
Hai Reader, mohon maaf gak update selama beberapa hari. Author punya kabar baik. Dede yang di perut Uda lahir tanggal 5 Desember 2021 pukul 07.30 pagi. Jenis kelamin laki-laki. Terima kasih atas doanya ya. ❤️
Suasana di ruangan itu semakin hening ketika Devid dan Eva saling memandang dengan pikiran masing-masing. Permintaan Eva bukan permintaan yang mudah bagi Devid. Pilihan yang di berikan Eva kepada Devid sangatlah berat. Sejak dulu Devid selalu berjuang keras agar tidak terlibat dengan polisi walaupun memang apa yang dia lakukan perbuatan melanggar hukum.
"Kau yakin, Honey? Kita akan berpisah lagi. Aku bisa di penjara seumur hidup jika menyerahkan diri ke polisi. Kau pasti tahu kesalahan apa saja yang sudah aku lakukan? Bukan hanya mencuri, tapi aku sering membunuh," jelas Devid agar Eva bisa menarik lagi permintaannya.
"Aku tahu. Maka dari itu aku tidak mau kau lari dan tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah kau perbuat, Devid. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang kesedihan korban yang sudah kau renggut nyawanya," jawab Eva dengan suara lemah. Sebenarnya ia tidak tega.
Tapi, mau bagaimana lagi. Eva juga ingin memastikan kalau Devid sudah berubah dan tidak berbuat ulah lagi. Apa lagi kini Shazia dan David sedang bahagia. Eva tidak mau Devid kembali merusak kebahagiaan mereka seperti dulu.
"Jika aku memilih untuk menolak. Apa yang akan kau lakukan, Angel?" tanya Devid dengan tatapan kecewa.
Eva menghela napas sebelum menjawab. Kalimat itu sangat sulit terucap tapi harus ia katakan sekarang juga. "Tinggalkan aku. Mungkin memang takdir kita tidak bisa bersama," jawab Eva mantap.
Devid menunduk sedih. Ia memegang tangan Eva dan merem*asnya lembut. "Aku sangat mencintaimu, Angel. Sangat-sangat mencintaimu. Kenapa kau tega menyiksaku dengan cara seperti ini?" lirih Devid.
"Kau merasa tersiksa berpisah denganku? Bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan Sabak saudaranya karena ulahmu Devid. Apa kau pernah berpikir apa yang mereka rasakan. Nora salah satunya. Dia sahabat terbaik Nona Shazia. Kau membunuhnya hingga membuat Nona Shazia sedih!" ketus Eva mantap.
Devid membalas tatapan Eva. "Aku bisa minta maaf pada mereka."
"Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan Maaf, Devid!" jawab Eva dengan tatapan tegas. "Perbuatanmu tidak bisa di maafkan lagi."
"Oke. Aku memang jahat. Aku pembunuh! Tapi, bagaimana dengan Shazia? Dia juga pembunuh. David mau menerima wanita itu sebagai istrinya. Dia tidak meminta Shazia menyerahkan diri ke kantor polisi. David sangat mencintai Shazia. Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa kau tega meminta orang yang kau cintai untuk menyerahkan diri ke kantor polisi Eva. Kenapa?" Suara Devid meninggi. Emosinya mulai terpancing.
__ADS_1
Hal itu membuat Eva takut dan memutuskan untuk beranjak dari sana. Eva pergi meninggalkan kamar tanpa mau mengatakan apapun lagi. Perdebatannya dengan Devid seperti tidak membuahkan hasil. Justru memicu pertengkaran di antara mereka berdua.
Devid mengalihkan pandangannya ke arah lain. Belum ada niatan di hatinya untuk mengejar Eva saat ini. Hatinya masih kecewa dan tidak tahu harus berbuat apa. Tadinya ia pikir setelah ia sembuh ia bisa memulai hidup yang baru bersama Eva. Devid ingin membawa Eva pergi meninggalkan rumah sederhana itu untuk tinggal di mantion mewah miliknya. Tidak di sangka istri tercinta justru memintanya untuk mendekam di dalam penjara.
***
Shazia tertawa geli ketika David menggelitik perutnya. Wanita itu sampai mengeluarkan air mata karena tidak tahan atas gelitikan David.
"Ampun, David. Jangan lakukan lagi!" teriak Shazia hingga suaranya memenuhi kamar.
"Tidak akan. Kau harus berjanji dulu tidak akan pernah pergi lagi tanpa seizinku!" ujar David sembari melanjutkan gelitikannya di tubuh Shazia.
"Oke oke. Aku janji. Aku tidak akan pergi tanpa sebelum izin darimu. Sekarang hentikan!" terima Shazia dengan tatapan memohon.
"I love you, Shazia. I love you ...."
Shazia tersenyum sebelum memejamkan mata. "I love you more ...."
Tok tok
Suara ketukan pintu kamar memecah suasana romantis tersebut. David yang terlihat kesal hanya bisa membuang napasnya dengan kasar.
"Siapa itu? Apa dia tidak tahu kalau ini sudah malam!" protes David sebelum turun dari tempat tidur. Shazia juga memilih untuk beranjak dari tempat tidur. Wanita itu berjalan ke arah sofa dan mengambil ponselnya gang tergeletak.
__ADS_1
David membuka pintu dengan kasar. Tatapannya berubah mengerikan ketika melihat Albert berdiri di hadapannya.
"Ada apa? Apa kau tidak punya jam?" ketus David.
Albert menunduk bersalah. Jam masih menunjukkan pukul 8. Seharusnya tidak ada yang salah saat ia mengetuk pintu kamar David malam ini.
"Maafkan saya, Bos."
"Katakan apa yang ingin kau sampaikan,_ ujar David lagi.
"Kami sudah berhasil menemukan Frank."
David mulai tertarik dengan informasi yang di bawa Albert. "Di mana pria itu? Apa dia masih ada di kota ini?"
"Dia sudah tewas, Bos."
"Tewas?" celetuk David tidak percaya. "Kau yakin?"
"Benar, Bos. Kami menemukan tubuhnya sudah tidak bernyawa."
"Apa seseorang juga memiliki dendam kepadanya?"
"Saya juga tidak tahu, Bos. Frank tewas di wilayah yang dekat dengan rumah Eva," sambung Albert lagi.
__ADS_1
"Eva?"