Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Rahasia Eva


__ADS_3

Perjalanan bulan madu Shazia dan David bisa dikatakan sukses. Setiap harinya mereka melalui hari-hari penuh cinta dan kemesraan. Tidak ada halangan atau rintangan yang membuat momen bulan madu mereka gagal. Penjagaan yang di buat Albert juga bisa dikatakan berhasil.


Hingga tidak terasa sudah 2 Minggu mereka melalui bulan madu yang manis itu. Hari ini adalah jadwal mereka untuk kembali pulang. David juga harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda di kantor.


Siang itu sebelum berangkat pulang, Shazia duduk di kursi yang ada di pinggir pantai. Hatinya terasa berat ketika harus meninggalkan tempat bulan madunya. Namun, untuk memutuskan menetap di tempat itu tidaklah mungkin. Baik Shazia maupun David memiliki kewajiban yang harus mereka selesaikan.


Di belakang Shazia ada Eva. Kali ini David menghilang karena sedang rapat bersama Albert untuk membicarakan masalah perkembangan pulau tersebut. Awalnya Shazia di ajak namun ia menolak karena bagi Shazia itu bukan bagian dari pekerjaannya.


"Nona, apa yang anda pikirkan? Sejak tadi saya lihat anda hanya melamun memandang ke arah lautan," ucap Eva memecah lamunan Shazia.


"Tempat ini sangat indah, Eva. Entah kenapa hatiku merasa sangat berat untuk meninggalkannya," ucap Shazia pelan.

__ADS_1


"Nona, itu hanya perasaan anda saja. Dua Minggu berada di tempat ini memang sudah membuat rasa nyaman di diri anda. Maka dari itu anda sangat berat meninggalkannya," jawab Eva dengan senyuman.


"Ya, kau benar. Aku akan kembali dan menjalani hari-hari yang begitu menyenangkan bersama David." Shazia diam sejenak sebelum memandang wajah Eva. "Eva, jika kau menjadi diriku. Apa kau akan mengizinkan David membawa Devid untuk tinggal di rumah? Tanpa aku ceritakan lagi, kau pasti tahu bagaimana dendamku padanya!"


Eva terlihat berpikir. Ia tahu kalau kini posisi Shazia sangat sulit. Namun, sampai kapanpun saudara kandung tidak akan bisa dipisahkan dan tidak akan ada kata mantan.


"Nona, menurut saya Tuan Devid sudah mendapat balasan atas perbuatannya. Memaafkan memang sulit untuk kita lakukan. Tapi, dengan memaafkan dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi justru akan membuat hidup kita lebih tenang," jawab Eva dengan hati-hati. Ia juga tidak mau membuat Shazia tersinggung hingga akhirnya bersedih.


"Jika anda terus membiarkan Tuan Devid bersama dengan Tuan Logan. Itu juga bukan ide yang bagus, Nona. Harta Tuan Devid akan habis dan jika saat itu tiba Tuan David juga yang akan mengalami kesulitan. Saya tahu bagaimana sifat licik Tuan Logan. Dia tidak akan puas dengan apa yang ia miliki. Saya yakin, targetnya ada pada kehancuran Tuan David. Saat ini dia diam karena dia masih belum memiliki kekuatan penuh."


Eva tersenyum bahagia. "Benar, Nona. Selain itu, Tuan Logan juga tidak bisa berbuat apa-apa. Harta yang dimiliki Tuan Devid akan ada di bawah kendali Tuan David."

__ADS_1


Shazia menarik napasnya dalam-dalam. Kali ini hatinya bisa terasa jauh lebih tenang. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengizinkan David membawa pria itu ke rumah. Kau harus membantuku menyiapkan kamar untuknya. Kita akan sewa perawat yang galak dan gemuk agar dia menderita," ujar Shazia sebelum tawanya pecah.


Eva hanya tersenyum melihat wajah ceria Shazia. Tatapan wanita itu beralih ke arah lautan.


"Nona, andai anda tahu kalau Tuan Devid adalah pria yang paling berarti di dalam hidup saya. Apa Anda akan mengusir saya? Apa Anda akan menjauh dari saya? Apa Anda akan membenci saya? Sudah bertahun-tahun saya merahasiakan semua ini. Sebenarnya bertatap muka lagi dengan Tuan Devid adalah hal terberat yang akan saya hadapi nanti. Tapi ... menghindari masalah juga bukan solusi yang baik," gumam Eva di dalam hati.


***


Di sisi lain. Logan mendorong kursi roda Devid hingga akhirnya Devid jatuh ke lantai. Kepala pria itu terbentur dinding hingga berdarah. Wajah Logan terlihat emosi dan kesal. Ia kembali berjalan mendekati Devid dan memukul wajah pria itu dengan kesal.


"Buka matamu! Buka!" teriak Logan sambil memukul-mukul wajah Devid. Ia tidak peduli kalau pria yang kini ia ajak bicara masih dalam keadaan koma. Logan ingin pria itu segera membuka mata agar semua rencana yang ia susun berjalan lancar.

__ADS_1


"Kau benar-benar pria licik Devid! Kau memasang password di semua brangkas yang kau miliki!" Logan mencengkram kerah baju Devid sebelum menghempaskannya. "Aarrggh!"


Logan berdiri dan mengatur napasnya. "Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu. Angel ... ya wanita itu. Di mana wanita itu berada? Dia satu-satunya wanita yang sangat di percaya dan di lindungi Devid! Aku yakin wanita itu masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat. Aku harus bisa tahu wajahnya dan mencari keberadaannya. Semua rahasia Devid ada di tangannya!"


__ADS_2