
David dan Albert duduk di sebuah kursi yang ada di pinggir ranjang Devid. Mereka menatap Devid dengan tatapan tidak terbaca. Tadi saat dokter selesai melakukan pemeriksaan, dokter tersebut bilang kalau keadaan Devid kembali buruk karena asupan gizinya kurang dan ia mendapat banyak penyiksaan di sekujur tubuhnya.
David yang mendengar hal itu merasa sangat sedih. Ia merasa datang terlambat untuk menolong Devid. Walau memang sekarang Devid sudah bersama dengannya. Tapi tetap saja David masih belum puas membalas perbuatan Logan. Ia terus memikirkan cara untuk membuat Logan hancur. Bahkan pria itu berniat untuk mengambil kembali segala harta benda Devid yang kini dikuasai oleh Logan.
"Bos, apa rencana anda?" tanya Albert saat beberapa menit mereka hanya duduk membisu.
"Sejauh ini aku ingin mencari tahu tentang keberadaan Logan. Di mana persembunyiannya dan apa saja yang ia lakukan. Aku akan memikirkan cara selanjutnya nanti," jawab David.
Ponsel David berdering. Pria itu segera mengambil ponselnya dari dalam saku. Bibirnya tersenyum ketika melihat nama Shazia terukir manis di sana. Dengan sigap David berjalan ke arah jendela dan mengangkat panggilan masuk tersebut.
"David ... kenapa kau tidak menghubungiku? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan rencanamu? Apa berhasil?"
David tersenyum bahagia karena dari gaya bicara Shazia terlihat jelas kalau wanita itu sangat mengkhawatirkannya saat ini.
"Sayang, aku baik-baik saja. Rencana yang aku persiapkan berjalan mulus. Kau benar, rumah itu tidak akan kosong. Logan muncul secara tiba-tiba dan ingin menembak kami tadi."
"Ya, itu cara murahan yang sering di pakai preman kelas teri seperti Logan. Aku sudah bisa menebak apa yang akan ia lakukan," jawab Shazia santai.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang. Jika saat itu kau tidak memberitahuku, aku tidak tahu bagaimana nasipku tadi," ujar David dengan bahagia.
"Kau akan selalu baik-baik saja, David. Istrimu ini tidak akan membiarkanmu berada dalam bahaya. Satu pukulan akan aku balas dengan seratus pukulan," ucap Shazia mantap.
"Ya ya ya. Istriku yang jagoan. Aku percaya kalau kau tidak akan membiarkan suamimu ini berada dalam bahaya. Tapi, apa boleh aku meminta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Aku ingin di depan semua orang. Tetap aku yang selalu melindungimu. Bukan kau yang melindungiku. Harga diriku bisa jatuh jika seperti itu," ujar David dengan serius.
Shazia tertawa geli mendengar apa yang baru saja dikatakan David. "Baiklah. Itu semua bisa di atur."
"Aku akan baik-baik saja, David. Lagian, ada seseorang yang pastinya ingin bertemu dengan Devid."
"Seseorang? Siapa?" tanya David penasaran.
"Eva. Nanti setelah kau tiba di rumah akan aku ceritakan semuanya. Yang terpenting sekarang, kembalilah secepatnya karena aku tidak bisa tenang jika kau berada jauh seperti ini."
__ADS_1
"Kau merindukanku, Hemm?" ledek David.
"Tidak," jawab Shazia cepat.
"Baiklah sayang, suamimu ini akan segera pulang. Malam ini aku ingin kau memakai gaun yang warna hitam. Sepertinya lebih menantang," ujar David tanpa sadar kalau di sana ada Albert yang dengan setia mendengar apa yang dikatakan oleh David.
"David ... kau pria mesum! Cepat kembali."
"I love you, Shazia." David mengecup ponsel ya berulang kali. Pria itu terlihat seperti pria bodoh di depan Albert.
Setelah ponselnya kembali ke dalam saku, David dan Albert saling memandang. David terlihat salah tingkah atas perilakunya sendiri.
"Apa yang kau lihat?" ketus David kepada Albert.
"Saya tidak mendengar apa yang anda bicarakan bos. Beneran," dusta Albert dengan gugup. "Saya juga tidak dengar saat anda bilang gaun hitam."
David menggeram. "Albert, apa kau mau gajimu bulan ini aku potong 50 persen?"
__ADS_1
Albert segera beranjak dari kursinya. "Bos, saya harus menemui dokter untuk menanyakan soal kepulangan tuan Devid," potong Albert cepat sembari berlari kencang meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan David hanya bisa menghela napas kasar melihat tingkah laku Albert.
"Kalau bukan karena pengawal kesayangan, sudah aku pecat sejak dulu!" umpat David pelan.