
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? Apa dia bisa mendengar apa yang saya katakan? Kenapa sejak tadi dia hanya diam saja? Kedua matanya bisa melihatkan? Dia tidak buta kan? Dokter, tolong jawab pertanyaan saya," ujar Eva dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.
"Nona, kita harus membawa Tuan Devid kembali ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Sejauh ini saya lihat Tuan Devid tidak mengalami kebutaan. Namun, saya sendiri juga tidak tahu kenapa Tuan Devid tidak mau memandang dan berbicara," jawab dokter itu apa adanya.
"Baiklah. Sekarang juga kita akan membawanya ke rumah sakit. Saya ingin suami saya kembali pulih, Dok." Eva berjalan ke tempat tidur dan memegang tangan Devid. Ia menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Devid, kita ke rumah sakit ya. Aku yakin, kau pasti akan segera sembuh. Percaya padaku!" ujar Eva dengan wajah penuh harap.
Dokter dan para pengawal yang ada di rumah itu membantu Eva membawa Devid menuju ke rumah sakit. Hak ini juga sudah sampai ke telinga David. Namun, karena kondisi Shazia masih lemah David tidak mau meninggalkan sang istri. Ia memilih waktu lain untuk mengunjungi dan melihat keadaan Devid.
Setelah menempuh jarak sekitar 15 menit, akhirnya Eva dan yang lainnya tiba di rumah sakit. Tanpa pikir panjang Devid segera di masukkan ke sebuah ruangan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Eva yang saat itu tidak boleh masuk hanya bisa berdiri gelisah di depan pintu. Ia berjalan mondar-mandir mandir sambil sesekali melihat ke arah pintu.
"Semoga saja semua berjalan lancar. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia terlihat seperti pria asing. Bahkan tatapan matanya sangat berbeda dengan tatapannya yang biasa," gumam Eva di dalam hati.
Di dalam ruangan serba putih, para tim medis segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Devid saat itu. Mereka sendiri sempat kesulitan menyimpulkan keadaan Devid saat ini. Kedua bola mata Devid berfungsi dengan baik begitu juga dengan pita suaranya. Hanya saja kedua kakinya belum bisa digerakkan karena memang mengalami kelumpuhan.
Devid membuka matanya namun memandang dengan tatapan kosong. Seperti orang gila yang tidak memiliki tujuan hidup.
"Dok, pasien dalam kondisi stabil," ucap seorang perawat.
Dokter itu mengangguk dan menyudahi pemeriksaannya. "Ya. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Pasien akan bangun jika dia ingin bangun. Untuk sementara, kita hanya bisa menyimpulkan kalau pasien masih dalam keadaan koma. Namun dia bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya."
"Berarti pasien tidak akan pernah merespon apa yang terjadi di sekitarnya, Dok?"
"Ya, kau benar. Saya akan sampaikan hal ini kepada keluarga pasien." Dokter itu berjalan menuju ke pintu. Tim medis yang tersisa di dalam ruangan itu kembali memandang Devid dengan tatapan tidak percaya. Kasus seperti ini cukup jarang mereka lihat.
__ADS_1
Di depan ruangan, Dokter tersebut menemui Eva dan menceritakan apa yang kini di alami Devid. Walau bisa di bilang itu semua kabar buruk, tapi Eva bisa merasa sedikit lega karena mulai sekarang Devid bisa melihat dan mendengar apa yang ia katakan.
"Apa saya sudah bisa membawa suami saya kembali pulang, Dok?" tanya Eva lagi.
"Ya, silahkan Nona. Anda harus sering-sering mengajaknya mengobrol dan memperlihatkan sesuatu yang membuat semangatnya bisa kembali bangkit," ujar Dokter itu.
"Baik, Dok. Saya akan lakukan semua yang dokter sarankan. Sekali lagi, terima kasih dok."
***
Beberapa hari kemudian.
David meletakkan Shazia di atas tempat tidur. Mereka berdua baru saja tiba di rumah. Sejak turun dari mobil, David membawa Shazia masuk dengan cara di gendong. Kursi roda yang sudah di siapkan terasa sia-sia.
"Sayang, apa kau menginginkan sesuatu?" tawar David sambil memandang wajah Shazia.
"Tidak ada. Aku hanya ingin ditemani seperti ini," jawab Shazia dengan suara lembut.
"Aku akan selalu berada di sisimu, Shazia," jawab David sembari mengecup punggung tangan Shazia dan mengusapnya dengan lembut.
"Oh ya, bagaimana dengan Eva? Apa dia baik-baik saja di sana?" tanya Shazia penasaran. Ia merasa sangat rindu dan ingin bertemu Eva. Namun, Shazia juga belum siap untuk memandang wajah Devid. Di tambah lagi kabar terakhir yang ia terima kini Devid sudah semakin membaik.
"Ya. Dia sangat menikmati hari-harinya di sana. Kata orang yang aku kirim, Eva terlihat jauh lebih ceria dan bersemangat." Shazia memandang ke arah jendela. Tatapannya kosong seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Sayang, ada apa? Kau memikirkan sesuatu?" tanya David penuh selidik.
"Bukankah Nora tewas di tangan Devid? Nora sangat mencintai Devid hingga dia rela melakukan apa saja. Padahal jelas-jelas Devid sudah menikah dengan Eva. Kenapa Devid tidak pernah mencari Eva selama ini. Apa jangan-jangan, Devid tidak mencintai Eva? Apa yang akan dilakukan oleh Devid jika nanti dia sudah sembuh? Apa dia akan meninggalkan Eva? Eva terlihat sangat tulus mencintai Devid."
David menghela napas panjang. Ia sendiri tidak tahu bagaimana kehidupan Devid selama ini. Terutama kehidupan tentang percintaan pria itu. Namun, David sendiri memiliki kekhawatiran yang sama dengan Shazia. Ia takut jika nanti Devid sembuh, pria itu akan meninggalkan Eva dan kembali balas dendam kepada mereka berdua.
"Sayang, sebaiknya kita jangan pikirkan mereka berdua dulu ya. Saat ini kesehatanmu adalah hal yang jauh lebih penting," bujuk David.
"Ya. Aku mau istirahat. Temani aku istirahat," pinta Shazia dengan senyuman.
David tersenyum manis sebelum mengangguk setuju. Pria itu naik ke atas tempat tidur agar bisa memeluk istrinya.
"Dokter bilang kau belum boleh banyak gerak. Maka dari itu, aku akan mengantarkanmu kemanapun kau melangkah, Shazia. Termasuk kalau mau mandi," ujar David lagi.
Shazia tertawa kecil. "Kau benar-benar mencari kesempatan David!"
"Aku tidak seperti itu. Aku hanya ingin menebus kesalahanku," jawab David membela diri.
"Ehm, baiklah." Shazia mulai memejamkan kedua matanya. Berada di dalam pelukan David adalah hal ternyaman yang pernah ia rasakan.
Saat Shazia terlihat lelap, David masih membuka matanya sambil memandang ke depan.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau Devid sampai kembali jahat setelah dia sembuh. Dia harus tahu bagaimana liciknya Logan! Dokter bilang Devid bisa mendengar dan melihat. Itu berarti jika aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Devid bisa mengetahuinya. Mungkin saja dia akan berpikir ulang jika ingin balas dendam kepada kami," gumam David di dalam hati.
__ADS_1