
(POV. Anggara)
Hatiku begitu terenyuh melihat kenyataan Nina yang harus berpisah dengan buah hatinya. sungguh sangat tega lelaki yang aku kenal bernama Andrea. sampai hati sekali dia memisahkan dan membuat sedih darah dagingnya sendiri karena harus berpisah dengan ibunya.
Apa tidak terfikir olehnya, bagaimana susahnya mengurus bayi yang baru berumur beberapa bulan. bagaimana jika dia haus ingin minum asi, padahal sepertinya Rena juga belum dikasih makan, bagaimana jika dikasih susu formula dia tidak cocok dan bagaimana juga bila bayi itu menangis terus saat malam.
Saat fikiranku memikirkan kondisi Nina dan bayinya. Tiba-tiba aku mendengar teriakan Jhon yang meminta polisi untuk menangkap Andrea. Entah bagaimana ceritanya, Rena yang dari tadi menangis histeris telah ada dalam gendongan Jhon dan Andrea telah jatuh tersungkur.
Yang aku tidak habis pikir, bukannya tadi Jhon ada didekatku. Kami tadi berusaha menyaksikan secara diam-diam apa yang sedang terjadi. Entah sejak kapan Jhon mengendap-endap hingga akhirnya dia sudah sampai berada diteras rumah Andrea dimana Andrea tengah menyandra Rena.
Belum juga habis rasa panikku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara tembakan dari lelaki yang tadi menodongkan pistol kepada Nina sejak Nina keluar dari dalam rumah yang ditempati oleh Andrea. Aku mengenal lelaki itu, dia adalah Roky, mantan orang kepercayaanku yang telah menghianatiku dan membuat aku jatuh miskin.
Belum lagi habis rasa terkejutku, kembali dadaku seperti berhenti berdetak saat menyaksikan tubuh Jhon ambruk bersimbah darah sambil memeluk tubuh kecil Rena yang masih menangis. Rupanya Roky tadi melepaskan tembakannya mengenai tubuh Jhon.
Dengan sigap polisi langsung bereaksi, ada yang menangkap Andrea yang dalam keadaan jatuh tersungkur. Sedangkan beberapa polisi yang lain langsung menembak tangan Roky yang memegang pistol hingga pistolnya terlepas dari tangannya dan terlempar beberapa meter. Polisi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. mereka langsung meringkus Roky dan memborgol kedua tangannya.
Bersamaan dengan itu Nina berteriak histeris menyebut nama Jhon dan pak Hamidan berlari kearah Jhon yang ambruk diam tak bergerak. Pak Hamidan langsung mengambil Rena yang ada dalam pelukan Jhon. Sedangkan Nina menangis histeris memeluk tubuh Jhon, dia tidak perduli bajunya yang berwarna putih bersih ikut terkena noda darah yang berasal dari tubuh Jhon.
"John bangun...Jhon jangan tinggalkan aku, terimakasih kamu telah menolong Rena. Aku percaya cintamu pada kami begitu besar hingga kamu rela berkorban sedemikian rupa, " Nina terus menangis dan menggoyang-goyang tubuh John yang tak bergerak.
"Maafkan papa John, papa telah berfikir buruk padamu. bangunlah John, aku janji akan menikahkan kamu dengan Rena jika engkau bangun nanti. Maka dari itu berjuanglah untuk hidup Jhon, jangan tinggalkan putri dan cucuku mereka sangat menyayangimu," ujar pak Hamidan sambil berlinang air mata. Dalam gendongannya Rena mulai tenang dan tak lagi menangis.
__ADS_1
Setelah mendengar tembakan beberapa kali, warga yang ada di sekitar situ berdatangan untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi. Pak RT setempat menanyakan kepada polisi tentang apa yang telah terjadi. Satu orang polisi menginformasikan tentang apa yang terjadi.
Dimana Andrea yang telah menculik Nina dan anaknya sendiri, kemudian di bawa kerumah itu yang ternyata milik Roky menurut keterangan pak RT. Hingga polisi mendapatkan laporan dari yang bersangkutan dan pada akhirnya polisi mampu meringkus pelaku penculikan anak dan ibunya tersebut.
Selanjutnya polisi langsung memasukan Roky dan Andrea yang tangannya telah diborgol kedalam mobil polisi yang baru saja datang bersamaan dengan mobil ambulan dari rumah sakit terdekat.
Beberapa tim medis langsung memberikan pertolongan pertama pada John yang sudah tidak bergerak lagi, namun denyut nadinya masih terasa lemah, kemudian mereka mengangkat tubuh Jhon kedalam mobil ambulan.
Dengan kecepatan tinggi mobil ambulan meninggalkan tempat Kejadian perkara. Aku, Nina dan pak Hamidan yang masih menggendong cucunya yang tengah tertidur, masuk kedalam mobil dan bersama-sama menuju kerumah sakit dimana Jhon dibawa kesana.
Aku mengambil hand phone yang aku simpan dalam saku celanaku. kulihat jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Elena. Suasana tegang ditempat kejadian tadi membuat aku lupa mengabari istriku. padahal beberapa kali dia berpesan agar mengabarkan apa yang terjadi.
Segera saja aku melakukan panggilan pada istriku. Dia pasti tidak bisa tidur menunggu kabar dariku.
Sederet pertanyaan keluar dari mulut Elena istriku. sepertinya dugaanku benar, dia pasti belum tidur dan sedang menunggu kabar dariku.
Nina yang duduk disampingi langsung menengok kearahku. Aku meloud speaker karena sepertinya Nina juga ingin bicara dengan istriku.
"Ini Nina dan Rena sayang, mereka semua sudah bersama kami dalam keadaan selamat dan baik-baik saja"
Aku langsung mengarahkan layar ponselku untuk menyoroti Nina dan pak Hamidan yang tengah menggendong Rena yang tertidur pulas.
__ADS_1
"Syukurlah kalau Nina dan Rena telah ditemukan, bagaimana kabarmu Nina"
Elena memandang Nina seraya tersenyum, sepertinya dia merasa lega. Berbeda dengan Nina, tangisnya langsung pecah. sepertinya dia tak sanggup lagi menanggung beban mengingat Jhon lelaki yang baru siang tadi sepakat untuk menjalin hubungan dengannya. Kini dalam kondisi kritis, lelaki itu sedang berjuang untuk melawan rasa sakit akibat peluru yang menembus dada sebelah kirinya.
"Jhon....Elen... Jhooon.... dia dibawa kerumah sakit dalam kondisi kritis karena kena tembak," Nina langsung menceritakan semua yang terjadi pada Jhon secara detail tanpa ada yang ketinggalan sedikit pun.
Seketika mata istriku tampak berkaca-kaca, sepertinya dia ikut hanyut dengan apa yang diceritakan Nina kepadanya.
"Sudah kalian jangan terus menangisi, alangkah baiknya jika kalian terus mendoakan Jhon. semoga saja Jhon bisa melewati masa kritisnya dan bisa sembuh seperti sedia kala dan bisa bermain dengan kita lagi," ucapku kepada Nina dan istriku diseberang sana.
Nina dan Elena istriku setuju kami bersama-sama berdoa untuk kesembuhan Jhon setelah aku mengakiri panggilan telepon pada Elena.
Mobil yang kami tumpangi yaitu milik pak Hamidan terus melaju dengan kecepatan tinggi mengikuti ambulan yang berlari di depan mobil kami. sementara dibelakang mobil kami iring-iringan polisi berpakaian preman mengikuti.
Beberapa saat kemudian, kami telah sampai halaman rumah sakit. Ambulan yang membawa John langsung menuju depan UGD. sedangkan supir yang membawa kami berhenti diparkiran.
Dengan segera kami semua turun dari mobil kemudian berjalan dengan tergesa menuju Ke UGD dimana disana tubuh Jhon sedang dikeluarkan oleh petugas rumah sakit. mereka mengangkat Jhon dan membaringkannya disebuah brankar kemudian dua orang mendorong menuju ruang tindakan.
Dengan perasaan sangat sedih kami mengikuti Brankar yang disana terdapat John yang terbaring pucat tanpa daya.
"Jhoon.... Jhoooon....anakku, jangan tinggalkan ibu nak, ibu tidak bisa hidup tanpa kamu, ibu sayang kamu nak, " seorang wanita setengah baya dengan penampilan sederhana berusaha akan memeluk tubuh Jhon. namun segera dihalangi oleh petugas.
__ADS_1
******