Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Kisah Eva


__ADS_3

"Saat itu sedang musim salju. Aku berjalan sendiri menuju rumah setelah seharian di tempat kerja. Walau masih SMA aku harus bekerja demi membiayai kebutuhan hidupku dan adikku. Di tengah jalan, aku melihat sebuah mobil berhenti. Ada asap di depannya.


Aku sangat-sangat panik karena memang hanya aku sendiri yang ada di lokasi. Aku beranikan diri untuk mendekati mobil tersebut. Aku semakin panik ketika melihat seorang pria tidak sadarkan diri ada di dalamnya. Ternyata mobil itu kecelakaan dan aku tidak tahu sejak kapan.


Aku segera menarik pria itu keluar dari mobil untuk menyelamatkan nyawanya. Api mulai hidup dan membakar mobil tersebut tepat saat aku berhasil membawa pria itu keluar dari mobil." Eva memandang Shazia dengan serius. "Pria itu adalah Devid, Nona."


Shazia masih diam membisu sebagai pendengar setia di sana. Ia tidak mau menghakimi atau komentar sebelum cerita Eva selesai.


"Karena tidak tahu harus ke mana membawa Devid. Jadi, aku memutuskan untuk membawanya ke rumah. Aku bahkan harus membawanya dengan kayu yang sengaja aku tarik. Salju memudahkan ku untuk membawa tubuhnya yang berat.


Setelah 3 hari tidak sadarkan diri, Devid akhirnya bangun. Ia sempat kaget melihatku ada di hadapannya. Namun, saat itu aku tidak fokus dengannya karena kabar buruk harus aku terima. Adik kandungku yang masih berusia 11 tahun harus tewas karena tenggelam. Jasadnya ditemukan sudah membeku di danau.


Aku sangat depresi hingga tidak bisa berbicara. Aku lumpuh padahal tidak terluka. Saat itu Devid mulai mendekatiku. Dia pria yang baik. Dia memberiku kekuatan dan semangat hingga aku bisa berbicara lagi dan bisa berjalan lagi. Rasa cinta di antara kami tumbuh begitu saja. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berpacaran.


Devid berjanji akan kembali untuk menikahiku setelah aku tamat SMA. Sesuai dengan janjinya. Setelah beberapa bulan tidak ada kabar, Devid kembali dengan cincin pernikahan dan gaun pengantin yang sangat indah. Kami pun menikah hari itu juga. Hari paling membahagiakan di dalam hidup saya adalah hari di mana Devid mengucapkan janji suci di depan semua orang. Sayang, kebahagiaan yang aku bayangkan tidak pernah abadi.


Setelah menikah, Devid mendapat telepon. Wajahnya terlihat panik seperti sesuatu telah terjadi. Bahkan aku bisa melihat kalau dia ingin marah saat itu. Dia berpamitan untuk pergi dan berjanji akan kembali. Aku pikir semua akan sama seperti sebelumnya. Tapi tidak. Hingga detik ini Devid tidak pernah kembali untuk mencariku lagi, Nona. Aku pikir dia sudah kaya dan sukses hingga tidak lagi butuh wanita kampung seperti diriku."


Eva menghapus air matanya yang sudah mengalir deras sejak tadi. Hatinya terasa sesak ketika harus menceritakan momen manisnya bersama Devid.

__ADS_1


"Aku membencinya, Nona. Aku benci padanya," lirih Eva lagi.


Shazia yang merasa tersentuh segera menarik Eva ke dalam pelukannya. Ia juga tidak tega melihat Eva sengsara karena batin yang begitu menyiksanya.


"Maafkan aku, Eva. Maafkan aku. Jika kau tidak mau Devid ada di rumah ini. Aku akan segera menghubungi David dan memintanya untuk kembali. Aku tidak mau hatimu kembali terluka," bujuk Shazia agar Eva kembali tenang.


"Tidak, Nona. Jangan lakukan itu. Aku pikir merawat Devid selama dia koma akan mengurangi rasa sakit di dalam hatiku. Mungkin aku bisa memberinya hukuman nanti," ucap Eva dengan kepala menunduk.


Shazia mengangkat dagu Eva agar bisa memandang wajahnya dengan jelas. "Kau masih mencintainya, Eva?"


Eva menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Nona."


"Terima kasih, Nona."


***


Setelah menempuh perjalanan cukup melelahkan dan jauh, akhirnya David dan Albert tiba di rumah yang digunakan Logan menyembunyikan Devid. Pertama kali melihat keadaan rumah itu David sudah merasa tidak tega. Rumahnya kecil, kotor dan sunyi. David yakin kalau saudara kembarnya itu pasti tersiksa selama tinggal di rumah tersebut.


"Bos, ayo kita masuk. Kita harus memeriksa keadaan di dalam," ajak Albert yang saat itu berjalan lebih dulu untuk memimpin jalan.

__ADS_1


David kembali memperhatikan kanan kiri sebelum melangkah. Mereka masuk begitu saja ke dalam rumah karena memang pintunya tidak terkunci sama sekali.


Albert menyingkirkan sarang laba-laba yang menyambutnya sebelum melangkah ke dalam lagi.


"Kau yakin di sini tempatnya?" tanya David ragu. Rumah yang mereka kunjungi seperti rumah tidak berpenghuni.


"Benar, Bos." Albert berjalan ke salah satu pintu yang ada di rumah tersebut. Ia memeriksa satu persatu kamar yang ada untuk mencari keberadaan Devid.


Di pintu ke dua mereka berhasil menemukan David. Pria itu berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam. Bukan hanya pakaiannya saja yang kotor. Tapi tempat tidur yang di tempati Devid berdebu dan terlihat sangat kotor. Ada meja dan kursi yang terbalik di lantai. Bahkan pertama kali masuk ke dalam kamar itu David batuk-batuk karena debu memenuhi hidungnya.


"Logan benar-benar pria keji. Tega sekali dia meletakkan Devid di rumah kotor seperti ini. Apa dia lupa kalau selama ini Devid membayarnya dan menanggung semua kebutuhan hidupnya?" umpat David kesal.


Albert hanya diam. Ia mendekati Devid untuk memeriksa dan memastikan kalau Devid masih hidup. Karena di lihat secara sekilas, Devid terlihat seperti mayat hidup.


"Bos, kita harus segera membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Denyut nadinya sangat lemah," ujar Albert dengan serius.


David mengangguk setuju. Mereka bersama-sama mengangkat tubuh Devid Karena tidak ada kursi roda di sana. Namun, saat mereka baru saja tiba di depan kamar, tiba-tiba ujung senjata api mendarat di pelipis Albert dan David. Mereka mematung dan melihat ke samping. Logan dan pasukan miliknya sudah mengepung mereka di sana dengan tatapan dan senyuman licik.


"Selamat datang Tuan David. Senang bertemu dengan anda lagi," sapa Logan dengan suara lembut.

__ADS_1


__ADS_2