
Aku merasa kagum pada bu Tuti, karena dia sudah menyadari dimana letak kesalahannya. Menurut ibuku Perselingkuhan Tuti dengan mantan pacarnya itu merupakan hal yang wajar, karena suaminya tidak mencintainya dengan setulus hati.
Tapi kalau menurutku apa yang dilakukan Tuti tidak ada benarnya sama sekali. Karena menikah tanpa cinta bukanlah hal buruk, seperti saat awal aku menikah dengan kak Anggara, tak ada cinta sama sekali dihatiku untuk suamiku.
Namun walau aku tak mencintai suamiku, tak ada niat sedikitpun untuk berselingkuh. Karena aku tahu syarat sebuah pernikahan, bukanlah saling mencintai. Kita menikahi seseorang juga bukan karena saling mencintai, namun karena adanya kecocokan dalam menjalani hidup, ada persamaan visi dan misi untuk mencapai arah dan tujuan yang sama dalam menjalani hidup ini.
Pernikahan bertujuan untuk ibadah bukan semata-mata untuk menghalalkan perzinahan. Pernikahan juga mempunyai tujuan antara lain untuk mendapatkan keturunan yang sah secara agama, dan hukum pemerintah, Untuk mendapatkab rasa tentram, untuk menjaga kehormatan dan lain-lain. Tapi seringkali kita temui dimasyarakat orang menikah karena sang mempelai wanita sudah terlanjur berbadan dua. Jadi seandainya si wanita tidak hamil mereka akan terus berzina tanpa ada niatan menikah.
Kalau melihat dari situ aku merasa bersyukur karena gagalnya pernikahan aku dengan Andrea yang selalu menuntutku untuk berhubungan badan sebelum menikah.
Masih jelas dalam ingatanku, saat kak Anggara melamarku, aku menerimanya dengan barbagai pertimbangan. Aku tidak ingin membuat kedua orangtuaku malu karena gagalnya pernikahanku dengan Andrea. Dalam pernikahan apapun yang kita lakukan pada suami selama itu baik maka mempunyai nilai ibadah, itulah sebabnya aku tidak ingin pernikahanku tertunda. Mumpung ada lelaki yang kurasa baik melamarku, ya sudah aku terima saja.
Saat itu aku berniat akan mencintai siapapun yang jadi suamiku nantinya. Andai aku tak mampu mencintainya, aku akan tetap melayaninya dengan baik, dan mungkin itu adalah ujianku dalam berumah tangga. Selama suamiku menjalankan tugasnya dengan baik dalam artian menafkahi, menjadi imam untuk istri dan anaknya. Maka akupun akan selalu menjadi istri yang baik dengan ada ataupun tidak adanya cinta.
Aku mencoba menasihati bu Tuti sebisanya, sesuai yang aku yakini. Tidak lupa juga aku menyarankan kepada bu Tuti agar senantiasa bersyukur memiliki suami yang baik dan bertanggung jawab. Rajin mencari uang untuk menafkahi anak dan istrinya agar hidupnya sejahtera.
"Ibu benar, kenapa saya baru sadar sekarang ya, seandai saya menyadari itu dari dulu, mungkin saya tidak akan berselingkuh dengan mantan. pacar. Sekarang bila ingat apa yang aku lakukan dengan mas Tirta, aku jijik sekali dengan tubuh ini, rasanya tubuh ini sudah kotor, untung saja suamiku masih mau menerimaku kembali," ucap bu Tuti yang seperti menyesali perbuatannya.
"Yakin ibu menyesal, bukannya ibu bangga pernah bercinta dengan Tirta yang lebih kaya dan lebih memuaskan dari aku," ujar pak Sentul, terkekeh, Lelaki itu benar-benar tulus memaafkan istrinya.
"Kamu tidak perlu semenyesal itu Tuti. Karena ada hikmah besar dibalik berselingkuhnya kamu. yaitu sekarang suamimu sadar kalau kehadiranmu sangat berarti dalam hidupnya. Kamu sekarang jadi tahu lelaki yang keganjenan sama perempuan lain ternyata takut juga kehilangan istri. Bukannya selama seperti tidak peduli sama istrinya.
__ADS_1
Coba kalau kamu menerima saja hatinya diisi oleh wanita lain, mungkin seumur hidup kehadiranmu juga tidak dianggap, karena dia sibuk memikirkan kekasih bayangan. Padahal yang asli selalu menanti, " seloroh ibuku.
"Iya...ya, ternyata selingkuh juga membawa kebaikan, suamiku jadi jatuh hati kepadaku, makin hari dia makin mencintaiku," ucap bu Tuti lagi membuat tawa semua orang yang ada dikamar pecah.
Kriiing! Kriiing!
"Halo!"
Ternyata ponsel pak Sentul yang berbunyi, dia langsung mengangkatnya.
"Iya Tirta, ini sedang diurus, kami lagi di kantor pengadilan, memasukkan berkas perceraian tapi ternyata ada yang salah, jadi kami akan perbaiki, mungkin lusa akan dimasukkan kembali," jawab pak Sentul.
Selanjutnya aku tidak mendengar suara orang yang ada diseberang sana, karena pak Sentul tidak meloud speaker.
"Iya. iya Tirta, , saya akan segera selesaikan, saya janji. untuk apa saya berlama-lama, saya juga sedang menunggu surat cerai agar cepat menikah dengan kekasih saya," sahut pak Sentul dan langsung mengakhiri pembicaraannya ditelepon.
Selesai menerima telepon, pak Sentul langsung menceritakan bahwa itu adalah telepon dari Tirta seling*kuhan istrinya. Lelaki itu terus mendesak agar dia secepatnya menceraikan bu Tuti. Bahkan tadi dia sempat mengancam akan menghabisi dia dan kedua buah hatinya tanpa jejak lewat orang suruhannya.
Mendengar cerita Suaminya bu Tuti merasa sangat bersalah. Sepertinya dia sangat menyesali karena perbuatannya sekarang nyawa anak dan suaminya menjadi terancam.
"Maafkan aku mas Sentul, karena ulahku yang tidak pernah memikirkan baik dan buruknya dampak dari perbuatanku. Saat itu aku hanya memikirkan kesenangan pribadi tanpa memikirkan anak-anak kita apalagi kamu mas.
__ADS_1
Aku tidak menyangka Tirta yang sekarang sungguh berbeda dengan Tirta yang aku kenal dahulu. Dulu setahuku dia lelaki yang baik dan tidak punya teman-teman pelaku kriminal. Apalagi sampai mempunyai geng yang beranggotakan para mafia"
Tuti menangis tersedu menyesali segala perbuatannya. Aku yang baru saja menidurkan Adam diranjang bayi, bergerak mendekatinya.
"Yang sabar bu Tuti, mungkin ini sudah menjadi takdir dalam perjalanan hidup ibu. Yang terpenting ibu sekarang telah menyadari kalau perbuatan ibu sama sekali tidak benar. Ibu harus ingat kalau tidak ada rumah tangga yang bahagia apabila diawali dengan kebohongan, perseling*kuhan, apalagi ada yang merasa terzolimi dengan yang ibu lakukan. Keputusan ibu kembali kepada suami dan anak-anak sudah benar dan semoga hal ini tidak terulang lagi," ujarku menenangkan bu Tuti.
Kringgg! kriiing!
"Halo
Wa Allaikum Sallam
Jhon ada apa," sapa suamiku pada Jhon dalam sambungan telepon membuat kami semua memandang kearahnya. Dia langsung meloud speaker pembicaraannya dengan Jhon.
"Bos menurut ibuku diluar pulau Tirta sudah mempunyai istri dan anak, jadi status Tuti adalah selingkuhan Tirta. Sebenarnya tidak ada niatan Tirta untuk menikahi Tuti, dia cuma mau Tuti bercerai dengan suaminya, kemudian meninggalkannya pulang kepulau istrinya berasal, itu menurut ibu saya sebagai tempat Tirta curhat sejak kecil, karena ibu adalah pengasuh Tirta sejak Tirta baru lahir, " setelah mengatakan itu, Jhon pun mengakhiri sambungan jarak jauhnya dengan suamiku.
Mendengar apa yang diceritakan Jhon tentang Tirta, Tuti langsung menangis histeris.
"Kurang ajar kamu Tirta, ternyata busuk sekali hatimu. Aku benar-benar tertipu dengan mulut manismu. Aku tidak bisa menerima apa yang kamu lakukan Tirta, lihat saja aku akan menghancurkanmu bagaimana pun caranya"
Tiba-tiba Tuti mengambil kunci mobil yang ada di dalam saku jaket suaminya dan berlari keluar menuju kemobilnya.
__ADS_1
***