga ia mengurungkan niatnya untuk mengatakan kalimat selanjutnya.


"Kenapa kau seperti ini David? Aku bukan wanita baik!"


"Di mataku kau yang terbaik!" jawab David cepat.


"Aku bisa saja memukul dan menghajarmu jika kau melakukan kesalahan!"


"Itu tidak jadi masalah. Asalkan kau ada di sisiku Shazia."


"David, berdirilah. Kau harus terlihat seperti pria tangguh! Aku tidak suka dengan pria lemah dan cengeng seperti ini."

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Walau harus menurunkan derajat dan harga diriku di depanmu. Yang terpenting kau tidak jadi pergi meninggalkanku Shazia."


Karena David tidak mau berdiri, Akhirnya Shazia ikut berjongkok dan menatap wajah David. "Darimana kau tahu kalau aku akan meninggalkanmu?"


"Bukankah tadi kau bilang kau akan ...." David menahan kalimatnya. "Shazia, apa kau tadi mau bilang kalau kau tidak akan meninggalkanku?" tanya David tidak percaya.


"Ya, tadinya. Tapi melihatmu cengeng seperti ini aku berubah pikiran!" jawab Shazia cepat.


"No, Shazia." David berdiri dan membawa Shazia berdiri. Ia memegang kedua pipi Shazia dan menatap wanita itu dalam-dalam. "Kau sudah memutuskannya? Keputusanmu bertahan di sisiku Shazia?"


Shazia tersenyum dan mengangguk. "Tapi ada syaratnya."


"Apa Shazia? Katakan."


"Hanya itu?"


Shazia mengangguk. "Aku ingin hidup kita nanti saling melengkapi. Aku hadir untuk melengkapi kekuranganmu. Kau hadir di hidupku untuk menutupi kekurangan yang aku punya."


"Shazia, aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Aku akan menjagamu dan menyayangimu dengan sepenuh hati."


Shazia tersenyum. "Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu David. Aku akan berusaha untuk mencintaimu."

__ADS_1


"Shazia, terima kasih." David menarik Shazia ke dalam pelukannya. Ia merasa sangat bahagia bisa mempertahankan Shazia di sisinya walau jelas-jelas kejutan yang ia persiapkan gagal total.


David melangkah mundur dan mengambil kotak dari dalam saku. Ia mengeluarkan sebuah cincin dan memberikan kepada Shazia.


"Shazia, maukah kau tetap menjadi istriku? Di saat suka dan suka tetap ada di sisiku. Menemaniku di saat sakit dan senang," ucap David dengan sungguh-sungguh.


Shazia mengangguk pelan. "Ya, David. Aku mau tetap menjadi istrimu."


David segera memasukkan cincin di jemari Shazia. Tangannya sedikit gemetar karena memang hingga detik ini ia masih saja grogi. Shazia memandang cincin di jemarinya dengan wajah bahagia.


"Shazia, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."


Mereka saling berpandangan satu sama lain. Hingga tidak lama kemudian, David menarik pinggang Shazia untuk mencium istrinya. Satu kecupan sayang mendarat di pucuk kepala Shazia. Ia memperlakukan wanitanya dengan penuh kelembutan.


"Terima kasih, Shazia."


Di sisi lain, Leah dan David merasa tersentuh dengan pemandangan tersebut. Mereka tidak menyangka kalau akhirnya David berhasil juga. Padahal sejak tadi, sudah terlihat jelas kalau rencana David gagal dan sudah pasti Shazia akan pergi meninggalkannya.


"Ternyata Tuan David memiliki rencana sendiri untuk mempertahankan nona Shazia," ucap Albert.


"Ya. Dia tidak membutuhkan kata-kata yang kita sebutkan. Syukurlah. Mereka bisa bersatu. Semoga saja Nona Shazia bisa cepat membalas cinta Tuan David."

__ADS_1


Albert memutar tubuhnya untuk pergi. Leah juga ikut Albert pergi karena tidak ada lagi yang harus ia lakukan. Rencana besar mereka telah berhasil. Kali ini mereka bisa pulang dengan wajah bahagia.


__ADS_2