
"Kau yakin akan berangkat sekarang? Hanya bersama Albert? Tidak mau aku temani?" tanya Shazia ketika David bersiap-siap untuk berangkat menjemput Devid.
"Ada Albert. Di sana aku akan bertemu dengan Logan. Memang apa yang bisa ia perbuat? Bagaimanapun juga dia hanya mantan bawahanku," jawab David sambil merapikan penampilannya di depan cermin.
"Jangan sepele. Terkadang musuh yang kita anggap lemah bisa saja mengalahkan kita dengan mudah," ucap Shazia memperingati.
David memiringkan tubuhnya. Ia menatap wajah Shazia dan menarik pinggang wanita itu ke dalam pelukannya. "Apa kau sering melihat orang yang seperti itu?"
Shazia mengangguk. "Maka dari itu aku tidak pernah memberi kesempatan kepada musuhku untuk hidup. Jika aku ingin dia mati, dia harus mati di depan mataku!"
"Kau wanita yang kejam, sayang," bisik David mesra.
"Jika tidak seperti itu, maka detik ini aku tidak akan berdiri di hadapanmu. Aku sudah berbaring kaku di dalam tanah," jawab Shazia santai.
David mendaratkan kecupan hangat di pucuk kepala Shazia. "Aku pergi dulu ya. Tadi kata Albert, Leah sudah membawa Eva kembali ke rumah ini. Dia ada di dalam kamarnya. Apa kau yakin akan mempertahankan Eva di rumah ini?"
"Ya. Dia wanita yang baik. Hatiku yang mengatakan hal itu," jawab Shazia dengan senyuman.
"Baiklah. Aku akan segera kembali." David memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan kamar. Sedangkan Shazia masih mematung di tempatnya melihat punggung David semakin menjauh.
***
Di lantai bawah, David sudah di tunggu oleh Albert. Ada Leah juga di sana. Albert dan Leah larut dalam obrolan seru sebelum David muncul. Mereka berdua menunduk hormat melihat David muncul di hadapan mereka.
"Selamat malam, Bos. Kita berangkat sekarang?" tanya Albert.
__ADS_1
"Ya." David memandang wajah Leah. "Leah, tolong jaga Shazia. Aku tidak mau dia berada dalam bahaya."
"Baik, Tuan."
David kembali memandang Albert. "Ayo, kita harus segera berangkat."
Albert mengikuti langkah David dari belakang
Malam ini Albert yang akan menjadi supir bagi David. Mereka akan berangkat ke luar kota tempat Logan menyekap Devid.
"Bos, sebelumnya Logan membawa Tuan Devid tinggal di apartemen. Namun, baru saja kemarin ia membawa Tuan Devid pindah ke sebuah rumah yang ada di tengah hutan," jelas Albert sambil berjalan menuju mobil.
"Logan benar-benar pria yang licik dan jahat. Aku yakin, jika tidak ada sesuatu yang ia harapkan dari Devid, pasti detik ini ia sudah membunuh Devid," jawab David semakin kesal.
"Sepertinya begitu, Bos." Albert membuka pintu mobil untuk memberi jalan kepada David. Saat ingin masuk ke dalam mobil, David kembali memandang rumah. Hatinya sangat berat jika harus berjauhan dengan Shazia seperti ini. Ia ingin selalu ada di dekat Shazia. Memeluk dan memanjakan istrinya setiap detik.
David menggeleng pelan sebelum masuk ke dalam mobil. Albert segera menutup pintu dan berlari menuju kemudi. Mereka harus segera berangkat agar segera tiba di tempat yang ingin mereka tuju. Karena lokasi yang akan mereka kunjungi sangat sulit di jangkau helikopter. Jadi kali ini mereka akan menuju rumah tersebut dengan menggunakan mobil.
Di dalam kamar, Eva masih terlihat bersedih. Sudah berulang kali ia coba untuk melupakan Devid. Bahkan ia menganggap pria itu tidak pernah hadir di dalam hidupnya. Tapi semakin ke sini, nama pria itu mengganggu pikirannya. Membuatnya tidak lagi bersemangat menjalani hidup.
"Devid ... kenapa kita harus bertemu lagi? Kenapa kita harus bertemu dengan cara seperti ini. Berulang kali aku muncul di hadapanmu, tapi aku tidak pernah berani mengangkat kepalaku dan memperlihatkan wajahku. Aku tidak siap bertemu denganmu lagi. Aku tidak siap dilupakan. Aku tidak siap melihat tatapan matamu yang mungkin sudah tidak ingat lagi dengan cinta kita. Hatiku sakit. Hatiku sangat sakit Devid ...," lirih Eva dengan derai air mata.
Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu. Eva segera menghapus air matanya dan mengizinkan orang tersebut masuk. Saat pintu terbuka, Eva melihat Shazia dan Leah berdiri di ambang pintu.
"Eva, apa aku boleh masuk?" tanya Shazia pelan.
__ADS_1
"Boleh, Nona. Silahkan." Eva segera mengeringkan air matanya. Wanita itu menarik kursi dan mempersilahkan Shazia duduk di sana.
Shazia tersenyum dan melangkah masuk. Ia duduk di kursi yang disediakan Eva sedangkan Leah berdiri di sampingnya.
"Eva, apa kau masih memikirkan Devid?"
Eva mengangguk pelan. "Saya tidak siap bertemu dengannya lagi, Nona. Seharusnya anda tidak perlu membawa saya kembali ke rumah ini. Bukankah Tuan David akan menjemputnya agar tinggal di rumah ini?"
"Maafkan aku, Eva. Membawanya ke sini bukan karena aku ingin membuat hatimu terluka. Bukankah kau sendiri yang membujukku hingga aku berubah pikiran seperti sekarang?" tuduh Shazia tidak mau kalah.
Eva tersenyum. "Saat itu saya tidak tahu harus berbuat apa, Nona. Tuan Albert meminta saya untuk melakukan hal itu."
"Kau membujukku karena di paksa Albert?"
Eva mengangguk pelan. "Dan saya tidak menyangka kalau hanya dengan mengatakan hal seperti itu, Anda bisa terpengaruh. Tadinya saya pikir anda akan menolak semua saran yang saya berikan," ucap Eva apa adanya.
Shazia menghela napas kasar. "Semua sudah terlambat. David sudah berangkat untuk menjemput pria itu. Sekarang tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima pria itu di rumah ini."
Eva kembali diam membisu. Ia melamun dan kembali membayangkan masa-masa indahnya bersama Devid dulu.
"Eva, kalau boleh aku tahu. Seberapa dekat hubungan antara kau dan Devid? Melihat kau sakit hati seperti ini, aku merasa kalau hubungan kalian sangat serius," tanya Shazia penasaran.
Eva diam sejenak dan berpikir. Ia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi, ini semua harus ia katakan agar tidak ada lagi salah paham yang terjadi.
"Saya ... saya dan Devid." Eva menahan kalimatnya hingga membuat Shazia dan Leah semakin geram di buatnya.
__ADS_1
"Eva, katakan sejujurnya. Jika kau berbohong, habislah kau!" ancam Leah tidak sabar.
Eva kembali menunduk takut. "Saya dan Devid sudah menikah, Nona!"