
Eva menatap wajah Devid hingga beberapa saat. Albert sengaja membiarkan Devid dan Eva berduaan di dalam kamar tersebut. Ia tahu kalau Eva butuh waktu untuk bersama Devid.
Walau sudah diberi kesempatan untuk berduaan. Tetap saja Eva tidak melakukan hal apapun sejak tadi. Ia memandang selang infus dan beberapa alat medis yang tertancap di tubuh Devid dengan hati yang perih. Ingin membenci namun tak berani.
Secara perlahan Eva mengangkat tangannya yang gemetar. Bukan hanya tangannya saja yang gemetar, bibirnya juga terlihat menahan Isak tangis yang ingin pecah. Napas Eva terasa begitu sesak. Ingin sekali ia memukul Devid untuk melampiaskan rasa kecewanya. Tapi, pria itu sekarat. Bahkan tidak ada yang tahu apa ia bisa bertahan atau tidak.
"Kau masih hidup? Apa kau mendengarku." Eva menahan kalimatnya karena Isak tangisnya semakin menjadi. "Devid ...," ucapnya tuntas sebelum air matanya benar-benar pecah.
Eva menjatuhkan kepalanya di dada Devid dan menangis sejadi-jadinya. "Kau jahat! Kenapa kau harus pergi jika tidak lagi kembali? Kenapa kau harus berjanji jika tidak bisa menepati. Kenapa kau harus kembali jika dalam keadaan seperti ini? Apa belum puas kau menyakitiku, Devid? Apa belum puas kau lukai hatiku?" lirih Eva dengan suara yang begitu menyayat hati.
"Jangan tinggalkan aku untuk yang kedua kali. Jangan lakukan itu Devid! Bangunlah. Lihat aku! Jelaskan padaku kenapa kau tidak kembali waktu itu. Aku akan memaafkanmu asalkan kau berjanji tidak lagi pergi meninggalkanku!"
Tangisan Eva yang begitu lirih memenuhi seisi kamar. Siapa saja yang berdiri di depan pintu pasti akan mendengar tangis wanita itu. Seperti yang kini di alami Leah. Tadinya ia ingin menemui Eva di dalam kamar Devid. Tapi, ketika ia mendengar tangisan Eva. Ia langsung mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Wanita itu memilih untuk berdiri di depan sambil menunggu Eva keluar dari dalam kamar.
Albert yang melihat kejadian itu segera menarik tangan Leah. Ia membawa Leah pergi menjauh agar tidak mengganggu Eva di dalam sana.
__ADS_1
"Lepaskan! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawaku ke sini?" protes Leah.
"Apa yang kau lakukan di sana? Kau menguping pembicaraan orang lain?" tuduh Albert dengan serius.
"Hei, menguping? Di dalam sana hanya Eva yang bisa berbicara. Bagaimana bisa kau bilang aku menguping jika hanya satu orang yang berbicara." Leah memalingkan pandangannya. "Aku hanya mendengar Eva menangis. Itu sangat menyedihkan! Apa jadinya kalau saat itu Nona Shazia beneran berhasil membunuh Devid?" Suara Leah mulai pelan.
Albert menghela napas. "Pria itu memiliki banyak nyawa cadangan. Ia tidak akan mati semudah itu." Albert kembali memegang tangan Leah dan menariknya. "Sebaiknya Sekar kau ikut denganku."
"Heo, mau ke mana?" protes Leah namun tetap saja ia mengikuti langkah kaki Albert.
Leah kembali diam dan menurut. Wanita itu pasrah mengikuti jejak kaki Albert kemanapun pria itu membawanya.
***
Di dalam kamar, Shazia dan David saling memandang dengan penuh rasa bahagia. Mereka sama-sama rindu. Sangat rindu. David menyelipkan rambut Shazia di balik telinga sambil memandang wajah wanitanya tanpa jenuh-jenuh.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Shazia," ucap David penuh kasih sayang.
Shazia memegang tangan David dan mengecupnya. Ini pertama kalinya mereka berdua merasakan jatuh cinta. Merasakan pacaran dan merasakan memiliki.
"Shazia, apa kau bisa merasakan apa yang aku rasakan?" tanya David dengan lembut. Pria itu meraih tangan Shazia dan meletakkannya di depan dada. "Di sini. Aku selalu berdebar jika dekat denganmu. Apa kau juga seperti itu?"
Shazia diam sejenak. Hal itu membuat David kembali was-was. Ia tidak mau memaksa Shazia untuk segera mengatakan kalau wanita itu mencintai dirinya. Tapi, David ingin secepatnya Shazia mencintainya. Seperti apa yang kini ia rasakan.
"Tidak David," jawab Shazia pelan. David langsung kecewa dan memalingkan wajahnya.
"Tapi ... ada rasa kehilangan yang aku rasakan ketika kau tidak ada di depan mataku. Apa itu cinta?"
David kembali memandang Shazia. Ia tersenyum. "Ya, itu cinta. Kau tidak bisa jauh dari pria yang kau cintai Shazia. Dan pria itu adalah aku. Rasa cinta itu sudah mulai tumbuh di dalam hatimu!" ujar David penuh semangat.
Shazia memeluk David dan membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu. "Aku sangat menyayangimu, David. Jangan pernah tinggalkan aku seperti yang pernah dilakukan oleh Mya dan Nora."
__ADS_1
David mengecup pucuk kepala Shazia berulang kali. "Tidak, sayang. Tidak akan. Aku akan selalu ada di sisimu. Memanjakanmu dan membuat kau selalu bahagia. Aku berjanji!"