Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Akhir Masalah


__ADS_3

Albert berjalan menuju ke mobil dengan langkah yang cepat. Ia kini sedang ada di parkiran salah satu restoran yang ada di kota tersebut. Karena malam ini adalah malam santai, Albert memutuskan untuk menghirup udara segar dan makan di luar. Berada di rumah dan melihat kemesraan antara David dan Shazia akan membuatnya merasa canggung. Selama dua majikannya itu baik-baik saja, Albert akan memilih untuk meninggalkan rumah.


Tiba-tiba sebuah balok kayu mendarat di punggung Albert. Albert batal membuka pintu mobilnya. Walau terasa begitu sakit, tapi Albert berusaha melindungi dirinya sendiri. Ia menendang pria yang baru saja memukulnya hingga balok kayu di tangan pria itu terlepas.


Segerombolan pria muncul dan mengepung Albert. Mereka semua memegang senjata api dan menodongkannya ke arah Albert.


"Siapa kalian?" tanya Albert sambil memikirkan strategi yang pas untuk melawan musuhnya.


Tanpa menjawab. Pria-pria itu segera menyerang Albert dengan keroyokan. Mereka tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada Albert untuk membalas pukulan mereka. Mereka membuat Albert babak belur. Walaupun saat itu Albert terus berusaha melawan, tetap saja ia kalah jumlah.


Beberapa pria itu segera memegang tangan Albert. Dengan wajah yang sudah babak belu, Albert hanya bisa memandang lawan di depannya. Ia merasa sangat sial karena di serang saat sedang santai seperti ini. Bahkan membawa senjata saja tidak. Berusaha berontak juga lawan yang ia hadapi tidak sedikit. Bahkan mereka menodongkan senjata api dengan posisi mengepung.


"Lain kali, jangan suka ikut campur urusan orang lain. Kau hanya pria payah yang tidak sebanding dengan kami!" ucap pria itu sebelum mengangkat senjata apinya. Ia menempelkan ujung senjata api itu di dahi Albert. Mengukir senyuman tipis sebagai pertanda kemenangan dirinya sendiri.


"Seharusnya kalimat itu untuk anda, Tuan!"


Tiba-tiba saja ujung pelatuk pistol mendarat di pelipis kanan pria itu. Ia memiringkan wajahnya secara perlahan untuk melihat seseorang yang sudah berani mengancamnya.


Leah dan The Felix sudah berdiri di sana untuk menolong Albert. Bahkan jumlah The Felix jauh lebih banyak hingga membuat pria itu dan komplotannya gemetar ketakutan. Tidak hanya Leah.


Shazia dan David juga ada di sana. Dengan tangan terlipat di depan dada, wanita itu terlihat sangat menikmati pemandangan di mana musuhnya ketakutan.


"Tembak saja kepalanya. Setelah itu cincang tubuhnya dan jadikan makanan ikan di laut," teriak Shazia.


David menaikan satu alisnya. Wajah pria itu merapat dengan wajah sang istri. "Sayang, itu sangat kejam," bisik David secara diam-diam.


"Aku masih baik padanya. Bagaimana kalau aku menyiksanya dengan cara lain?"


"Tidak tidak. Yang tadi jauh lebih baik. Setidaknya ia sudah tewas sebelum merasakan sakitnya di cincang," ujar David sebelum memandang ke depan lagi.


Pria itu menurutkan senjata apinya. Percuma saja ia membunuh Albert karena setelah itu dia tidak akan bisa merayakan kemenangannya.


Leah masih tidak mau menurunkan senjata apinya. Ketika Albert berjalan pergi, Leah hanya melirik wajah pria itu sebelum mendorong lawannya agar bersujud di depannya.

__ADS_1


"Sejak awal kami memilih untuk diam. Kami tidak pernah mengusik hidup kalian," ujar Leah lagi.


Pria itu memandang pasukannya yang kini juga sudah bersujud ketakutan. Mereka adalah komplotan yang sudah membuat jelek nama The Felix. Walau sempat dibiarkan tenang, tapi Leah tentu saja tidak akan membiarkan hidup mereka tenang selama-lamanya.


"Apa tujuan kalian melakukan semua ini? Jika alasannya masuk akal, aku dengan senang hati akan membebaskan kalian," ujar Leah lagi.


Pria itu melirik ke arah Shazia sebelum menunduk takut. "Seseorang menyuruh kami."


"Seseorang?" Leah berjongkok di hadapan pria itu dan memukulnya dengan senjata api. "Itu bukan jawaban! Katakan yang sebenarnya terjadi!" teriak Leah.


"Frank. Frank yang meminta kami melakukan semua ini?" jawab pria itu terbata-bata. "Jika tidak mengikuti perintahnya, dia akan membakar markas kami."


"Frank?" Leah kembali berdiri. Ia memandang wajah Shazia dengan serius. "Bos, kita lupa satu hal. Logan memiliki rekan bernama Frank. Hingga detik ini saya sendiri tidak tahu di mana keberadaannya," ujar Leah serius.


"Frank?" ulang Shazia dengan ekspresi wajah yang tetap tenang.


***


Eva terbangun ketika mendengar suara gaduh dari arah dapur. Ia segera duduk di atas tempat tidur dan memandang ke arah pintu. Debaran jantungnya tidak karuan karena kini ia merasa sangat takut.


Baru saja ingin memegang handle pintu, tiba-tiba bayangan seseorang berdiri di depan pintu sudah terlihat dari bawah. Eva segera menyingkir dan bersembunyi di balik pintu. Kalau pintu itu terbuka, seseorang tidak akan sadar kalau sebenarnya Eva bersembunyi di baliknya.


Pintu terbuka secara perlahan. Eva memejamkan matanya sejenak dengan tangan gemetar. Namun, ia berusaha kuat.


Seorang pria melangkah masuk ke dalam kamar. Kamar itu terlihat gelap, pria itu mencari saklar lampu agar bisa menerangi ruangan. Tiba-tiba saja Eva memukul pundak pria itu. Karena pukulan Eva tidak terlalu kuat, pria itu merasa tidak sakit sama sekali. Ia justru memutar tubuhnya dan menatap wajah Eva dengan tatapan menyeramkan. Di tambah ruangan yang temaram, pria itu terlihat sangat menakutkan.


Eva melempar tongkat di tangannya. Ia melangkah mundur dengan wajah ketakutan. "Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" tanya Eva sembari berjalan mundur mendekati tempat tidur.


Pria itu tersenyum lagi. Ia melirik ke arah Devid sebelum mendekati Eva. "Angel ... bukankah kau adalah Angel? Aku ke sini tidak ingin melukai siapapun. Aku ke sini dengan damai."


"Apa yang kau inginkan?" tanya Eva lagi.


"Katakan padaku. Tanggal berapa pertama kali kau dan pria cacat itu bertemu," ucap pria itu dengan tenang.

__ADS_1


Eva memandang ke arah Devid. Ia tahu kalau pria cacat yang di maksudnya adalah Devid.


"Aku tidak ingat," dusta Eva. Ia tidak mau mengatakan yang sebenarnya.


"Tidak ingat?" Pria itu mendekat. Dalam sekejap ia menjambak rambut Eva hingga membuat rasa sakit yang teramat sangat. "Aku akan membantumu mengingat semua itu."


Pria itu menyeret Eva keluar dari kamar. Eva berteriak minta tolong berharap pengawal yang menjaga rumah itu mendengarnya. Tapi, semua terasa percuma. Sepertinya pria itu sudah berhasil mengalahkan seluruh penjaga sebelum ia masuk ke kamar. Pria itu menyeret Eva menuju ruang tamu. Ia menghempaskan tubuh Eva hingga kepala Eva terhantam kursi kayu dan berdarah.


"Katakan atau kau akan merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa daripada yang sekarang kau rasakan!" ancam pria itu lagi.


Eva menggeleng pelan. "Aku benar-benar tidak ingat. Kejadiannya sudah sangat lama."


Pria itu mengeluarkan sebuah belati. Tajamnya belati itu membuat Eva semakin ketakutan. Air mata mulai menetes. Eva ingat semuanya tapi dia tidak mau memberi tahu siapapun. Ia tidak mau informasi yang ia berikan nantinya di salah gunakan dan akan menguntungkan sebelah pihak.


"Baiklah. Mungkin sedikit goresan akan membuatmu mengatakan yang sebenarnya," ancam pria itu lagi.


Eva menunduk dengan kaki di tekuk. Ia berusaha melindungi wajahnya. Pria itu semakin dekat hingga membuat Eva pasrah. Tidak ada kemampuan yang ia miliki untuk membela diri.


Beberapa detik Eva menutup Eva, ia mulai berani membuka mata. Wanita itu kaget bukan main ketika melihat apa yang terjadi di depannya.


Devid berdiri di mencekik leher pria itu. Tatapannya di penuhi dendam hingga siapa saja yang melihatnya merasa ngeri dan takut untuk mengeluarkan kata.


"Kau ... kau tidak cacat?" ujar pria itu dengan napas tersengal.


"Pergilah ke neraka bersama rekanmu Logan, Frank!" ujar Devid sebelum mencekik Frank hingga tewas. Setelah pria itu tidak bernapas, Devid segera menghempaskan tubuhnya begitu saja di lantai.


Eva yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat hanya bisa diam membisu memandang wajah Devid. Devid membalas tatapan Eva. Pria itu membuka kedua tangannya untuk memeluk sang istri.


"Honey, kau tidak mau memelukku? Apa kau tidak merindukanku?" ucap Devid dengan lembut. Cukup jauh berbeda dari sikap pria itu selama ini.


Eva meneteskan air mata semakin deras lagi. Ia segera berdiri dan berhambur ke dalam pelukan Devid. Tangisnya benar-benar pecah. Tangannya terus saja memukul dada Devid untuk melampiaskan rasa kesalnya.


__ADS_1


"Kau jahat, Devid. Kau jahat!" ucap Eva dengan suara serak.


Devid memejamkan mata sebelum memeluk erat tubuh mungil Eva. "Maafkan aku, Honey. Maafkan aku."


__ADS_2