Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Pertolongan Shazia


__ADS_3

Saat melihat kedatangan Shazia dan David di sana, Devid tidak mau membuang waktu. Ia segera menarik Eva agar wanita itu berdiri. Setelah berdiri, Devid segera memeluk Eva dan tidak membiarkan siapapun menyentuhnya lagi. Devid melindungi Eva layaknya sebuah berlian yang berharga.


Eva yang masih ketakutan juga memeluk Devid dengan erat. Tidak ada pilihan lain bagi Eva. Bersama dengan Devid ia yakin akan aman.


Scarlett sendiri terlihat murkah melihat kelakuan Shazia. Ia berdiri dan siap bertarung untuk membalas perbuatan Shazia. Terakhir kali bertemu dengan Shazia, ia sendiri memang sudah menyimpan dendam. Tidak di sangka kini takdir mempertemukan mereka lagi.


"Wanita kampung! Berani sekali kau ikut campur! Aku pastikan kau yang akan menyesal karena sudah berani mengganggu kesenanganku!" ancam Scarlett tidak mau kalah.


Shazia melipat kedua tangannya di depan dada. Dari samping Shazia, David sendiri masih tidak percaya melihat Devid berdiri bahkan bisa bergerak layaknya orang normal. Dia tidak lagi fokus dengan perdebatan yang terjadi antara Shazia dan Scarlet.


"Devid … sejak kapan dia sembuh? Kenapa Eva tidak memberitahuku? Apa setelah ini Devid akan balas dendam atas apa yang pernah dilakukan Shazia? Bagaimanapun juga Shazia yang sudah membuatnya menjadi cacat kemarin," gumam David di dalam hati.


"Berani sekali kau menghinaku seperti itu wanita murahan!" balas Shazia kesal. Bahkan kedua tangannya sudah terkepal dan giginya bergertak. Karena tidak sabar, Shazia memilih untuk menyerang lebih dulu. Hingga akhirnya dua wanita itu saling menjambak. Berkelahi layaknya anak kecil.


David, Devid dan Eva sempat kaget melihat gaya bertarung Shazia dan Scarlett. Mereka justru segera melerai dua wanita itu. David menarik Shazia dan Devid menarik Scarlett. Devid sendiri juga tidak mau membiarkan Scarlett bebas begitu saja. Ia tahu kalau akan berbahaya membiarkan Scarlett berhasil lolos.


"Lepaskan aku, David!" teriak Shazia kesal.


"Sayang, tenanglah. Kita belum tahu sebenarnya bagaimana masalah yang terjadi. Kau tidak bisa gegabah. Kita bahkan tidak tahu, sebenarnya Scarlett seperti ini karena apa. Pasti ada alasannya," bujuk David agar Shazia kembali tenang.


"Kau membelanya?" tuduh Shazia cemburu.


"No. Aku tidak membela siapapun. Apa kau tidak melihat hal yang aneh di sini?" tanya David lagi.


Shazia mulai tersadar. Ia memandang Devid dan kaget. Sejak awal ia sendiri tidak terlalu peduli pada Devid hingga tidak tahu kalau Devid sudah tidak cacat lagi.

__ADS_1


Devid memegang tangan Scarlett dan mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa. Pria itu tidak peduli kini David dan Shazia memandangnya dengan penuh tanya. Berbeda dengan Eva. Wanita itu tahu apa yang kini dipikirkan oleh dua mantan majikannya. Ia menunduk dengan rasa bersalah.


"Lepaskan aku, Devid. Kau iblis! Pria sepertimu tidak pantas hidup!" teriak Scarlet. Wanita itu menendang bagian berharga tubuh Devid hingga akhirnya ia bisa terlepas. 


Devid melangkah mundur dengan rasa sakit luar biasa. "****!" umpatnya kesal.


"Kau yang seharusnya mati, Devid!" Scarlett mengambil kembali pistolnya yang tergeletak di lantai. Kini pria dan wanita itu saling menodongkan senjata api.


Eva melangkah mundur dengan wajah khawatir. Walau sempat meminta Devid mengakui kesalahannya di kantor polisi, tapi tetap saja ia tidak rela kalau sampai kehilangan pria itu untuk kedua kalinya. Ia tidak mau suaminya tewas.


"Nona, tolong Devid Nona," pinta Eva.


Shazia dan David memandang mereka berdua dengan bingung. Sedikit saja gerakan yang dilakukan Shazia atau David mungkin akan membuat salah satu dari mereka tewas. Shazia sendiri tidak menginginkan hal itu terjadi walau dua orang di depannya adalah orang yang sangat ia benci.


Kebetulan sekali Shazia dan David datang hanya berdua saja. Baik Leah maupun Albert tidak ikut bersama dengan mereka.


"Jangan lakukan itu, Devid. Kau mau pergi bersama wanita itu? Kau lebih mencintainya daripada diriku?" tanya Eva dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku, Honey. Tapi … bukankah ketika aku di penjara nanti kita juga tidak bisa bersama. Aku lebih memilih mati daripada harus hidup di dalam penjara," jawab Devid dengan suara menyedihkan. Terlihat jelas kalau rasa kecewa itu memenuhi dirinya saat ini.


Shazia dan David saling memandang. Mereka tidak tahu apa-apa. Namun, saat ini Shazia sendiri bertekad untuk menyelamatkan Devid. Ia tidak mau Devid sampai pergi lagi meninggalkan Eva. Eva akan sedih dan merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Secara diam-diam Shazia mengeluarkan belati. David yang tahu apa yang dilakukan Shazia hanya diam saja namun masih dengan sikap waspada dan melindungi.


Di detik-detik yang menegangkan ketika Devid dan Scarlet sama-sama menarik pelatuk mereka, Shazia segera melempar belatinya hingga membuat tangan Scarlett terluka dan tembakan wanita itu meleset ke arah lain. Sedangkan Devid, ia berhasil menahan tembakannya di detik terakhir. Pria itu memandang wajah Shazia dan menatapnya dalam.

__ADS_1


Begitu juga dengan Shazia. Wanita itu masih tetap menatap Devid layaknya musuh yang ingin ia habisi. Melihat Scarlett tidak memiliki senjata lagi membuat Eva berlari dan memeluk Devid. Wanita itu menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Devid.


"Maafkan aku … maafkan aku. Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!" lirih Eva dengan suara memohon.


Shazia segera mendekati Scarlett. Wanita itu memukul Scarlett agar tidak banyak tingkah lagi. Tidak di sangka kalau Scarlett bukan wanita sembarangan. Wanita itu membalas pukulan Shazia hingga akhirnya mereka berkelahi saling memukul di sana. Menggunakan barang-barang yang ada di rumah sebagai senjata.


David kembali berusaha melerai dua wanita itu. Namun kali ini kondisinya berbeda. David menahan langkah kakinya ketika posisi Shazia di bawah dan kini Scarlett meletakkan belati di leher wanita itu.


"Apa kau pikir aku akan kalah dengan mudah? Bahkan sepuluh wanita sepertimu bisa aku atasi sendiri! Sebelum kau tewas, aku ingin memberi tahumu satu hal Shazia. Aku Scarlett. S. Gustavo!" ucap Scarlett dengan senyuman penuh arti.


"Gustavo? Kau putri Gustavo yang disembunyikan itu?" ujar Shazia kaget.


Scarlett tersenyum penuh kemenangan. "Ya. Kenapa? Kau kaget? Kau pasti tidak menyangka kalau aku adalah putri dari mafia paling berbahaya di Brazil!" ucap Scarlett berbangga diri.


Shazia tersenyum kecil. Dengan santai ia menggenggam belati yang ada di dekat lehernya. Tangannya berdarah karena teriris belati tajam tersebut. Dengan darah yang menetes deras, Shazia mengeluarkan sebuah kalimat ancaman gantian.


"Dan kau harus tahu Scarlett! Aku Shazia. Aku Queen dari The Felix! Geng mafia yang sudah berhasil membunuh big Boss paling di takuti di Brazil. Tuan Gustavo!" ucap Shazia penuh kemenangan.


Scarlett kaget bukan main. Ia bahkan sampai tidak berkonsentrasi lagi dengan tujuan utamanya ingin membunuh Shazia. Di tambah lagi kini ia harus melihat Shazia menggenggam belati hingga terluka tanpa rasa sakit sedikitpun. Shazia segera mendorong Scarlet hingga wanita itu terhempas. 


Scarlett duduk di lantai dengan wajah tidak percaya. "Kau … kau wanita yang sudah membunuh ayahku? Kau wanita iblis itu?" 


Scarlet segera mengambil senjata api yang ada di dekatnya. Wanita itu ingin menembak Shazia. Ia sangat dendam sejak tahu kalau orang yang telah membunuh ayahnya kini ada di depan matanya.


"Pergilah ke neraka!" umpat Scarlett sebelum menarik pelatuknya.

__ADS_1


DUARRRR


__ADS_2