
Shazia dengan tenang mengemudikan tronton tersebut. Di sampingnya Devid masih bingung dan terus saja menebak-nebak. Sebenarnya apa rencana Shazia kali ini.
"Kenapa? Anda takut Tuan?" ledek Shazia ketika Devid terus saja memandang wajahnya.
"Aku tidak pernah takut dengan siapapun! Aku hanya khawatir saja dengan anda, Nona. Bagaimana kalau nanti anda kalah dan harus rela menjadi istri saya."
Shazia tersenyum kecil. "Bangunlah! Jangan. terlalu lama bermimpi!"
Devid kembali diam. Ia melihat ke luar jendela dan mulai menebak sebenarnya di mana lokasi mereka akan bertarung nanti.
Tiba-tiba saja Shazia membiarkan stir mobilnya. Wanita itu menekan sebuah tombol hingga membuat sabuk pengaman yang digunakan Devid mengikat tubuhnya dengan erat.
"Apa ini?" protes Devid ketika tubuhnya tidak bisa bergerak. Shazia juga segera mengikat kaki Devid dengan tali. Setelah itu mengikat tangan Devid satu persatu di tempat yang sebenarnya sudah dipersiapkan Leah. Walau sabuk pengaman itu sudah cukup kuat mengunci tubuh Devid. Tapi, tetap saja Shazia butuh tali untuk memastikan Devid tidak akan lolos kali ini.
"Tuan, bukankah permainan seperti ini yang disukai pria?" ledek Shazia dengan senyuman penuh arti. Shazia kembali pada kemudinya dan menambah laju mobil tronton miliknya saat ini. Devid mulai gelisah karena kini tubuhnya tidak bisa bergerak bebas.
__ADS_1
"Apa yang mau kau lakukan? Ini namanya curang!"
Shazia tidak mau menjawab. Ia terus melajukan trontonnya menuju ke sebuah bukit.
Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka ada di jalanan yang berkelok. Jalanan yang di tempuh Shazia semakin tinggi hingga membuat jurang di sekeliling mereka terlihat semakin curam.
"Kau benar-benar wanita gila! Apa kau ingin bunuh diri?" teriak Devid mulai panik. Tubuhnya terikat di jok hingga tidak bisa bergerak membebaskan diri. Devid tidak menyangka kalau Shazia wanita yang begitu pemberani dan Nekad!
"Kenapa? Anda takut?" ledek Shazia di sela-sela suasana yang begitu menegangkan. Entah apa rencana Shazia kali ini. Namun, jika benar mobil itu berhasil terjun ke jurang, maka kemungkinan dia selamat sangatlah kecil.
"Kau gila! Kau benar-benar wanita gila!" umpat Devid sambil berusaha melepas ikatan pada tubuhnya.
"Hentikan mobilnya! Kita akan bicarakan hal ini dengan hati yang tenang. Aku janji tidak akan mengusik hidupmu dan David. Aku janji!" teriak Devid dengan wajah semakin pucat.
Shazia melepas sabuk pengaman di tubuhnya. Ia ingin segera melompat sebelum mobil itu terjun ke jurang. Namun, tiba-tiba saja Devid memegang lengannya. Langkah Shazia terhalang karena genggaman Devid.
__ADS_1
"Kau mau lari?" Devid tertawa puas. "Tidak semudah itu. Kita akan mati sama-sama di jurang itu!" ujar Devid penuh dendam.
Shazia berusaha melepas genggaman Devid. Tapi genggaman pria itu sangatlah kuat. Di tambah lagi, jarak mobil mereka dengan jurang sudah sangat dekat. Shazia tidak memiliki waktu banyak untuk mengobrol dan bernegosiasi dengan Devid.
Shazia melihat belati di bawah. Ia mengambil belati tersebut dan menyayat lengan Devid tanpa perasaan. Ketika Devid kesakitan, Shazia segera membuka pintu dan melompat. Tepat di detik-detik terakhir sebelum mobil itu meluncur ke jurang.
David muncul bersama Leah. Leah segera membanting stir mobilnya agar posisi mereka bisa menampung Shazia yang sedang melompat. Mereka juga tidak mau ambil resiko ketika Shazia melompat, wanita itu terguling menuju ke jurang.
David mengulurkan tangannya untuk menangkap Shazia. Shazia segera menyambut tangan David. Saat mobil tronton itu masuk ke jurang, Shazia juga berhasil di tangkap oleh David. David segera menarik Shazia agar masuk dan meletakkannya di atas pangkuan. Pria itu memeluk Shazia dengan erat seakan tidak mau melepaskan wanita itu beraksi lagi.
"Cukup! Jangan buat aku takut Shazia. Aku tidak mau kehilangan dirimu!" lirih David sambil mempererat pelukannya.
Shazia tersenyum. Ia bersandar di dada bidang David sambil menatap Leah yang duduk di bangku kemudi.
"Kita berhasil, Leah!"
__ADS_1
"Ya, Bos. Anda memang wanita hebat! Saya ingin menjadi wanita pemberani seperti anda," jawab Leah dengan senyuman.
"Tidak, Leah. Jangan mau jadi seperti ini. Kau hanya akan membuat suamimu terkena serangan jantung setiap hari!" protes David tidak terima. Mendengar hal itu membuat Shazia dan Leah tertawa. Mereka tidak lagi peduli dengan nasip Devid. Entah pria itu tewas atau selamat juga tidak tahu.