Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Aku Suamimu


__ADS_3

David memandang wajah Shazia dengan penuh rasa bersalah. Dia merasa sebagai seorang suami, telah gagal melindungi Shazia. Walaupun memang pernikahan mereka tidak di sadari cinta. Tapi, selama menjadi istrinya Shazia selalu melakukan tugasnya dengan baik. Walau terkadang hal yang harus ia lakukan di luar akal sehatnya. Bahkan belum pernah ia lakukan sebelumnya. Shazia tidak pernah mengeluh walaupun terlihat jelas wajahnya tidak ikhlas melakukan semua itu.


"Maafkan aku, Shazia. Seharusnya aku jujur saja sejak awal. Seperti yang kau lakukan. Kau jujur mengatakan tujuanmu masuk ke rumah itu. Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu, Shazia."


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Eva muncul di sana dengan wajah khawatir. Ia berlari kencang mendekati tempat tidur Shazia. Eva sempat menahan langkah kakinya ketika melihat David berada di sana tanpa kursi roda. Bahkan pria itu terlihat sedang memegang tangan Shazia dengan wajah sedih. Namun, bukan waktunya bagi Eva untuk mencurigai David atau menuduhnya yang aneh-aneh saat ini. Eva ingin sekali memastikan kabar Shazia baik-baik saja.


"Nona Shazia ...." Eva mendekati Shazia.Kedua matanya berkaca-kaca. Bahkan langkah kakinya semakin lambat. Melihat ada banyak perban di wajah Shazia dan luka di wajah mukus itu membuat hati Eva seperti tersayat-sayat.


"Eva, apa yang terjadi? Kenapa Shazia bisa ada di pesta itu? Kenapa dia tidak di rumah saja?"


Eva kembali mematung. Ini pertama kalinya bagi Eva mendengar suara David secara langsung. Sudah lama ia bekerja di rumah itu namun tidak pernah bermimpi akan mendengar suara David seperti ini.


"Tu ... Tuan. Anda bisa berbicara?"


"Eva, jawab pertanyaanku!" ujar David kesal.

__ADS_1


Eva menunduk takut. "Sore itu ... Nona Shazia pulang ke rumah dan marah-marah. Saya tidak tahu sebenarnya masalah apa yang sudah di alami Nona Shazia. Tapi, sepertinya Nona Shazia mencari Anda. Dia marah pada anda, Tuan. Saya tidak berani menanyakan masalah yang terjadi. Apa lagi ketika Nona Shazia tahu kalau Anda pergi ke luar kota. Nona Shazia semakin kesal."


"Marah? Apa yang menyebabkan Shazia marah? Apa dia masih kesal karena aku membuka Logan?" gumam David di dalam hati.


"Tiba-tiba saja kondisi Nona Shazia memburuk. Saya sudah meminta Nona Shazia istirahat. Namun, ketika saya ingin memberi kabar kepada Tuan Albert, ponsel saya di rebut oleh Tuan Logan. Bahkan Tuan Logan berniat mencelakai saya. Ketika itu tiba-tiba saja Nona Shazia muncul dan menolong saya. Bahkan dia mendorong Tuan Logan hingga jatuh dari tangga. Tapi, setelah Tuan Logan celaka justru Mona Shazia juga jatuh pingsan Tuan."


"Shazia pingsan?" David semakin khawatir.


"Benar, Tuan. Saya sudah panggilkan dokter dan kata Dokter Nona Shazia hanya banyak pikiran dan kelelahan saja."


"Benar, Tuan. Saya sudah melarang Nona Shazia tapi Nona Shazia tidak mau mendengar perkataan saya."


"Dia memang wanita yang keras kepala!" David memandang wajah Shazia. "Eva, aku tahu kalau kau pasti sudah tidak kaget lagi melihatku seperti ini. Beberapa kali kau memergokiku berjalan ke kamar mandi. Bahkan terakhir kali kau mendengar suara teriakanku saat Shazia melompat. Aku tahu kau mulai curiga sejak saat itu, tapi kau lebih memilih diam. Kau adalah orang yang bisa aku percaya."


"Terima kasih, Tuan karena sudah mempercayai saya."

__ADS_1


Saat Eva dan David asyik mengobrol, tiba-tiba saja Shazia menggerakkan jemarinya. David bisa merasakannya dengan jelas karena tangan Shazia ada di dalam genggamannya.


"Leah ...."


David mengeryitkan dahi ketika melihat Shazia mulai membuka mata. Debaran jantungnya tidak karuan. David merasa sangat takut bertatap muka dengan Shazia secara langsung.


Shazia memperhatikan wajah David dengan saksama sebelum kedua matanya melebar. "Kau. Berani sekali kau berdiri di hadapanku!" umpat Shazia penuh emosi. Ia ingin duduk dan memukul David tapi punggungnya terasa sakit. Benturan yang ia alami benar-benar menyisakan sakit yang luar biasa seakan-akan tulang remuk detik itu juga.


"Shazia, aku David ...."


"Apa kau pikir aku buta?" protes Shazia lagi.


"Aku David, suamimu. Aku bukan Devid!"


"Berhentilah berbo-" Shazia menahan umpatannya. "Apa kau bilang? Devid?" Kedua alis Shazia menyatu. Ia benar-benar bingung dengan kalimat terakhir yang dikatakan David

__ADS_1


"Ya, aku David. Suamimu Shazia. Pria yang tadi kau temui adalah Devid. Suadara kembarku yang seharusnya sudah lama tewas!"


__ADS_2