
Helikopter yang membawa Shazia dan David telah tiba di pulau. Sebelum mendarat, David meminta agar helikopter mereka mengelilingi pulau miliknya tersebut. Pertama kali memasuki lokasi sekitar pulau Shazia sudah di buat kagum oleh keindahannya. Laut biru yang membentang terlihat indah seolah menyambut siapa saja yang datang. Dari atas Shazia bisa melihat jelas apa saja yang ada di dalam pulau.
Ada banyak perumahan di pulau tersebut. Namun, bangunan yang satu dengan yang lainnya jaraknya sangat jauh. Di tengah pulau ada seperti danau berwarna hijau.
"David, pulau ini sangat indah," puji Shazia sambil memandang ke bawah. Rasanya tidak bosan-bosannya Shazia memandang keindahan pulau milik suaminya tersebut.
"Ya, memang indah. Tapi sayang tidak terawat. Saat aku membeli pulau ini, pulau ini hanya hutan tidak berpenghuni. Ada beberapa warga yang suka datang untuk mencari kayu. Jaraknya dengan kota tidak terlalu jauh, jadi hanya naik sampan saja warga bisa tiba di pulau ini. Aku mengeluarkan dana yang cukup besar untuk menyihir pulau ini menjadi surga dunia. Sayang, rencanaku tidak sampai selesai. Aku melupakan pulau ini dan berencana menjualnya dengan harga yang murah," jelas David apa adanya.
"Lalu, rumah-rumah di bawah itu. Apa rumah itu kosong?"
"Ya, pulau ini kosong. Tidak ada yang tinggal di sini. Aku meletakkan penjaga agar tidak sembarang orang bisa masuk ke pulau ini," jawab David apa adanya.
"Pulau sebesar ini jika dijadikan markas The Felix pasti sangat keren," bisik Shazia pelan.
"Shazia, apa yang kau katakan?" David penasaran dengan ucapan Shazia barusan.
"Tidak. Tidak ada. Lalu, sekarang juga hanya kita berdua yang tinggal di pulau ini?" tanya Shazia dengan wajah yang serius.
David tersenyum. "Kenapa? Kau takut?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Apa yang harus di takutkan. Hanya saja sangat aneh jika tinggal di pulau sebesar ini berdua saja," tanya Shazia masih tidak percaya.
"Rumah kita ada di atas bukit. Rumah-rumah di bawah ini akan di huni oleh para pelayan dan penjaga. Mereka akan datang ke rumah kita pada pagi hari untuk beres-beres dan menyiapkan sarapan. Begitu juga ketika makan siang dan malam tiba. Setelah menyelesaikan tugasnya, mereka akan kembali dan membiarkan kita berduaan di rumah."
David memegang tangan Shazia dan mengecupnya. "Kita melalui pernikahan tanpa pacaran, tunangan. Saling kenal karena di paksa oleh keadaan. Momen bulan madu ini aku gunakan untuk mengenalmu lebih jauh Shazia. Begitu juga denganmu. Kita harus bisa mengetahui kelemahan pasangan kita agar hubungan kita bisa panjang."
Shazia hanya tersenyum. Ia juga setuju dengan ide David kali ini. Mereka belum pernah melewati yang namanya pacaran. Walau terkesan aneh, tapi Shazia sendiri ingin merasakan bagaimana rasanya pacaran. Walau itu harus ia lakukan bersama suaminya sendiri.
***
Setelah puas mengelilingi pulau, helikopter yang membawa Shazia dan David mendarat di sebuah lapangan luas. Lapangan itu terletak di belakang rumah yang akan mereka tempati selama bulan madu.
Shazia melihat Eva dan Albert sudah ada di sana. Bibirnya tersenyum bahagia. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Eva akan ikut bersama dengannya.
"Ya, aku sengaja mengajaknya untuk ikut karena aku tahu hanya dia pelayan yang paling memahami dirimu."
Shazia berjalan lebih dulu. Ia tersenyum memandang Eva dan memegang kedua tangan wanita itu. "Eva, kenapa kau tidak bilang kalau kau juga ikut ke sini?"
"Maafkan saya Nona. Saya juga tidak tahu kalau Tuan Albert akan membawa saya ke sini," jawab Eva dengan kepala menunduk.
__ADS_1
Shazia memandang Albert. "Jika tahu seperti ini, aku juga akan membawa Leah," ujar Shazia dengan tangan terlipat di depan dada.
Albert mengeryitkan dahi. "Maafkan saya, Nona. Tapi keamanan di sini sudah saya kendalikan. Percayakan semuanya kepada saya. Saya juga bisa menjadi lebih baik dari Leah," ujar Albert dengan wajah serius.
"Ehm, baiklah."
David berjalan mendekati Shazia. "Ayo kita masuk. Kau harus melihat isi rumahnya. Aku harap kau bisa merasa nyaman selama tinggal di sini, Shazia," ajak David sembari menggandeng pinggang Shazia.
Albert dan Eva juga ikut masuk. Mereka sengaja menjaga jarak beberapa meter di belakang David dan Shazia.
"Eva, apa kau sudah menyiapkan semuanya dengan baik?" tanya Albert dengan serius.
"Tenang saja, Tuan. Saya sudah menyiapkan baju-baju seksi di lemari. Saya pastikan David junior akan segera hadir," jawab Eva penuh percaya diri.
Albert hanya tersenyum kecil. "Tidak sia-sia aku membawamu hingga ke sini. Kau yang paling mengerti soal bulan madu seperti ini."
"Makanya, Tuan harus punya pacar agar tahu. Jika jomblo terus anda tidak akan pernah mengerti," sindir Eva.
Albert merapikan jas yang ia kenakan dan memasang wajah sangar. "Eva, kau mau aku hukum?"
__ADS_1
"Ti, tidak Tuan. Maafkan saya." Eva memutuskan untuk berlari menjauh dari Albert. Ia tidak mau mendapat hukuman dari pria itu.
Albert kembali mengatur napasnya ketika Eva sudah pergi. "Pelayan wanita itu semakin hati semakin berani saja!"