Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Maaf Shazia


__ADS_3

"Nona, pria yang ada di dalam foto itu bukan Tuan David. Saya harap Anda tidak salah paham dengan Tuan David," ucap Eva sambil berjalan mendekati Shazia.


Leah mengeryitkan dahi. Tiba-tiba saja ia tersadar kalau David memiliki saudara kembar. "Maksudmu pria di foto itu adalah Devid? Pria jahat itu?" ujar Leah.


Eva mengangguk pelan. Jawaban dari Eva membuat semua orang memandang ke arahnya. Shazia sendiri tidak lagi bisa menyalahkan David. Karena terlalu cemburu wanita itu sampai tidak bisa berpikiran jernih tadinya.


"Benar, Nona. Pria di dalam foto itu adalah Tuan Devid," ucap Eva dengan suara takut-takut.


"Kau penghianat, Eva!" ucap Albert dengan wajah marah. Pria itu mencengkram tangan Eva dengan kuat hingga membuat Eva kesakitan.


"Ampun, Tuan."


"Kau manusia bermuka dua! Untuk apa kau berpura-pura baik di depan kami kalau sebenarnya kau ada di pihak musuh," sambung Albert lagi.


"Tuan, tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Saya benar-benar tidak berniat untuk mencelakai keluarga ini," ucap Eva membela diri.


"Lepaskan dia Albert. Biarkan dia mengatakan alasannya," pinta Shazia sambil memegang kepalanya. Wanita itu tidak mau memandang karena merasa kecewa kepada Eva.


Albert menghempaskan tangan Eva hingga ia mundur beberapa langkah. Ingin sekali saat itu Albert memberi pelajaran kepada Eva. Namun, ia juga tidak bisa melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari Shazia atau David.

__ADS_1


Eva menunduk dalam. Keberaniannya untuk memandang wajah Shazia tidak ada lagi. Tangannya mengepal baju yang ia kenakan. Dirinya belum siap untuk bercerita. Tapi, semua demi kebaikan Shazia dan David juga.


"Saya dan Tuan Devid dekat sejak saya masih SMA. Tuan Devid adalah pria baik yang selalu ada di saat saya butuh. Namun, saya tidak menyangka kalau dia adalah seorang bos mafia. Bahkan saya juga tidak tahu kalau ia memiliki saudara kembar.


Hingga suatu ketika Tuan Devid hilang dan tidak lagi menemui saya. Dari kabar yang saya dapat Tuan Devid mengalami kecelakaan dan tewas. Saat itu saya benar-benar putus asa.


Di waktu yang bersamaan, ada penerimaan pelayan untuk bekerja di rumah ini. Saya sangat syok ketika melihat Tuan Devid masih hidup. Namun, saya tidak berani mengatakan apapun. Saya hanya diam dan memandang Tuan David dari kejauhan. Saya pikir mungkin Tuan David lupa ingatan dan lupa dengan saya.


Kabar kalau Tuan Devid masih hidup akhir-akhir ini membuat saya menjadi bimbang. Jika saat itu saya ingin memperbaiki hubungan saya dengan Tuan Devid. Tapi justru sekarang saya tidak lagi mau menemui Tuan Devid. Saya kecewa karena sifatnya sangat jahat. Tuan Devid yang selalu saya puja sudah tidak ada lagi. Saya sudah menganggapnya tiada walau sebenarnya ia masih hidup," lirih Eva sambil menghapus air matanya yang mulai deras.


Shazia masih diam. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Pikirannya masih mempertimbangkan alasan yang baru saja diucapkan oleh Eva. Berbeda dengan David. Pria itu terlihat marah dan tidak mau lagi menerima Eva di rumahnya.


Eva mengangguk pelan. "Baik, Tuan. Maafkan saya." Eva memandang Shazia. "Maafkan saya, Nona." Eva segera berlari meninggalkan rumah mewah tersebut. Bahkan ia tidak lagi mengambil barang miliknya.


Ruangan itu terlihat hening. David berjalan mendekati Shazia untuk menenangkan pikiran wanita itu.


"Leah, kejar Eva. Bawa dia kembali ke rumah ini!" perintah Shazia secara tiba-tiba. Perintah itu membuat semua orang tidak percaya.


"Bos, anda yakin?" tanya Leah lagi.

__ADS_1


"Jika seseorang sampai menangis ketika menceritakan sesuatu. Itu tandanya hal yang ia ceritakan sangat menyiksa batinnya. Sangat menganggu pikirannya. Hingga akhirnya ia terbebani dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Hanya air mata yang dapat membantunya menyelesaikan kalimat yang ingin ia sampaikan. Aku yakin, Eva wanita yang baik. Dia tidak sejahat yang kau pikirkan Leah," ucap Shazia dengan bersungguh-sungguh.


"Baiklah Bos. Saya akan membawa Eva kembali ke rumah ini," jawab Leah sembari berlari mengejar kepergian Eva. Begitu juga dengan Albert yang juga berniat untuk membantu Leah mencari Eva.


David menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di dekat Shazia. Ia memegang tangan Shazia dan mengusapnya dengan lembut.


"Sayang, jangan marah lagi ya," bujuk David dengan lembut.


"Aku yakin, Eva pasti sangat tersiksa saat ini. Hatinya berusaha melupakan Devid, tapi semua itu tidak bisa ia lakukan karena Devid masih hidup."


"Sayang, tapi aku senang hari ini. Aku bisa melihat wajahmu yang semakin cantik jika sedang cemburu," ledek David mesra.


Shazia mengeryitkan dahinya dan memandang David. "Cemburu?"


David mengangguk. "Ya, bukankah kau cemburu ketika berpikir kalau aku dan Eva memiliki hubungan?"


Shazia memalingkan wajahnya. "Cemburu? Apa benar aku cemburu?" gumam Shazia di dalam hati.


"Sebaiknya kita bahas masalah ini nanti. Sekarang ayo kita ke kamar istirahat. Sejak tadi kita belum ada berbaring di tempat tidur," ajak David mesra. Pria itu menarik tangan Shazia dan membawanya menuju lift. Ia terlihat tenang karena sudah berhasil menyelesaikan salah paham yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2