
Shazia duduk di atas tempat tidur sambil melahap makan siangnya. David tidak ada di kamar tersebut karena sedang dipanggil ke ruangan dokter. Sambil makan, Shazia kembali memikirkan masa depannya. Sejak awal pernikahannya dan David hanya karena tujuan tertentu. Shazia tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena tidak ada cinta di antara mereka.
"Aku harus membicarakan hal ini dengan David. Bagaimanapun juga, tujuan hidup kami berbeda," gumam Shazia di dalam hati.
Tiba-tiba saja Leah masuk ke dalam kamar. Wanita itu tersenyum ramah melihat Shazia sudah sehat dan ceria seperti biasanya.
"Bos, anda membuat saya khawatir." Leah meletakkan buah yang ia bawa di atas meja. Memandang makanan yang di makan Shazia sebelum duduk di pinggiran kasur.
"Ya. Aku tidak menyangka kalau Logan secara diam-diam telah meracuniku. Sejak pertama kali ada di rumah itu aku sudah sangat membenci dirinya," ujar Shazia sebelum melanjutkan makan siangnya.
"Apa Tuan David yang memberi tahu Anda?"
Shazia mengangguk. "Ya. Aku curiga dengan obat yang ia suruh minum tadi. Ternyata obat itu adalah obat penawarnya. Beruntungnya aku dokter itu masih ada di pihak David."
"Dokter itu memang baik. Dia melakukan semua ini karena terancam. Saat dia memiliki peluang, dia segera menemui Albert untuk memberi tahu semuanya. Oh ya, Bos. Awalnya Logan meminta racun yang bisa membuat daya tahan tubuh Anda berangsur hilang hingga anda lumpuh. Tapi, secara diam-diam dokter itu mengganti racunnya dan menggantinya dengan racun yang sama dengan obat tidur. Maka dari itu, anda mudah mengantuk dan bisa tidur hingga berhari-hari," jelas Leah apa adanya.
Shazia menghela napas kasar. "Aku tidak tahu lagi hukuman seperti apa yang pantas aku berikan kepada Logan."
__ADS_1
"Bos, apa Tuan David sudah menceritakan penghianatan yang dilakukan oleh Logan?"
"Penghianatan?" Shazia mengeryitkan dahi.
"Jadi, Bos. Ternyata Logan juga tidak setia kepada Devid. Secara diam-diam Logan memberi racun ke tubuh Tuan Devid hingga stamina pria itu lemah." Leah memandang ke arah lain. "Jika saja kita tahu kalau Devid tidak Sejago dulu, kita tidak perlu repot-repot merencanakan strategi seperti semalam kan Bos? Kita hadapi saja langsung. Pasti dia juga kalah!"
"Tunggu. Jadi, Logan juga menginginkan Devid tewas?" Wajah Shazia berubah serius.
"Benar, Bos."
"Bos, sebaiknya anda jangan memikirkan Logan dulu. Karena menurut saya, target dia kali ini bukan kita. Dia tidak akan muncul dalam waktu dekat untuk mencelakai anda."
"Tidak. Aku tidak memikirkan Logan. Aku hanya memikirkan David. Bagaimana dengannya? Dia pria yang tidak tega dan pengasih. Mengetahui saudara kembarnya berada di dekat pria jahat seperti Logan. Apa mungkin dia akan diam saja?"
Leah terdiam sambil memikirkan hal yang sama dengan Shazia. "Tapi, membawa Devid untuk tinggal di rumah yang sama dengan Tuan David. Itu juga bukan ide yang bagus bos."
Shazia menggeleng pelan. "Sudahlah. Untuk apa kita pikirkan. Itu bukan bagian dari masalah kita saat ini."
__ADS_1
Leah tersenyum kecil. "Bos, apa rencana anda selanjutnya? Apa anda benar-benar akan meninggalkan Tuan David. Di lihat dari sikapnya selama ini, sepertinya Tuan David sangat menyayangi Anda. Dia tidak akan mau berpisah dengan Anda."
"Awalnya aku juga berpikir seperti itu, Leah. Tapi, apa mungkin aku bisa menjalani kehidupan dengannya sedangkan aku memiliki The Felix?"
"The Felix ada hanya untuk bersenang-senang, Bos. Jika anda bisa bahagia dengan Tuan David, The Felix juga akan senang melihatnya."
Shazia diam membisu karena tidak tahu harus berbicara apa lagi. Leah menggenggam tangan Shazia dan mengusapnya dengan lembut.
"Bos, anda dan Tuan David sangat cocok. Kalian hidup sendiri tanpa mengenal kasih sayang dari sebuah keluarga selama ini. Saya tahu anda sangat kesepian. Sejak anda berada di rumah tuan David, anda lebih sering tersenyum. Saat ini pikirkan hal yang bisa membuat Anda bahagia. Jangan pikirkan The Felix dulu. Karena sudah bertahun-tahun lamanya anda memikirkan The Felix dan orang lain hingga membuat anda melupakan kebahagiaan anda sendiri."
Shazia merasa terharu mendengar perkataan Leah. Ia segera memeluk Leah dan meneteskan air mata. "Akhir-akhir ini aku sangat cengeng. Bisa-bisanya aku menangis hanya mendengar kalimat yang seperti itu."
"Bos, anda tidak perlu malu untuk menangis. Bagaimanapun juga, wanita diciptakan dengan hati yang lembut dan jauh lebih peka. Jadi, jika anda menangis itu hal yang wajar."
"Stop, Leah. kau belajar dari mana hingga bisa mengguruiku seperti ini?"
Leah tersenyum kecil. "Saya belajar dari anda, Bos. Anda saja yang tidak sadar kalau ternyata anda guru yang hebat bagi kami," gumam Leah di dalam hati.
__ADS_1