Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Penyesalan David


__ADS_3

"Dokter, bagaimana dengan istri saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya David ketika seorang dokter keluar dari ruang operasi.


Sudah berjam-jam mereka menunggu di depan dan baru detik ini ada dokter yang keluar dari ruangan tersebut. Selama menunggu, David terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan saat seorang dokter merawat luka tembak di lengannya ia tidak lagi merasa sakit sedikitpun. Rasa penyesalan di hatinya jauh lebih terasa daripada rasa sakit karena luka tembak.


"Untuk saat ini Nona Shazia belum sadarkan diri. Kami sudah berhasil mengatasi luka pada perutnya. Lukanya cukup dalam karena senjata yang digunakan juga ukurannya panjang. Sedikit lagi bisa merobek rahim Nona Shazia," jelas dokter itu dengan serius.


David kembali membisu. Tidak tahu apa lagi yang ingin ia tanya karena dokter itu sudah menjelaskan apa yang kini dirasakan oleh Shazia.


"Untuk sementara, Nona Shazia belum bisa di jenguk. Saya permisi dulu Tuan."


David masih mematung di tempatnya berdiri. Leah dan Albert memandang kepergian dokter itu sebelum memandang David lagi. Di antara Leah dan Albert. Jelas saja Leah yang paling emosi. Wanita itu benar-benar marah karena semua yang kini di alami oleh Shazia disebabkan oleh David.


"Aku memang bodoh! Aku tidak bisa melindungi istriku," lirih David dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, anda memang bodoh Tuan!" sambung Leah. Wanita itu berdiri dan menatap wajah David dengan tatapan menantang. "Selain bodoh, anda juga lemah!"

__ADS_1


Albert tidak terima dengan apa yang dikatakan Leah. Pria itu mencengkram tangan Leah untuk memberi peringatan. "Apa kau bisa jaga bicaramu? Ini bukan saatnya untuk menyalahkan."


Leah menghempaskan cengkraman Albert. "Hal seperti itu sudah biasa kami lakukan. Bukan hanya memenggal musuh! Kami juga tega mencongkel matanya dan membiarkannya hidup dalam penderitaan. Memang apa yang salah? Mereka musuh. Jika tidak kita yang melukai maka mereka akan melukai!"


"Itu hidup kalian! Sejak kecil Tuan David hidup di lingkungan yang tentram. Penyiksaan yang ia tahu hanya sebatas memukul! Jadi, jangan pernah samakan hidupmu yang liar itu dengan kehidupan kami!" teriak Albert tidak mau kalah.


"Liar kau bilang? Ya, kami memang liar."


"CUKUP!" teriak David memecah perdebatan antara Leah dan Albert. Pria itu memandang wajah Leah. "Ya, aku memang salah. Aku bodoh. Aku pria lemah. Tapi aku melakukan semua itu bukan karena aku kasihan dengan Logan. Aku hanya tidak mau Shazia mengotori tangannya dengan darah pria jahat seperti Logan. Seharusnya kalian bisa memberikanku kesempatan untuk memberi pelajaran kepada pria itu. Biar aku yang menanggung semuanya."


Leah mulai bisa meredam emosinya. Namun untuk berlama-lama di tempat itu ia tidak mau. Leah memutuskan pergi meninggalkan David dan Albert. Wanita itu masih belum bisa memaafkan kesalahan David begitu saja selama Shazia belum mau membuka mata.


Di rumah, Eva mulai sadar. Obat bius yang sempat membuatnya pingsan kini telah hilang. Eva kembali ingat dengan kejadian yang terjadi sebelum dirinya tidak sadarkan diri. Namun, ketika ia melihat kalau dirinya masih berada di kamar yang sama, Eva merasa semua yang terjadi hanyalah mimpi.


"Apa aku bermimpi? Jika memang benar, kenapa mimpi itu terasa nyata dan ...." Eva memandang Devid untuk memastikan pria itu baik-baik saja. "Tidak. Aku tidak mungkin bermimpi!"

__ADS_1


Eva melihat tangan Devid yang sempat ia cakar ketika Logan membungkamnya dengan bius. Dari sana Eva bisa tahu kalau apa yang ia alami tadi malam adalah kenyataan. Luka cakar di lengan Devid masih ada.


"Apa Nona Shazia berhasil menyelamatkanku?" gumam Eva lagi. Wanita itu segera turun dari tempat tidur untuk mencari informasi. Orang pertama yang paling ingin ia temui adalah Shazia.


Setibanya di depan pintu kamar, Eva bertemu dengan pelayan wanita yang sedang beres-beres. Tanpa pikir panjang, Eva segera menanyakan keberadaan Shazia.


"Apa Nona Shazia sudah bangun?"


Pelayan itu saling memandang sebelum menggeleng pelan. Hal itu membuat Eva semakin bingung.


"Nona Shazia belum bangun?" ucap Eva lagi


"Nona Shazia di bawa ke rumah sakit karena luka tusukan yang ia alami," ucap salah satu pelayan wanita.


Eva menutup mulutnya karena kaget. "Luka tusukan? Siapa yang sudah menusuk Nona Shazia?"

__ADS_1


"Kami juga tidak tahu. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dan keadaan sudah kacau. Kami permisi dulu." pelayan-pelayan itu segera pergi untuk melanjutkan beres-beres yang belum selesai. Sedangkan Eva terlihat panik dan ingin tahu bagaimana keadaan Shazia saat ini.


"Aku harus ke rumah sakit!"


__ADS_2