
"Shazia!" teriak David khawatir. Begitu juga dengan Eva. Mereka berdua yang paling khawatir dengan keselamatan Shazia. Berbeda dengan Devid. Pria itu menatap Scarlet dengan tatapan yang tidak terbaca. Tangannya telah ada di atas sambil memegang sebuah pistol. Detik terakhir sebelum Scarlet menembak Shazia, Devid lebih dulu menembak wanita itu. Tembakannya berhasil menembus kulit Scarlett hingga darah berkucur deras.
"Kau menembakku, Devid?" tanya Scarlet dengan wajah kecewa.
"Ya. Aku terpaksa melakukannya. Kau membuatku tidak memiliki pilihan lain," jawab Devid santai.
Pistol yang ada di tangan Scarlett terlepas. Wanita itu terjatuh dan terduduk di lantai. David berlari mendekap Shazia. Ia memeluk Shazia dan membalut luka di tangan Shazia dengan jas yang ia miliki.
Scarlett memandang ke arah Shazia sebelum memandang ke Devid lagi. "Aku memang wanita yang jahat karena aku putri dari pria yang kejam. Tapi, aku bukan manusia yang tidak memiliki hati sepertimu Devid. Aku tidak akan pernah mau membunuh pria yang aku cintai seperti apa yang kau lakukan padaku saat ini! Luka ini sakit, Devid. Tapi jauh lebih sakit ketika aku tahu yang melakukan semua ini adalah dirimu!" lirih Scarlett sambil memegang luka tembak di dadanya.
Devid masih tenang menatap wajah Scarlett seolah tidak bersalah. "Jika aku tidak menembakmu, kau akan kembali mengambil senjata itu dan melukai orang-orang yang aku sayangi."
Scarlett tersenyum pahit. "Kau sudah tahu kalau Shazia adalah pemimpin The Felix? Kenapa kau menyembunyikannya dariku?" tanya Scarlett lagi.
"Maafkan aku, Scarlett. Aku tidak memberi tahumu karena aku tidak mau kau balas dendam padanya."
"Kau melindungi musuh kita?" ujar Scarlet dengan tawa meledek. "Kau tertarik padanya?"
__ADS_1
Devid diam sejenak. Ia kembali memandang Shazia yang kini ada di dalam pelukan David. Memang sejak pertama kali melihat dan menatap wajah Shazia ada rasa tertarik di dalam hatinya. Bahkan keinginan merebut Shazia dari pelukan David pernah terpikirkan olehnya. Namun, semua itu terjadi ketika Devid tahu kalau Eva sudah tiada. Kini saat ia tahu kalau istrinya masih hidup, semua rasa kagum dan tertarik itu hilang begitu saja.
"Dia bagian keluargaku sekarang karena dia sudah menikah dengan saudara kembarku. Siapapun yang melukai keluargaku, akan berurusan denganku!" jawab Devid tegas.
Scarlett mengeluarkan darah dari mulutnya. Wanita itu tersenyum dengan hati yang dipenuhi luka. "Aku mencintaimu dengan tulus dan kini kau membalasnya dengan hal yang begitu menyakitkan. Seharusnya sejak awal aku tahu, kalau sampai kapanpun kalian sebagai saudara kembar tidak akan bisa dipisahkan. Apapun ceritanya, kalian memiliki ikatan batin. Aku benar-benar bodoh karena sudah percaya pada iblis sepertimu, Devid!" lirih Scarlett di detik-detik terakhirnya.
Eva berjalan mendekati Devid. Ia memegang lengan pria itu sambil memandang kasihan kepada Scarlet. Namun, ia juga tidak mau Scarlet hidup karena Eva tahu kalau Scarlett tetap hidup maka wanita itu akan balas dendam kepada Shazia. Eva tidak mau Shazia memiliki musuh karena kini sudah saatnya Shazia menikmati kebahagiaannya.
"Maafkan aku, Scarlet. Tapi sejak awal semua cinta yang aku katakan hanya sekedar kata. Aku tidak pernah mencintaimu. Maafkan aku karena sudah memanfaatkan mu," ujar Devid.
Scarlet tidak lagi sanggup menopang tubuhnya sendiri. Ia tergeletak di lantai dengan air mata yang mulai menetes. Sambil menatap langit-langit ruangan tersebut, Scarlet tersenyum manis.
"Nona, apa anda tidak apa-apa? Luka anda, biar saya obati," ucap Eva dengan wajah khawatir.
"Ini hanya luka kecil," jawab Shazia santai.
"Apanya yang luka kecil? Luka ini sangat dalam Shazia. Kita harus ke dokter!" ucap David khawatir.
__ADS_1
"Tidak. Hanya di perban saja pasti nanti akan sembuh," tolak Shazia.
"Nona, ayo kita duduk di kursi," ajak Eva. Ia memandang Scarlet. "Bagaimana dengan wanita ini? Kita sudah melakukan tindakan kriminal."
Devid melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Pria itu tidak mau mengatakan satu katapun bahkan tidak berpamitan kepada Eva mau pergi ke mana.
Shazia dan David memandang kepergian Devid. Eva sendiri memandang pria itu tanpa mau mencegahnya pergi
"Eva, pergilah. Kejar dia. Jangan biarkan dia pergi jika kau tidak mau kehilangan dia lagi," bujuk Shazia.
"Tapi, Nona. Bagaimana dengan anda?" tanya Eva bingung.
"Biar aku yang mengurus semuanya," ucap David cepat.
Eva mengangguk setuju. "Baiklah, Nona. Saya akan membawanya kembali ke sini." Eva segera berlari mengejar Devid. Wanita itu tidak mau Devid pergi meninggalkan dirinya.
Shazia dan David saling memandang. Untuk sekarang mereka tidak mau membahas kesalahan Devid di masa lalu. Mereka hanya memikirkan kebahagian Eva karena tidak mau wanita itu kembali bersedih.
__ADS_1
"Aku akan menghubungi Leah. Biar dia yang mengurus semua ini," ucap Shazia.
"Aku juga akan menghubungi Albert. Aku khawatir, Devid masih memiliki dendam kepadamu. Aku tidak mau kau celaka," ucap David khawatir. Shazia hanya mengangguk setuju. Mereka berdua sama-sama mengeluarkan ponsel dan menghubungi orang kepercayaan mereka masing-masing.