Menikahi Musuh

Menikahi Musuh
Amarah Shazia


__ADS_3

Setibanya di rumah. Shazia ingin segera turun dari mobil. Tapi, tiba-tiba saja David mencegahnya. Pria itu memegang tangan Shazia dengan wajah khawatir.


"Kau yakin?" tanyanya ragu.


"Ya," jawab Shazia mantap.


"Shazia, kau tidak tahu bagaimana kejamnya Devid. Aku tidak mau kau terluka." David kembali menyakinkan Shazia agar mengurungkan niatnya untuk menemui Devid.


"Aku tidak perlu mengenalnya. Aku hanya perlu memberi pelajaran kepadanya!" jawab Shazia mantap sebelum turun dari mobil. David hanya bisa menghela napas dengan mata terpejam.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tidak mau ketinggalan, David segera turun dari mobil dan mengejar Shazia masuk ke dalam.


Masih sampai halaman depan saja aura rumah itu sudah sangat jauh berbeda. Devid tidak meletakkan pengawal di halaman depan seperti yang pernah dilakukan oleh David. Pria itu merasa kalau dia bisa melindungi dirinya sendiri kalau saja ada musuh yang datang.


Shazia mendorong pintu utama dengan kasar hingga pintu itu terbuka lebar. Devid dan Logan yang kebetulan ada di ruang depan segera melempar pandangan mereka ke arah pintu.


"Pria bajingan! Keluar kau!" teriak Shazia dengan tatapan menantang.


Pertama kali melihat wajah Shazia, Devid tersenyum dengan wajah bahagia. Berbeda dengan Logan yang ingin cepat-cepat memberi pelajaran kepada Shazia.


Shazia mengitari ruangan tersebut hingga akhirnya tatapan mereka saling bertemu. Tanpa pikir panjang lagi Shazia berjalan mendekati Devid untuk menyerang pria itu dengan tangan kosong. David yang baru saja muncul tidak mau kalah. Ia mengikuti Shazia dari belakang. Walau ilmu bela diri yang ia miliki tidak terlalu bisa di handalkan. Tapi David bertekad untuk melindungi istri yang ia sayangi.


"Nona Shazia ... senang bertemu denganmu. Selamat datang di rumah kita." David merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Shazia. Tapi, tentu saja Shazia tidak mau masuk ke dalam pelukan Devid. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Devid dengan penuh kebencian.


"Pria tidak tahu malu! Apa kau begitu miskin hingga harus merampok rumah orang lain seperti ini?" ledek Shazia.

__ADS_1


"Miskin?" Devid mengeryitkan dahi. "Sepertinya saudara kembarku ini bisa menjelaskannya. Sebenarnya seluruh harta ini milik siapa."


"Semua harta dan aset perusahaan yang aku miliki atas namaku, Devid! Kau tidak memiliki hak di dalamnya karena namamu sudah lama hilang!"


"Hilang?" Devid tertawa meledek. "Yang sejak dulu menghilang itu kau, David. Bukan aku!"


"Oh ya? Bagaimana kalau sekarang aku bisa membuatmu menghilang?" ancam Shazia.


"Tidak semudah itu! Apa yang bisa yang kau lakukan? Kau mau menyerangku bersama geng mafia milikmu itu?"


David kaget ketika mendengar perkataan Devid. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Shazia adalah big Boss sebuah geng mafia. Walau memang David sendiri tidak terlalu mengerti bagaimana kehidupan The Felix selama ini.


"Tidak! Untuk menyingkirkan pria sepertimu aku tidak butuh The Felix." Shazia berjalan mendekat dan meletakkan satu tangannya di dada Devid. Tatapannya begitu menggoda. "Aku sendiri masih sanggup menghadapi pria brengsek seperti dirimu."


David menarik tangan Shazia hingga wanita itu mundur. Ia sangat cemburu melihat tangan istrinya menyentuh tubuh pria lain.


"Di sebuah tempat yang sangat indah."


David mendekati Shazia untuk membisikkan sesuatu. "Shazia, kau tidak berpikir untuk pergi berduaan dengannya Kan?"


Shazia tersenyum. "Aku akan baik-baik saja."


Devid mengulurkan tangannya. "Ayo Nona. Saya akan mengantarkan anda ke tempat yang anda inginkan."


"Tidak perlu. Biar saya yang mengantarkan anda ke tempat indah tersebut." Shazia memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Sedangkan David berusaha mengejar namun Logan menahan gerakannya. "Sebaiknya anda tetap di sini. Biarkan Tuan Devid menikmati Nona Shazia hari ini."


BRUAKK


Satu pukulan mendarat di wajah Logan. "Jaga bicaramu atau aku akan membunuhmu!" ancam David sebelum pergi mengejar Shazia dan Devid.


Setibanya di depan rumah, Devid benar-benar kaget ketika ia melihat sebuah tronton parkir di halaman rumah. Alisnya saling bertaut karena ia sempat berpikir kalau mereka akan pergi dengan mobil sport. Leah yang sudah ada di sana tersenyum dengan tangan terlipat di depan dada. Bahkan beberapa pasukan The Felix juga sudah ada di sana untuk melakukan tugas mereka.


"Naiklah!" ajak Shazia sebelum ia memanjat dan masuk ke dalam tronton. Shazia duduk di balik kemudi dengan sangat nyaman. Devid melirik Logan sekilas sebelum naik ke atas tronton. Ia merasa sangat percaya diri kalau kali ini bisa mengalahkan Shazia dan menjadikan Shazia miliknya.


David menahan langkah kakinya dengan wajah geram. Ia tidak setuju jika Shazia harus pergi berduaan bersama Devid. Namun, ketika mobil Shazia melaju Leah dengan cepat menahan David agar tidak mengikuti dari belakang.


"Tuan, kita harus membebaskan Tuan Albert!"


David menghempaskan tangan Leah. "Mereka mau ke mana!"


"Nona Shazia pasti akan baik-baik saja, Tuan."


Logan juga sudah menyiapkan pasukan miliknya. Ia tahu setelah ini dirinya yang akan berada dalam bahaya.


"Kalian tidak akan bisa melepaskan Albert begitu saja!" ujar Logan.


"Siapa bilang?" ujar Leah penuh percaya diri. "Tuan, sebaiknya pikirkan nasip anda. Karena sekarang anda sendirian."


"Sendirian?" Logan memandang pasukan yang ada di belakangnya. Namun, tiba-tiba saja mereka semua mengangkat senjata api dan mengarahkannya ke arah Logan. Kali ini Logan kalah cepat dengan Leah. Tanpa di sadari sejak semalam Leah sudah ada di rumah itu untuk mengganti pasukan milik Logan dengan The Felix.

__ADS_1


"Sekarang, siapa yang kalah?" ledek Leah lagi.


__ADS_2