Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Permintaan Angel


__ADS_3

Devid dan Eva segera membereskan kekacauan yang terjadi di rumah mereka. Mereka tidak hanya berdua. Ternyata bawahan yang di bawa Frank masih setia kepada Devid. Melihat Devid bisa berdiri dan sudah berhasil membunuh Frank membuat mereka lebih memilih untuk tunduk atas perintah Devid.


Setelah rumah itu bersih, Devid dan Eva memutuskan untuk ke kamar. Eva belum mau banyak tanya karena ia masih bingung dengan apa yang ia lihat. Walau sebenarnya kini sejuta pertanyaan sudah ia persiapkan untuk di tanyakan kepada Devid.


"Honey, kau diam saja sejak tadi. Apa yang kau pikirkan?" tanya Devid serius. Ia meletakkan tubuh Eva di atas pangkuannya. Mengecup leher wanita itu berulang kali karena rindu.


"Sejak kapan kau bisa bergerak, Devid? Kenapa hidupmu harus dipenuhi dengan sandiwara! Apa kau tidak lelah berpura-pura cacat seperti itu!" ujar Eva sambil memandang ke depan. Bahkan memandang wajah Devid masih belum mau ia lakukan.


Devid melepas pelukannya. Ia mengatur posisi duduk Eva agar menghadap ke arahnya. Ia ingin menatap wajah wanita itu secara langsung.


"Aku tidak berpura-pura, Honey. Aku sendiri tidak tahu sebenarnya apa yang sedang aku alami. Seperti mimpi tapi rasa sakitnya begitu nyata. Aku merasa seseorang menghajar tubuhku dan mencampakkanku. Aku bingung, Honey. Beberapa hari ini aku mulai bisa menguasai keadaan.


Aku sangat senang ketika melihatmu. Semua terasa seperti mimpi. Namun, ketika aku ingin bergerak dan memelukmu, aku tidak bisa melakukannya. Tubuhku kaku seperti batu. Bahkan untuk berbicara saja aku tidak sanggup. Detik itu aku sadar, apa seperti ini penderitaan yang pernah di rasakan David? Apa Tuhan menghukumku?" jelas Devid apa adanya. Dari sorot mata pria itu, Eva bisa tahu kalau Devid berkata jujur.


"Lalu, bagaimana bisa kau menolongku tadi?" tanya Eva lagi.

__ADS_1


"Aku membuka kedua mataku ketika mendengar teriakanmu, Honey. Kau terdengar ketakutan. Aku tahu sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi. Aku berusaha menggerakkan seluruh tubuhku. Tapi tidak bisa. Sampai suaramu semakin jauh aku semakin khawatir.


Aku memaksa tubuhku terus bergerak hingga aku terjatuh ke lantai. Di saat itu kakiku mulai bisa bergerak. Tanpa pikir panjang, aku berlari keluar kamar untuk menolongmu. Aku merasa sangat lega karena tidak datang terlambat. Entah apa yang terjadi pada diriku nanti jika tadi aku sampai datang terlambat, Honey. Mungkin besarnya cintaku sudah mengalahkan semuanya."


Eva kembali diam. Penjelasan yang dikatakan Devid sama dengan apa yang dikatakan dokter saat mereka di rumah sakit. Dokter bilang, Devid bisa sembuh dalam waktu dekat atau lama itu tergantung semangat di dalam dirinya. Tekad yang kuat akan membuatnya bisa sembuh total.


"Honey, kenapa kau diam? Apa yang kau pikirkan?" bisik Devid. "Apa kau tidak merindukanku? Kau terlihat seperti ingin menjauhiku, Honey."


"Kau pria yang jahat, Devid. Bisa-bisanya kau bilang kalau kau sangat merindukanku. Tapi kau tidak pernah menemuiku. Kau tidak pernah mencariku," lirih Eva dengan wajah sedih. Hal itu membuat Devid tertegun. Ia segera menarik tubuh Eva dan memeluknya dengan erat.


"Apa itu benar? Atau hanya alasan saja. Bukankah pria yang suka berbohong!" sindir Eva lagi.


"Percaya padaku, Honey. Apa yang aku katakan seperti itulah yang terjadi."


"Bagaimana dengan Nora? Bukankah kau menjalin hubungan dengannya dan membunuhnya ketika tahu dia hamil?" tanya Eva lagi.

__ADS_1


Devid menghela napas. "Honey, Nora adalah satu dari ratusan wanita yang pernah aku sakiti. Dia terlalu ikut campur dalam urusanku hingga aku tidak memiliki pilihan lain," jawab Devid seolah tidak ada yang salah.


"Kau kejam, Devid. Kau kejam. Bagaimana jika hal itu terjadi padaku?" teriak Eva dengan wajah kecewa.


"Sssstttt. Pelankan suaramu. Ini sudah malam. Semua orang bisa mendengar teriakanmu, Honey."


"Aku tidak peduli!" Eva beranjak dari pangkuan Devid. Wanita itu berjalan ke arah tempat tidur. Ia sangat kecewa mendengar cerita Devid saat ini. "Kau pria jahat! Kau bukan pria baik seperti apa yang selama ini aku pikirkan, Devid."


Devid menghela napas kasar. Ia beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Eva. Pria itu berlutut di depan Eva sambil memegang kedua tangan Eva.


"Ya, aku memang pria jahat. Tapi tidak terhadapmu. Kau adalah malaikatku, Honey. Aku tidak akan pernah memiliki niat untuk menyakitimu," bujuk Devid penuh kelembutan.


"Tapi, caramu menyiksa orang lain. Itu sama saja menyakitiku, Devid. Aku tidak suka kau menjadi pria jahat seperti ini!" ketus Eva lagi.


"Baiklah, sekarang. Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku?" tanya Devid dengan serius. Ia tidak sanggup melihat Eva marah seperti itu. Ia butuh maaf dari Eva. Ia ingin istrinya bersikap manja seperti dulu lagi. Bukan menghindar seperti orang asing.

__ADS_1


"Aku mau, kau mengakui kesalahanmu dan menyerahkan dirimu ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu selama ini!"


__ADS_2