
Aku sangat terkejut menyaksikan apa yang dilakukan pak Rahmat, namum aku juga tidak heran melihat pak Rahmat sama sekali tidak bisa diajak bermusyawarah untuk mendapatkan solusi terbaik, mengingat nenek Rabi juga sulit diajak bicara baik-baik, dia hanya mau keinginan dipenuhi tanpa peduli bagaimana nasib orang lain.
"Keterlaluan sekali pak Rahmat, ternyata dia dan ibunya sama saja, egois, tidak peduli dan tidak mau tau. Dia cuma memikirkan ibu dan keluarganya saja, tidak mau tahu bagaimana perasaan orang lain," gerutu bu kades.
"Sudah bu tidak apa-apa, ini memang kesalahan kami, jadi biar kami mencari solusi lain untuk menyelesaikan masalah ini," ucapku untuk menenangkan bu kades.
Bu kades dan warga lainnya terus menggerutu menyatakan rasa kesalnya pada keluarga nenek Rabi. Namun aku dan kak Anggara hanya diam saja tidak mau terprofokosi oleh mereka.
Kami kemudian memutuskan pulang setelah pamit dan mengucapkan terimakasih atas bantuan bu kades dan beberapa warga. Karena berkat bantuan mereka kami bisa bertemu dengan anak dari nenek Rabi, walaupun permohonan maaf kami kepada keluarga nenek Rabi mendapatkan penolakan.
Memerlukan waktu seminggu bagi ayah untuk memulihkan kondisinya seperti sedia kala. Bersamaan dengan itu Devan dan Dila pulang kerumah saat aku dan kak Anggara datang dari menjemput ayah dan ibu dari rumah sakit. Selama seminggu ini ibu terus mendampingi ayah dirumah sakit tanpa pulang sama sekali.
Dila dan Devan menyambut kami diteras rumah, kedua adikku menyalamiku dan suamiku. Kemudian Dila dan Devan menyalami dan mencium tangan ibu lalu mereka berdua langsung memeluk ibu.
"Ibu yang sabar ya bu, Dila benar-benar tidak menyangka kalau ayah tega mengkhianati ibu, " ucap Dila sembari terisak.
"Ibu tenang saja ada Devan yang akan selalu siap menjaga ibu. Sebagai anak lelaki satu-satunya Devan siap bekerja agar bisa menafkahi ibu, seandainya nanti ayah dan ibu bercerai," ujar Devan sangat emosi.
"Sudah-sudah, jangan ngomong macam-macam dulu, lebih baik kita masuk dulu. Kalian jangan langsung berkomentar yang tidak baik. Karena kabar yang kalian dengar belum tentu sesuai kenyataan yang terjadi"
__ADS_1
Ibu berjalan sambil merangkul pinggang kedua anak kembarnya, karena sepertinya Dila dan Devan enggan menyalami ayah. Mungkin kedua adikku telah mendengar kabar tidak sedap mengenai ayah dari berita di tivi ataupun di media sosial. Usia yang terlalu muda mungkin yang membuat mereka tidak mampu berfikir jernih dan lebih menggunakan perasaan dalam menyikapi masalah ini.
Aku, ayah, ibu Dila dan Devan, kami sekeluarga duduk di ruang tengah. Sementara kak Anggara masuk keruang kerjanya untuk bekerja dari rumah. Setelah semuanya siap mendengarkan, ibuku mulai bicara untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi. Semua ibu ceritakan kepada Dila dan Devan, agar mereka mengerti masalah yang sedang dihadapi kedua orang tuanya.
"Ibu harap kalian berdua jangan terus menyalahkan ayahmu, kalau memang ada yang harus disalahkan, salahkanlah ibu. Karena ibu adalah sumber awal datangnya masalah dikeluarga ini.
Ibu minta maaf pada kalian, seandainya ibu bisa menjadi istri yang baik sejak dulu, mungkin masalah ini tidak terjadi," ujar ibu dengan suara serak menahan tangis.
Devan yang semula menunduk, kini mengangkat wajahnya perlahan. Dia tatap wajah ayah dengan mata berkaca-kaca. Kemudian satu-satunya anak lelaki ayah melangkah mendekati ayah dan bersimpuh dihadapan ayah.
"Sebagai anak lelaki ayah satu-satunya, Devan merasa sangat malu pada ayah, karena telah tega berprasangka buruk pada orang yang Devan paling banggakan di dunia ini. Ternyata Devan belum bisa berfikir dewasa, Devan masih dikuasai oleh emosi saat mendengar kabar tentang ayah dan bagaimana menyakitkan ucapan orang diluar sana.
Ayah hanya tersenyum dan mengusap pucuk kepada Devan sambil terkekeh membuat wajah Devan semakin memerah menahan malu.
"Jujur ayah sangat bangga memilikimu Devan. Apa yang kamu lakukan barusan menunjukkan kalau ayah dan ibu telah sukses dalam mendidikmu menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Lelaki yang bisa diandalkan dalam keluarga kita, sebagai pengganti ayah yang siap melindungi kedua saudara perempuanmu Dila dan Elena, juga ibumu.
Tapi usiamu yang masih muda dan jam terbangmu yang belum tinggi, membuat emosimu gampang meluap kala mendengar berita kurang sedap, apalagi saat mendengar komentar buruk dari orang luar tentang keluarga kita.
Ayah berharap agar kamu belajar mengendalikan emosi. Kamu juga harus senantiasa tenang dalam menghadapi masalah dan saat mendengar kabar yang kurang sedap tentang diri kamu dan orang-orang yang kamu sayangi.
__ADS_1
Ketahuilah nak, saat jiwamu dikuasai emosi maka kewarasanmu akan terganggu. Sehingga kamu tak lagi mampu berfikir jernih untuk menganalisa apakah kabar itu benar atau salah.
Seperti saat kamu mendengar kabar tentang ayah baik dari teman-temanmu atau pun dari media sosial. Seandainya waktu itu kamu mampu berfikir jernih dan flashback kebelakang, kamu pasti kenal siapa ayah kan?
Pernahkah ayah menyukai perempuan lain selain ibumu? Pernahkah ayah mengkhianati kesetiaan ibumu? Apa pernah kamu melihat ayah bermain gila dengan wanita lain? Tidak pernah bukan?
Selama mengenal ibumu dan menjalin hubungan cinta kasih hingga kami menikah. Ayah selalu menjaga hati ayah untuk ibumu. Ayah berbicara seperti ini bukan karena merasa ayah selalu benar. Sebenarnya ayah juga sangat bersalah karena telah menceritakan perihal rumah tangga ayah pada orang lain, apalagi ayah bercerita pada lawan jenis dan kebetulan tanpa ayah ketahui ternyata sudah sejak lama wanita itu memendam rasa sama ayah.
Tapi ayah harap kesalahan yang ayah lakukan ini bisa menjadi pelajaran bagi anak-anak ayah semua, agar jangan mudah menceritakan atau berkeluh kesah kepada orang lain terutama lawan jenis perihal masalah rumah tangganya. Karena bisa membuat orang yang tidak suka kepada kita punya celah untuk menghancurkan rumah tangga kita," ayah menasihati kami panjang lebar.
"Betul itu yang ayah katakan, dan yang suka curhat dan ngerumpi membicarakan suaminya itu ya istri. iya kan yah," kak Anggara ternyata telah duduk disampingku dan tiba-tiba dia menyahut.
"Tidak semua istri juga yang melakukannya, buktinya ayah juga melakukan. Memang kakak enggak pernah melakukannya, " sahutku kesal, kulihat yang lain menahan senyum.
Kata ayah yang suka menceritakan rahasia rumah tangganya memang kebanyakan istri. Namun sering juga dilakukan oleh seorang suami. Jadi baik istri maupun suami harus bisa menahan diri agar tidak mudah menceritakan masalah dalam rumah tangganya.
Sebaiknya masalah rumah tangga diselesaikan berdua saja dan hanya mereka berdua saja yang tahu, menurutku sih.
*******
__ADS_1