Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Permintaan David


__ADS_3

Shazia dan David sudah tiba di rumah. Kedatangan mereka di sambut meriah oleh para pelayan dan pengawal yang selama ini bekerja di rumah tersebut. Salah satu pelayan yang menyambut kedatangan Shazia dan David, terlihat Eva yang memegang buket bunga mawar. Ia berjalan mendekat untuk memberikan bunga yang sudah ia persiapkan sejak tadi.


"Selamat datang kembali, Nona. Kami senang melihat anda bisa kembali ke rumah ini," ucap Eva dengan wajah berseri.


Shazia mengukir senyuman dan menerima bunga tersebut. Ia terlihat bahagia mendapat sambutan hangat yang seperti itu.


"Shazia, ayo kita masuk," ajak David sebelum menggandeng pinggang Shazia dan membawanya masuk ke dalam.


Shazia sedikit terperanjat ketika tangan David ada di pinggangnya. Namun, sebisa mungkin ia memasang wajah tenang agar tidak terlihat panik di depan yang lainnya.


Shazia dan David masuk ke dalam rumah dengan hati yang bahagia. Walau memang belum bisa di bilang musuh mereka telah kalah. Tapi setidaknya untuk saat ini mereka bisa merasakan ketenangan hidup.


Shazia memandang sekeliling rumah dengan alis saling bertaut. Bukan hanya barang-barangnya saja yang berbeda. Tapi tata letak hingga warna cat di rumah itu telah berganti. Shazia seperti masuk ke dalam rumah baru saat itu.

__ADS_1


"David, apa ini rumah yang waktu itu?" tanya Shazia tidak percaya. "Rumah yang pernah kita tempati?"


"Ya. Aku sengaja mengubah dekorasi dan warna catnya agar terlihat seperti rumah baru. Sudah cukup lama rumah ini tidak direnovasi. Kini saat yang tepat untuk mengubahnya menjadi jauh lebih indah," jawab David dengan wajah bahagia. Ia sangat senang melihat respon tang diberikan Shazia saat itu adalah positif.


"Dalam waktu singkat semua bisa berubah. Uang memang menentukan segalanya," ucap Shazia pelan. Namun David bisa mendengarnya dengan jelas.


"Tidak Shazia. Uang tidak bisa menentukan segalanya," sambung David. Hal itu membuat Shazia mengeryitkan dahi dan bingung.


"Apa maksudmu David?"


Shazia mematung mendengar pertanyaan David. Bersamaan dengan itu, semua orang yang ada di sana pergi menghindar. Mereka ingin memberikan waktu kepada Shazia dan David untuk berduaan.


"Aku tidak menyangka dia akan menanyakan hal ini sekarang. Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana," gumam Shazia di dalam hati.

__ADS_1


"Shazia, apa kau merasa tertekan tinggal di rumah ini hingga memiliki niat untuk pergi meninggalkanku?" tanya David lagi. Kali ini nada bicara David sedikit menyayat hati hingga membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi tidak tega.


"David, tidak seperti itu." Shazia meletakkan bunga itu di atas meja sebelum memegang tangan David. "Ada alasan tersendiri yang membuatku tidak bisa tinggal di rumah ini bersamamu."


"Apa Shazia? Apa yang kau inginkan hingga kau harus meninggalkanku? Shazia, walau terkesan sepele. Tapi pernikahan kita sah. Kita kini adalah sepasang suami istri yang sah di mata agama dan hukum. Kita tidak boleh berpisah. Kita harus tetap menjalani pernikahan ini."


"David, kita memang memiliki status yang begitu kuat. Tapi kita tidak saling cinta ...." Shazia memalingkan wajahnya. "Bagaimana bisa kita menjalani rumah tangga kalau tidak ada rasa cinta?"


David tertawa kecil. "Aku yakin, bukan itu alasannya. Kau pasti sengaja membuat alasan seperti itu agar bisa pergi dariku."


"Tidak! Aku tidak mengada-ada. Aku tidak bisa hidup dengan pria yang tidak mencintaiku!"


"Di matamu aku seperti itu Shazia? Apa kau tidak pernah bisa merasakan apa yang aku rasakan?" David mengecup tangan Shazia dan meletakkannya di dada. "Aku selalu ingin bersamamu Shazia. Aku tidak mau berpisah darimu. Aku ingin kita selalu bersama sampai maut memisahkan kita. Karena ... aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Shazia. Bahkan aku sampai tidak peduli apa kau akan membalas rasa cintaku atau tidak. Yang aku tahu, aku mencintaimu!"

__ADS_1


Shazia merasa sangat bahagia mendengar jawaban David. Memang kalimat seperti itu yang ingin ia dengar. Walau sebenarnya Shazia sendiri masih ragu dengan perasaannya.


"Shazia, katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya kalau aku benar-benar cinta padamu? Jangan tanya sejak kapan. Karena aku sendiri tidak tahu kapan rasa cinta itu datang. Shazia, jangan pergi. Aku mohon ...."


__ADS_2