
David masih belum mau melepaskan pelukannya dari tubuh Shazia. Pria itu memejamkan mata sambil kembali membayangkan kejadian mengerikan yang tadi sempat ia lihat.
Seperti sebuah film action, bedanya ini perannya adalah istrinya sendiri. Maka dari itu menonton adegan tadi membuatnya sangat tidak tenang. Andai Leah tidak terus menghalanginya mungkin David akan muncul dan mengagalkan semuanya. Tujuannya hanya satu, David tidak mau istrinya celaka.
"David, apa kau tidur?" tanya Shazia dengan alis saling bertaut ketika suaminya tidak lagi mengatakan satu katapun.
"Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat Shazia," jawab David lalu secara perlahan membuka matanya. Tatapan mereka bertemu.
"Shazia, apa dia sempat melukaimu?" David memeriksa tangan Shazia dan seluruh tubuhnya untuk memastikan Shazia baik-baik saja.
Shazia menggeleng pelan. Namun, tiba-tiba saja racun itu kembali bereaksi. Shazia merasakan ngantuk yang amat sangat. Kedua matanya mulai berkedip berulang kali.
"Shazia, apa kau baik-baik saja?" David mulai khawatir. Mendengar pertanyaan David, Leah juga langsung melirik ke samping.
"Bos, apa ada sesuatu yang terjadi?"
Shazia menggeleng pelan. "Aku ... aku mau tidur." Tiba-tiba saja Shazia menjatuhkan kepalanya di tubuh David. Kedua matanya terpejam dan Shazia tidak lagi sadarkan diri. Hal itu membuat David dan Leah semakin khawatir.
"Shazia, bangun Shazia!" David menepuk pelan pipi Shazia berharap wanita itu masih bisa membuka matanya. Namun, Shazia memang sudah sangat terlelap hingga ia tidak bisa membuka matanya.
"Kita akan bawa Bos Shazia ke rumah sakit!" Leah segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Ia tidak mau terlambat.
Di sisi lain, Lohan dan timnya berhasil menemukan keberadaan Devid. Wajah Lohan terlihat kaget melihat keadaan Devid yang kini begitu mengenaskan. Ada luka bakar di mana-mana dan posisi pria itu juga terjepit. Namun, satu hal yang membuatnya tidak percaya. Devid masih hidup. Pria itu mengerakkan jemarinya ketika Logan hanya menatapnya dari jauh.
"Bos!" Dengan tubuh babak belur Logan berlari mendekati Devid. Bersama beberapa orang yang ia bawa, mereka bersama-sama menyelamatkan Devid dari lokasi kecelakaan.
"Bos!" sapa Logan lagi ketika ia sudah berhasil menarik Devid dari tronton tersebut.
Devid tidak mau mengatakan satu kata lagi. Pria itu justru pingsan dan tidak lagi sadarkan diri. Dengan kondisi lemah, Logan memerintahkan pasukannya untuk membawa Devid ke rumah sakit terdekat.
"Cepat! Bawa Bos Devid ke mobil! Kita harus menyelamatkannya sebelum terlambat!" teriak Logan dengan wajah panik. Ia kembali melihat tronton yang kini hancur dan gosong.
"Bagaimana bisa dia selamat?" gumam Logan di dalam hati masih dengan wajah tidak percaya kalau Devid berhasil selamat dari kecelakaan mengerikan itu.
***
Setibanya di rumah sakit, Shazia segera di serahkan ke ruangan IGD. David tadinya ingin menerobos masuk namun perawat tidak mengizinkannya. Leah duduk di kursi yang ada di depan IGD. Ia mengusap wajahnya dengan tangan sambil sesekali membuang napasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku tidak mau Shazia sakit!" ujar David sambil berjalan ke sana ke mari.
"Sakit?" Leah mengeryitkan dahi.
"Ya. Apa yang terjadi? Eva juga bilang akhir-akhir ini kondisi Shazia lemah. Apa sebenarnya Shazia mengidap penyakit tertentu?"
Leah beranjak dari kursinya. "Tidak mungkin! Nona Shazia wanita yang sehat."
David menatap wajah Leah dengan penuh kesedihan. "Lalu, apa yang terjadi? Kenapa dia harus tiba-tiba pingsan seperti ini?"
Leah diam sejenak. Ia kini memikirkan solusi yang bagus untuk mengetahui kesehatan Shazia. Namun, belum saja mendapat solusi tiba-tiba ponselnya berdering. Leah segera mengangkat panggilan masuk itu.
"Ada apa?"
"Bos, pria itu selamat!"
"APA?!" Ekspresi wajah Leah benar-benar kaget.
"Mereka membawanya ke sebuah rumah sakit. Saya sudah mengirim alamat rumah sakitnya ke anda."
"Baik, Bos."
Leah kembali memasukkan ponselnya ke saku. David terlihat penasaran dengan ekspresi kaget Leah yang tadi.
"Ada apa?"
"Pria itu selamat!" jawab Leah tidak bersemangat.
"Maksudmu Devid?"
Leah mengangguk pelan. "Aku membiarkan Logan pergi dan menyuruh orang untuk mengikutinya. Aku yakin dia pasti akan mencari tuannya. Ternyata benar, pria itu datang menolong Devid."
Suara pintu terbuka. Seorang dokter keluar dari ruang tempat Shazia di periksa.
"Dok, apa yang terjadi pada istri saya?"
"Istri anda hanya tertidur," jawab dokter itu dengan senyuman.
__ADS_1
"Tidur?" celetuk David dan Leah bersamaan.
"Ya," jawab dokter itu lagi tanpa beban.
"Tapi, Bos Shazia tidak pernah seperti ini sebelumnya." Leah masih tidak percaya kalau Shazia tidur sembarangan seperti itu.
Dokter itu juga memasang wajah serius. "Bagaimana kalau kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut? Dengan begitu kita akan tahu kesehatan Nona Shazia wajar atau sedang berada dalam masalah."
David sangat setuju. "Dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya. Saya akan membayar berapapun biayanya."
Dokter itu hanya tersenyum. "Baik, Tuan. Kami akan memberikan yang terbaik untuk istri Anda. Untuk mempermudah proses pemeriksaan, sebaiknya istri anda di rawat di rumah sakit selama beberapa hari."
"Baik, dok"
"Saya permisi dulu." Dokter itu pergi meninggalkan David dan Leah.
Leah masih tidak tenang dengan keadaan Shazia. Wanita itu kembali duduk dengan wajah khawatir.
"Bos ...," lirih seseorang.
Leah dan David memandang ke depan. Di sana mereka melihat Albert berdiri dengan kepala di balut perban. Bekas luka masih terlihat jelas di sekujur tubuh dan wajahnya. Bahkan ketika mau melangkah, jalan Albert harus tertatih-tatih.
"Albert!" David tersenyum bahagia. Memang tadi saat proses pembebasan Albert, David tidak bisa ada di sana karena dia harus ikut Leah menyelamatkan Shazia.
"Maafkan saya karena tidak berguna," ucap Albert dengan wajah sedih.
David menggeleng pelan. Ia berjalan mendekati Albert dan memeluk pria itu. "Tidak, Albert. Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik. Kau akan selalu menjadi orang kebanggaan ku!"
"Bagaimana dengan Nona Shazia, Bos? Mereka sudah memasukkan racun ke dalam tubuh Nona Shazia. Logan dan seorang pelayan penghianat yang sudah melakukannya selama ini."
"Racun?" Leah segera mendekati Albert. "Apa maksud Anda, Tuan? Racun? Bagaimana bisa Bos Shazia meminum racun?"
Albert mengangguk. "Dokter itu datang menemuiku. Dia terlihat ketakutan malam itu. Dokter itu menceritakan apa yang sudah ia lakukan terhadap Nona Shazia. Bahkan dokter itu sempat memberikan obat penawarnya. Tapi, malam itu saya di serang oleh Logan. Hingga akhirnya saya tidak berhasil memberikan obat penawar ini kepada Nona Shazia." Albert mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi obat penawar buat Shazia. David menerima penawar tersebut dengan bibir tersenyum.
"Terima kasih, Albert," ujar David dengan hati bahagia.
Leah berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. "Seharusnya aku bunuh saja si Logan itu! Dia benar-benar pria yang jahat!" umpat Leah di dalam hati.
__ADS_1