
Sesampainya di rumah sakit Queen segera di bawa ke UGD karena kehilangan banyak darah Queen membutuhkan transfusi darah.
Ayahnya dan Julian langsung mendonorkan darahnya karena golongan darah mereka sama, selesai mendonorkan darahnya mereka langsung menunggu di luar ruangan operasi.
Drian sedari tadi tidak bisa diam, ia berjalan ke kiri dan ke kanan mencemaskan kandungan istrinya. Setelah menunggu cukup lama dokter yang mengoperasi Queen keluar dan Queen kini telah stabil.
Ketiganya langsung bernafas dengan lega, mereka di perbolehkan masuk bergantian.
__________
Queen telah di pindahkan ke kamar rawat, Julian sedang tidur di sofa sementara Fernandez pulang terlebih dahulu untuk bersih-bersih juga mengabari istrinya di rumah.
Sedangkan Drian masih melek, ia terus menjaga Queen yang saat ini masih belum bangun, Drian mengelus rambut Queen sambil terus memperhatikan wajah pucat Queen.
Queen menggerakkan tangannya dan mulai membuka mata, Drian langsung memanggil dokter saat mengetahui Queen mulai sadarkan diri.
"Kondisinya sudah sangat membaik," ucap dokter tersebut setelah memeriksa keadaan Queen.
"Baik terimakasih dok," balas Drian.
Dokter itu kembali pergi dari sana, Drian duduk di kursi yang ada di samping tempat Queen tidur, "Untung kamu selamat, lain kali jangan lakukan itu lagi," pinta Drian memarahi tindakan gegabah Queen.
Julian terbangun karena mendengar suara adiknya itu, seketika ia langsung memeluk Queen. Queen tertembak karena menolongnya jadi ia sangat merasa bersalah sejak tadi, di tambah Julian takut jika harus kehilangan adiknya kembali.
"Kak lepasin sakit," Queen memukul punggung Julian.
"Oh maaf-maaf," Julian kembali melepas pelukannya.
"Lain kali jangan lakuin itu lagi."
"Aku gak mau kehilangan kakak lagi, sekarang aku cuman punya kak Julian doang."
Julian malah memukul kening Queen, "Aku juga tidak mau kehilangan kamu, pokoknya nanti jangan lakuin ini lagi. Awas aja kalau lakuin hal kayak gini lagi," bentak Julian.
"Dih bukannya terimakasih di tolongin ini malah marah-marah."
"Aku gak butuh pertolongan dari anda yah," Julian menunjuk wajah Queen, ini semua ia katakan karena ia benar-benar tidak mau kehilangan Queen, sudah cukup Wilona pergi.
"Iya-iya ih bawel banget."
"Ya udah ah aku mau tidur capek," Julian kembali ke sofa, setelah melihat kondisi Queen sudah baik-baik saja kini ia merasa jauh lebih tenang dan bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Drian mengelus rambut Queen kembali sembari menatap Queen, "Kau sudah benar-benar membaik sekarang?"
"Udah, liat nih udah bisa ngomel kan?" Balas Queen sembari cengengesan.
"Bagus deh, kamu hampir aja buat aku mati karena panik."
"Gak usah lebay, jijik tau kamu lebay kayak gitu."
"Bukan lebay bodoh, tapi emang panik."
"Yakin? Bukannya dulu-" Drian menutup mulut Queen.
"Gak usah bahas yang dulu-dulu, sekarang yah sekarang dulu ya dulu. Oke?"
Queen mengangguk. Queen meminta Drian untuk tidur bersamanya di ranjang ini, Drian akhirnya naik dan tidur dengan Queen saling berpelukan, "Gak nyangka yah pada akhirnya kita jatuh cinta juga," ucap Queen sembari memejamkan matanya.
"Cinta emang datangnya gak pernah di sangka-sangka kan," balas Drian.
"Iya sih tapi masih ngerasa aneh aja gitu, padahal dulu tiap hari kerjaan kita kalau gak berantem yah saling jail."
"Mungkin karena itu juga cinta akhirnya tumbuh."
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka ketiduran juga.
________
Saat pagi Fernandez dan Julian tengah berdiri di samping ranjang rumah sakit sembari memandangi Drian dan Queen yang masih tidur berpelukan, "Dasar bucin, gak tau apa udah jam berapa sekarang? Entar dokter liat diketawain yang ada," gumam Julian sembari menggelengkan kepala.
"Biarin lah namanya juga pasangan suami istri yang baru merasakan benih-benih cinta tumbuh, makannya cepetan nikah juga biar ngerasain," balas Fernandez.
"Enggak, masih banyak hal yang harus Julian coba. Nanti kalau udah nikah mah ribet."
Fernandez menatap Julian dengan tatapan tajam, "Nyoba apa?"
"Maksud Julian tuh coba-coba tempat nongkrong dan yang lainnya, gak usah mikir aneh-aneh," balas Julian mengalihkan pandangannya.
Queen dan Drian terbangun karena ocehan Julian dan Fernandez, Drian turun dari kasur Queen.
"Maaf," Drian meminta maaf pada Julian dan Fernandez.
"Gak usah minta maaf," balas Julian.
__ADS_1
Fernandez menghampiri Queen, "Papa ke sini cuman mau minta maaf sama kamu, kalau bukan karena papa mungkin kamu gak akan seperti ini."
"Udah lah pa aku juga baik-baik aja kok gak usah minta maaf."
"Kamu cepat sembuh yah, Papa harus ke kantor sekarang."
Queen mengangguk.
___________
Sementara itu di tempat persembunyian Widia ia sedang panik karena Nick tidak bisa di hubungi, "Sialan kemana anak itu? Kalau ketangkap dan dia mengatakan kalau aku membantunya akan jadi masalah lagi untukku nanti," Widia panik, ia terus berusaha menghubungi Nick, seberapa kali pun ia menelpon Nick, Nick tetap tidak mengangkat telpon darinya.
"Aku harus kabur pokoknya, sebelum nanti Nick bilang tempat ini," Widia langsung membereskan semua bajunya di sana, saat hendak keluar tiba-tiba ia bertemu dengan seorang pria paruh baya.
Widia menatap pria itu dengan tatapan bingung, "Mengapa kau ada di sini?" tanya pria paruh baya itu sembari menatap Widia dari atas sampai kaki.
"Saya temannya Nick."
"Ah jangan-jangan kau adalah orang yang Nick ceritakan itu? Orang yang membantu Nick dalam rencana balas dendamnya."
Widia terdiam, ia heran mengapa Pria ini tau tentang hal ini.
"Masuklah ada hal yang ingin ku tawarkan padamu," pria tersebut meminta Widia untuk kembali masuk.
Karena bingung akhirnya Widia masuk lagi ke rumah itu, mereka kini tengah duduk di ruang tamu. Pria iri tanpa basa-basi langsung menjelaskan mengenai kedatangannya ke sini.
"Kemungkinan besar saat ini Nick memang sudah di tahan oleh Fernandez, atau bahkan di bunuh. Tapi saya tidak punya bukti apapun untuk menjebloskan Fernandez ke penjara, jika kau mau aku akan membantumu membalaskan dendammu pada mereka," jelas pria itu.
"Kalau aku menolak?"
"Saya akan beritahu Fernandez bahwa kau ikut membantu Nick," pria itu tersenyum sinis.
"Sialan," gumam Widia dalam hatinya.
"Kau tenang saja, kau hanya perlu mengikuti apa yang aku perintahkan. Jika kau bersedia semua kebutuhanmu akan aku penuhi, apapun itu."
"Mengapa kau ingin Fernandez hancur."
Pria itu tersenyum miring, "Ada banyak alasan mengapa aku ingin dia hancur."
"Iya katakan apa alasannya?"
__ADS_1