
Shazia sudah selesai mandi dengan gaun berwarna pink ia terlihat lebih segar pagi ini. Shazia merasa ada yang aneh sejak pertama kali keluar meninggalkan kamar tidurnya. Tidak ada pengawal atau pelayan yang berlalu lalang. Di tambah lagi, ruangan tersebut di dekor dengan begitu indah dan wangi.
"Ada apa ini? Kenapa rumah ini berubah menjadi taman bunga?" gumam Shazia di dala hati.
Shazia mengurungkan niatnya untuk turun dengan menggunakan lift. Ia lebih tertarik turun dengan tangga karena melihat tangga tersebut telah di hias dengan begitu indah.
Shazia melangkah dengan begitu pelan. Ia benar-benar menikmati kejutan manis yang telah disediakan David. Bibirnya secara otomatis tersenyum ketika aroma bunga mawar yang segar menusuk hidungnya. Shazia semakin bersemangat ketika melihat David berdiri di depan tangga. Pria itu terlihat sangat tampan ketika menyambut kedatangan Shazia.
"David?" gumam Shazia di dalam hati. Ia mempercepat langkah kakinya karena sudah tidak sabar berada di dekat pria tersebut.
David merasa khawatir melihat Shazia menjejaki anak tangga dengan begitu cepat. Ia takut istrinya terpleset dan terluka. Pria itu melangkah maju untuk menyambut Shazia lebih dekat lagi.
Seperti apa yang dipikirkan David. Shazia harus terpeleset ketika beberapa tangga lagi ia akan berhasil berada di dekat David. Dengan sigap David membuka tangannya hingga akhirnya Shazia jatuh ke dalam pelukannya.
"Shazia, apa kau baik-baik saja?" tanya David pelan.
Shazia mengangguk pelan. Pelukan itu terlepas dan Shazia berdiri sambil menatap wajah David. "Untuk apa semua ini?"
"Untukmu? Apa kau suka?" tanya David dengan wajah penuh harap.
Shazia mengangguk. "Sangat indah." Ia memandang sekeliling yang sudah di hias dengan begitu indah. Senyum manis itu tidak kunjung luntur di bibirnya.
"Aku punya kejutan istimewa untukmu." David segera menggenggam tangan Shazia dan membawanya ke halaman depan. Ia sudah tidak sabar memamerkan hadiah mobilnya kepada Shazia.
"Kejutan?" gumam Shazia di dalam hati. Ia tidak mau banyak tanya dan lebih memilih untuk mengikuti langkah kaki David dari belakang.
Setibanya di depan, Shazia melihat Albert yang sudah berdiri di sana bersama Leah. Mereka tersenyum sebelum menunduk hormat menyambut kedatangan Shazia.
"Selamat pagi, Nona," ucap mereka bersamaan.
"Jangan terlalu formal. Aku tidak biasa diperlakukan seformal ini," protes Shazia. Ia melirik Leah. "Leah, bersikaplah seperti biasa."
__ADS_1
Leah hanya tersenyum mendengar perkataan Shazia. Mereka berdua menyingkir agar hadiah yang sudah dipersiapkan bisa di lihat oleh Shazia dengan jelas.
Shazia hanya diam memandang mobil yang terparkir di hadapannya. Ia ingat kalau mobil itu adalah mobil impiannya selama ini. Namun, tidak terlintas sedikitpun di dalam pikirannya kalau mobil itu akan menjadi miliknya.
"Mobil siapa ini?" tanya Shazia kepada David.
"Mulai hari ini, mobil ini akan menjadi milikmu Shazia," jawab David penuh rasa bangga.
"Menjadi milikku? Apa maksudnya? Aku tidak memesannya," sangkal Shazia dengan wajah tidak percaya.
"Shazia, kau lupa kalau sekarang kau sudah memiliki suami? Jelas saja suamimu ini yang membelikannya untukmu," ucap David dengan wajah sombong.
Shazia mengeryitkan dahi. "Tapi harganya tidak murah."
David tertawa kecil. "Hei, apa kau pikir aku ini pria miskin? Kau tidak lupa kan kalau aku ini adalah pembisnis sukses yang ada di kota ini. Bahkan tidak lama lagi akan menguasai negara ini!" ujar David penuh percaya diri.
"Kau yakin memberiku mobil ini? Tapi, untuk apa? Maksudku ... aku tidak sedang ulang tahun," ucap Shazia untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"David ...," rengek Shazia manja.
David tersenyum kecil. Ia merasa puas sudah berhasil membuat istrinya merona malu seperti itu. Ketika merona Shazia terlihat semakin manis dan menggemaskan.
"Baiklah, apa kau mau mencobanya?" David mengeluarkan kunci mobil dan memamerkannya di depan Shazia. Tanpa pikir panjang wanita itu merebut kunci mobil yang sudah sah menjadi miliknya. Shazia sudah tidak sabar untuk mencoba mobil barunya yang memang sejak dulu sudah menjadi mobil impiannya.
***
Setelah puas berkeliling di halaman depan dengan mobil barunya, Shazia turun dari mobil dan kembali menemui David yang masih ada di depan rumah. Wanita itu terlihat sangat bahagia.
"Terima kasih," ucapnya kepada David.
David merasa puas sudah memberikan kebahagiaan di pagi hari untuk Shazia. "Ada lagi. Ayo ikut denganku." David kembali menarik tangan Shazia. Kali ini Albert dan Leah lebih memilih untuk mengikuti mereka dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Mereka tidak mau merusak momen romantis yang sudah di persiapkan oleh David di lokasi kolam renang.
__ADS_1
"David, kita mau ke mana? Aku lapar," ucap Shazia sambil memegang perutnya.
"Kita akan sarapan di sana," jawab David sambil menunjuk ke arah kolam renang. Shazia tidak mau banyak protes. Ia hanya menurut dan mengikuti kemana David membawanya.
Setibanya di dekat kolam renang, David mengajak Shazia berdiri di tumpukan mawar yang berbentuk Love. Pria itu mengambil sebuah amplop yang sudah ia persiapkan.
"Bukalah. Kejutan kedua ada di dalam," ucap David dengan senyuman.
Shazia yang sudah tidak sabar segera membuka amplop tersebut. Ia mengeryitkan dahi ketika melihat sebuah foto pemandangan yang sangat indah. Seperti sebuah negeri dongeng.
"Apa ini?"
"Tempat kita bulan madu nanti," jawab David.
Shazia menggeleng pelan. "Tempat seindah ini ada di bumi? Kenapa aku tidak pernah tahu?"
"Ini pulau yang ingin di beli oleh Scarlet. Apa kau ingat?" tanya David dengan serius.
"Pulau ini yang mau di jual? Pulau seindah ini?" ujar Shazia tidak percaya.
"Ya." David memegang kedua tangan Shazia. "Apa kau mau melewati bulan madu bersamaku Shazia? Di sana hanya ada aku dan kau."
"Ya, aku mau," jawab Shazia cepat. Namun, ketika ia kembali memahami perkataan David, Shazia memandang David dengan tatapan protes. "Hanya kita berdua? Di pulau sebesar ini?"
David menggeleng. "Akan ada banyak penjaga dan pengawal di siang hari. Tapi, ketika sore hingga menjelang pagi, aku pastikan hanya kita berdua yang berkeliaran di sana." Tatapan David mulai sensual. Hal itu membuat Shazia malu karena ia paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya.
"David, kau berubah menjadi pria mesum sekarang," bisik Shazia malu-malu.
David menarik Shazia ke dalam pelukannya. "Hanya kepadamu Shazia. Istriku! Aku pastikan sepulang dari bulan madu nanti, kau bisa mencintaiku seperti saat ini aku mencintaimu."
Shazia hanya tersenyum. Ia mengusap pipi David dengan lembut. "Aku akan berusaha mencintaimu, David. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak membalas cintamu."
__ADS_1