Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Tak diundang


__ADS_3

Eva berada di dapur dan kini sibuk mengolah bahan makanan. Masalah kemarin masih belum mau ia bahas lagi. Devid duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Pria itu memandang istrinya yang sedang memasak dengan wajah bingung.


Hingga detik ini Devid belum mau memberikan keputusan apapun. Bersamaan dengan itu, Eva juga tidak mau bersikap ramah padanya. Tentu saja hal itu membuat Devid menderita. Ia tidak sanggup di abaikan oleh wanita yang ia cintai.


Devid menopang kepalanya dengan tangan kanan. Pria itu terlihat jauh berbeda dari biasanya. Wajahnya yang kejam dan membunuh tidak lagi terlihat. Devid sama seperti pria lain yang sedang menunggu istrinya memasak.


"Honey, kau masih marah padaku?" ujar Devid memecah keheningan.


Eva berhenti sejenak ketika mendengar perkataan Devid. Namun, tanpa menjawab wanita itu kembali melanjutkan kegiatannya untuk memasak.


Devid menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika tidak ada jawaban di sana. Ia berdiri dan berjalan mendekati Eva. Tanpa permisi Devid memeluk Eva dari belakang dan mengecup leher wanita itu dengan gemas.


"I love you ...," bisik Devid mesra.


"Devid, lepaskan!" protes Eva.


Bukan melepas pelukannya, justru Devid mematikan kompor. Tidak peduli masakan sang istri sudah matang atau belum.


"Apa yang kau lakukan?" protes Eva. Ia ingin kembali menghidupkan kompor tersebut agar bisa kembali memasak. Namun, dengan cepat Devid memegang tangannya dan memutar tubuh wanita itu agar berbalik.


Devid memegang pinggang Eva dan mengecup bibir wanita itu dengan gemas. Sudah sejak semalam ia ingin melakukan hal itu. Hanya saja kesempatan yang ia dapat baru detik ini.


Eva terlihat berontak. Namun ketika hatinya berbicara, secara spontan Eva membalas ciuman manis itu. Tidak lama setelahnya, air mata mulai menetes. Devid menyudahi cumbuannya dan mengusap air mata Eva.

__ADS_1


"Jangan menangis," bujuk Devid memohon. Dengan jemarinya dan penuh kelembutan, Devid menghapus air mata Eva.


Suasana romantis itu berubah menjadi suasana haru. Eva tidak bisa membendung air matanya hingga tumpah dengan deras. Devid sendiri tidak tega melihat istrinya menangis sedih seperti itu.


"Oke, aku akan menyerahkan diri ke polisi. Apa kau puas? Tapi, berjanjilah padaku. Jika nanti aku tidak ada di sisimu, jangan pernah teteskan air matamu yang berharga ini," ujar Devid mantap.


"Apa kau serius?" tanya Eva ragu.


"Ya. Angel ... apapun akan aku lakukan asal kau bahagia," ucap Devid lagi. Pria itu menarik tubuh Eva dan memeluknya dengan erat. Kedua matanya terpejam menahan rasa kecewa.


"Aku sangat mencintaimu Eva. Aku bukan takut menyerahkan diri ke kantor polisi. Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu. Aku ingin menjagamu. Aku ingin memastikan sendiri kalau kau baik-baik saja," gumam Devid di dalam hati.


Tok tok


Suara ketukan pintu membuat pelukan itu terlepas. Eva menghapus air matanya sendiri sedangkan Devid menatap wajah wanitanya dengan lega.


Eva menggeleng pelan. "Biar aku periksa," jawab Eva cepat. Ia berjalan ke arah pintu untuk melihat tamunya yang baru saja datang. Sedangkan Devid memutuskan menunggu di dapur sambil duduk di kursi sebelumnya.


Eva membuka pintu rumah secara perlahan. Betapa kagetnya Eva ketika pintu terbuka, tiba-tiba sebuah pistol mendarat di dahinya. Eva membisu. Ia tidak bisa mengatakan apapun bahkan mengedipkan mata saja tidak berani.


Orang itu menariknya dan memutar tubuhnya. Pistol itu masih melekat di dahi Eva. Sayangnya pria itu menggunakan topeng hingga Eva sendiri tidak tahu siapa orang yang kini ingin mencelakai dirinya.


"Honey, kenapa lama sekali? Siapa yang datang?" ujar Devid dari dapur.

__ADS_1


Langkah pria itu tertahan ketika melihat pemandangan di depannya. Ia menatap tajam orang yang sudah berani menyentuh dan mengancam Eva. Kedua tangannya terkepal dan giginya menggertak.


"Devid, senang bertemu denganmu lagi. Apa kabar? Setelah dikabarkan tewas, sekarang kau muncul dengan tubuh yang sehat. Kau benar-benar pria licik Devid," ujar orang itu dengan tawa kecil.


Eva sungguh tidak percaya ketika orang yang menodongkan pistol di dahinya adalah seorang wanita. Tadinya ia berpikir orang itu seorang pria karena memang penampilannya seperti seorang pria.


"Scarlett. Lepaskan dia. Masalah di antara kita, tidak ada hubungannya dengan Eva," ucap Devid sengan sikap waspada.


"Lepaskan?" Wanita itu tertawa kencang seolah ada yang lucu di sana. "Tidak, Devid. Nyawamu ada di sini. Aku tidak akan melepaskan nyawamu begitu saja. Aku tidak menyangka kalau pria bajingan seperti dirimu sudah menikah dan sangat cinta dengan istrinya. Ini benar-benar kejutan yang begitu menguntungkan bagiku," jawab Scarlett.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Devid dengan nada yang rendah. Ia terpaksa memasang wajah bersahabat agar istrinya tetap baik-baik saja.


"Kau menipuku! Setelah aku gagal mendapatkan pulau itu kau mencampakkanku begitu saja. Apa kau tahu kalau hidupku sudah kuserahkan seluruhnya untukmu, Devid. Kau benar-benar licik! Kau mencampakkanku begitu saja. Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, wanita ini juga tidak pantas ada di sisimu, Devid. Aku akan mengirimkannya ke neraka sekarang juga!" ancam Scarlet dengan wajah yang serius. Devid sempat kebingungan menolong Eva. Satu langkah saja yang ia lakukan mungkin akan membuat Eva benar-benar berada dalam bahaya.


"Scarlett, aku tidak pernah berniat meninggalkanmu. Kau tahu sendiri bagaimana masalah yang aku hadapi. Aku bahkan hampir tewas di tangan David dan Shazia. Bagaimana bisa aku menemuimu, Sayang ...," bujuk Devid berharap Scarlett luluh dan mau melepas Eva.


"Aku sudah tidak percaya lagi dengan semua rayuanmu, Devid. Berhentilah memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu. Wanita ini harus mati!" teriak Scarlett semakin menjadi. Ia segera menarik pelatuk pistolnya. Di detik terakhir yang begitu menegangkan, Eva memilih memejamkan mata dan pasrah.


"Scarlett, hentikan!" teriak Devid histeris.


BRUAKK.


Tiba-tiba saja Scarlwt terdorong ke depan dan pistol yang ada di tangannya terhempas. Bukan hanya Scarlett saja yang terjatuh, Eva juga ikut terjungkal ke depan karena dorongan yang di buat Scarlett.

__ADS_1


Di belakang mereka telah berdiri Shazia. Wanita itu menatap Scarlet dan menodongkan senjata apinya. "Sedikit saja kau sentuh Eva. Maka aku akan menyiksa hidupmu hingga kau menyesal sudah dilahirkan ke dunia ini, wanita jala*ng!"


...Slow Update karena author jarang tidur 🥱....


__ADS_2