
Di ruangan itu sang perawat langsung menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan pada Drian, "Jadi kau benar anaknya Tuan Fernandez?"
Queen mengangguk, "Kok anda bisa tau?"
"Kenalin saya Bunga, perawat yang menjaga Wiwi selama ini. Tidak hanya itu saya juga kenal dekat dengan kakaknya, saya ke sini ingin kalian berdua menghentikan niat balas dendam kakaknya wiwi pada Tuan Fernandez," jelas Bunga.
Queen dan Drian saling tatap, ia merasa heran mengapa Bunga melakukan ini.
"Saya melakukan ini karena saya tau Nick hanya sedang di peralat seseorang untuk menghancurkan Tuan Fernandez, ada seseorang yang menjadikan Nick sebagai pion saja, saya tau bagaimana pintarnya Tuan Fernandez saya hanya tidak mau Nick kenapa-napa kasihan Wiwi jika sampai Nick tertangkap," jelas Bunga dengan tampang sedih.
"Siapa yang menjadikan Nick pion?" tanya Drian.
"Untuk hal itu saya tidak tau, Nick tidak pernah bilang siapa orangnya. Tapi saya mohon tolong hentikan Nick dan sadarkan dia, bahwa apa yang di lakukannya hanyalah sia-sia," Bunga menggenggam tangan Queen.
Queen menumpangkan tangannya di atas genggaman Bunga, "Saya akan melakukannya sebaik mungkin, jika sampai ayah saya juga bersalah. Saya akan minta dia untuk masuk ke penjara juga, tenang saja."
Bunga mulai tersenyum, "Terimakasih sekali lagi terimakasih."
___________
Di tempat lain anak buah Fernandez sedang mengepung mobil Nick yang kini tengah melaju di jalan raya dengan kecepatan tinggi, Nick berhasil lolos dari kejaran anak buah Fernandez.
Dengan wajah yang babak belur karena tadi ia sempat baku hantam dengan anak buahnya Fernandez ia kini bersembunyi di rumah kosong dekat hutan, nafasnya mulai terengah-engah dengan langkah yang sempoyongan, Nick menidurkan tubuhnya di sofa untuk beristirahat.
Sementara itu Julian tengah mengobrol di kafe bersama ayahnya Drian, di sana Julian mulai menanyakan mengenai kecelakaan dua tahun lalu.
Ayahnya Drian menghela nafas panjang, "Saya yakin betul kalau malam itu Fernandez bukan orang di balik kecelakaan tersebut, karena 5 menit dari kecelakaan itu Fernandez masih bersama saya. Saya juga tidak tau kenapa mobil Fernandez lewat di kamera pengawas saat jam kecelakaan tersebut," jelas ayahnya Drian.
__ADS_1
"Lalu hubungan ayah saya dengan mereka seperti apa dulu?"
"Dia adalah rekan satu perjuangan ayahmu dulu, mereka membangun perusahaan bersama dan membagi dua perusahaan mereka. Perusahaan Ayahmu berjalan dengan lancar sementara perusahaan mereka malah terlilit hutang, mereka meminta bantuan Fernandez untuk melunasi hutang perusahaan itu, tapi Fernandez menolaknya karena merasa kalau dulu pembagian perusahaan mereka sudah adil dan Fernandez harusnya tidak lagi mengurus perusahaan mereka," jelas ayahnya Drian, mereka mengobrol dengan serius.
"Dari sanalah konflik mereka mulai terjadi sampai puncaknya saat mereka kecelakaan, semua orang terdekat mereka yakin bahwa Fernandez yang melakukan itu karena tidak mau lagi berurusan dengan mereka," lanjutnya.
"Tapi apa Om bukti kalau ayah saya bukan pelakunya? Saya perlu bukti untuk Nick agar dia tidak gegabah melakukan balas dendam."
"Sayangnya om tidak punya bukti apapun, kau sebaiknya tanyakan saja pada ayahmu mengapa mobilnya lewat di kamera pengawas. Saya yakin dia menyembunyikan sesuatu," jelas Ayahnya Drian kembali.
"Baik om."
Ayahnya Drian mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan foto seorang pria paruh baya yang tampak seumuran dengannya, "Saya yakin jika ada orang di balik Nick adalah orang ini, mungkin saja orang ini juga terlibat dalam kecelakaan dua tahun lalu itu."
"Dia siapa?"
"Namanya Nathan, dia adalah saingan bisnis ayahmu yang sejak dulu sering sekali bermain kotor untuk menjatuhkan Fernandez."
___________
Kembali pada Drian dan Queen kini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah ayahnya, setelah sampai di rumah ayahnya ia langsung mencari keberadaan ayahnya.
"Ada Queen?" tanya ibunya yang melihat Queen emosi.
"Dimana Papa?"
"Di ruang kerja."
__ADS_1
Tanpa menunggu apapun lagi Queen bergegas ke ruang kerja, Drian dan ibunya Queen mengikutinya. Sesampainya di sana Queen berjalan menuju ayahnya, ayahnya menatap Queen dan sudah tau apa yang akan Queen lakukan saat ini.
"Pa jujur padaku apakah benar Papa yang sudah melakukan tabrak lari dua tahun lalu?" bentak Queen.
"Cukup Queen! Papa sedang pusing jangan membuat Papa semakin pusing lagi."
"Papa tinggal bilang ia atau tidak, Pa aku mohon jujur aku berhak tau tentang ini. Karena masalah ini juga bawa-bawa aku," Queen menekankan setiap katanya.
"Bukan, bukan Papa yang nambak. Puas kamu?" Fernandez menaikkan nada suaranya.
"Terus kenapa Papa gak coba jelasin sama Nick kalau bukan Papa yang lakuin itu?"
"Kamu pikir segampang itu jelasin sesuatu sama orang yang udah emosi duluan?"
"Papa dimana Nick sekarang? Dan kenapa mobil Papa ada di kamera pengawas saat kejadian terjadi?"
"Karena mobil Papa di pakai Wilona saat itu, saat itu Wilona sedang mabuk berat dan kemungkinan besar Wilona lah yang telah menabrak mereka. Papa selama ini menyembunyikan ini karena gak mau Wilona tertangkap, Papa sudah berusaha menyingkirkan semua bukti dari Wilona," Akhirnya Fernandez jujur dengan apa yang terjadi.
Queen dan yang ada di sana terdiam karena syok, mereka semua baru tau mengenai masalah ini. Queen tidak tau harus bicara apa sekarang, Wilona juga sudah tidak ada di sini jadi apa yang harus ia lakukan.
"Sekarang kalian keluar dari sini!" bentak Fernandez.
Drian merangkul Queen yang sedih, ia tidak menyangka dengan kebenaran yang sesungguhnya.
Drian mencoba menghubungi Julian dan mengatakan semua yang tadi mereka dengar dari Fernandez, Julian sama syok nya dengan mereka. Julian kini sedang dalam perjalanan menuju rumah.
Di tempat lain Nick berhasil di tangkap oleh anak buah Fernandez, karena sudah terluka parah Nick jadi tidak bisa melawan. Nick di bawa ke gedung tua, Nick di ikat di kursi, salah satu anak buah Fernandez langsung menghubungi Fernandez mengatakan bahwa mereka sudah berhasil menangkap Nick.
__ADS_1
Fernandez bergegas pergi, Queen yang melihat ayahnya pergi buru-buru mengajak Julian dan Drian untuk mengikuti ayahnya.
Queen meminta kepala pelayan untuk menjaga ibunya sebentar, Julian yang menyetir mobil terus membuntuti mobil ayahnya dari kejauhan takutnya ayahnya menyadari bahwa sedang di ikuti.